Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mendikbud Nadiem Makarim
Dream - Empat Kementerian, yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri memutuskan untuk kembali membuka sekolah pada Januari 2020, tepatnya di semester genap.
Keputusan untuk membuka sekolah meski masih pandemi ini diumumkan 20 November 2020 lalu. Tak dipungkiri hal ini memunculkan kekhawatiran orangtua terhadap kesehatan anak-anaknya. Mengingat risiko tertular Covid-19 akan meningkat jika anak keluar rumah.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, mengungkap salah satu hal yang jadi pertimbangan dalam memutuskan pembukaan sekolah saat pandemi. Menurutnya risiko psikososial yang dihadapi anak-anak jika sekolah tak kunjung dibuka terlalu besar.
" Dampak psikososialnya luar biasa besar, bisa permanen, stres, isolation, merasa kesepian, gak ketemu temennya. Emosional sama pentingnya dengan kognitif. Tak bisa dipisah," ungkap Nadiem dalam Live Instagram bersama @maudyayunda, beberapa hari lalu.
Kondisi ini terutama di daerah-daerah terpencil di Indonesia, di mana akses internet masih sulit. Guru dan murid sulit melakukan pembelajaran jarak jauh dan sangat dibutuhkan tatap muka untuk transfer ilmu.
" Mengembalikan keputusan itu kepada Pemda yang menentukan. Mana yang boleh dibuka atau tidak, tapi dengan izin, Pemda harus say yes, Kepala sekolah harus approval dan Komite Sekolah dalam hal ini perwakilan orangtua, ujung-ujungnya keputusan ada di orangtua," kata Nadiem.
Bagaimana jika orangtua tak mengizinkan anaknya ke sekolah saat pandemi? Menurut Nadiem hal itu adalah hak orangtua dan tak boleh dipaksa.
" Bahkan kalau Komite Sekolah, perwakilan orantuanya bilang boleh buka, dan sudah nyaman, kalau ada satu orangtua yang gak mau anaknya pergi ke sekolah dan melaksanakan PJJ (pembelajaran jarak jauh-red) saja, itu diperbolehkan. Tidak bisa dipaksa," ungkap Nadiem.
Ayah dua anak kembali mengingatkan para orangtua untuk tidak stres. Buatlah keputusan yang bijak dan tanpa paksaan terkait pendidikan dan kesehatan anak-anak.

" Jangan stres, ini hak Anda, kalau Komite Sekolah ternyata keputusannya untuk membuka itu hak Anda. Gak perlu dari situ merasa terpaksa, tidak ada paksaan," kata Nadiem.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya