Sempat Tidur di Gudang, Putri Pembantu Itu Lulus Cumlaude

Reporter : Eko Huda S
Minggu, 31 Mei 2015 13:31
Sempat Tidur di Gudang, Putri Pembantu Itu Lulus Cumlaude
Tak gampang bagi Devi untuk meraih prestasi cemerlang dengan IPK 3,99. Keluarga tergolong tak mampu, sehingga dia harus bekerja keras.

Dream - Devi Triarsari. Inilah mahasiswi Universitas Sebelas Maret Surakarta yang menyabet gelar misudawati terbaik. Nilainya nyaris sempurna, 3,99. Mahasiswi Fakultas Hukum ini mendapat angka luar biasa tersebut setelah menamatkan pendidikan di Fakultas Hukum selama 3,5 tahun.

Tak gampang bagi Devi untuk meraih prestasi cemerlang itu. Perjalanannya selama menempuh pendidikan sangat berliku. Gadis kelahiran Ngawi, 19 Desember 1991, ini harus berjuang eksta keras untuk berkuliah. Sebab, keluarganya tergolong kurang mampu.

" Ayah saya hanya seorang buruh dan ibu pembantu rumah tangga," tutur Devi sebagaimana dikutip Dream dari laman Pacitanku.com, Minggu 31 Mei 2015.

Kondisi itu membuatnya gamang. Setelah lulus dari SMK Negeri 1 Ngawi pada 2010, Devi seolah putus harapan. Dia tahu betul orangtuanya hanya buruh kecil. Tak akan mampu membayar uang kuliah. Itu pikirnya.

Karena itulah, kala itu Devi memutuskan bekerja. Dia melamar pada sebuah perusahaan kontraktor di Magetan. Diterima, dan kemudian bekerja sebagai tenaga administrasi. Dari kerja itulah dia bisa membantu keuangan keluarga. Meski alakadarnya.

Namun, pikiran untuk kuliah terus menggelayut. Tekadnya untuk mencecap ilmu semakin membaja. Dia selalu yakin, kehidupan akan berubah jauh lebih baik dengan ilmu yang tinggi. Dan salah satu jalannya adalah berkuliah.

Dorongan itu membawanya untuk mendaftar di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Gayug bersambut. Dia mendapat beasiswa yang berafiliasi pada sebuah perusahaan rokok. " Namun akhirnya saya tidak mengambilnya dan mencoba mendaftarkan diri melalui jalur SNMPTN tahun 2011," tutur dia.

Perjalanan Devi menembus UNS pun tak mudah. Pada 2011 itu, dia harus menginap pada sebuah gudang sebelum mengikuti ujian masuk. Sebab, dia tak memiliki satupun kerabat di Surakarta.

Uang untuk bermalam di penginapan pun tak punya. Gudang itulah satu-satunya alternatif kala itu. Untuk sekadar bermalam, berlindung dari dinginnya malam, selama menunggu jam ujian tiba keesokan hari.

Dan kerja keras itu akhirnya terbayar. Devi dinyatakan lolos ujian dan diterima di Fakultas Hukum UNS. Sudah begitu, dia mendapat beasiswa penuh melalui program Bidikmisi. Sehingga tak perlu membayar uang kuliah. Ia juga memperoleh uang saku sebesar Rp 600 setiap bulan.

Devi tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Pada semester satu, dia masih harus bolak-balik Solo-Magetan. Sebab masih harus bekerja. Namun, beban kuliah dan pekerjaan dirasa semakin berat. " Akhirnya saya putuskan keluar dari pekerjaan dan mencari kerja sambilan di Solo," tutur Devi.

Selama kuliah, apapun dia lakukan untuk membantu keuangan keluarga. Asal halal, dia jalani. Termasuk menjadi guru les. " Apapun saya jalani untuk dapat memberikan bantuan uang ke orangtua karena kuliah dan living cost sudah dibiayai dari Bidikmisi," ujarnya.

" Saya menjadi guru les, penjual pulsa dan apapun yang bisa menghasilkan uang asalkan halal," tambah Devi. Dan kini, dia sudah lulus. Menjadi sarjana hukum. Predikat lulusan terbaik dan IPK tertinggi disandangnya pada 2015 ini. Selamat!! (Sumber: Pacitanku.com)

Beri Komentar
Video Kondisi Terkini WNI dari Wuhan di Natuna