Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Tengah-kanan) Puji Lestari Dan Muhammad Zulham (Foto: Microsoft)
Dream - Dua pengajar Indonesia, Puji Lestari dari SD Muhammadiyah Terpadu Ponorogo dan Muhammad Zulham dari SMP 1 Sedayu Bantul dinobatkan sebagai guru inovatif sedunia. Mereka terpilih menjadi First Runner Up ajang Global Educator Challenge yang digelar Microsoft di Washington DC, Amerika Serikat.
Ajang ini digelar pada 29 April-1 Mei 2015. Sebanyak 300 pengajar dari 80 negara berkumpul dan saling bertukar pikiran di ajang ini.
Puji berhasil memukau dewan juri pada kategori Project Plan melalui program pembelajaran lingkungannya, sedangkan Zulham meraih penghargaan kategori Learning Activity dengan proyek Gallery Walk yang dibuatnya.
" Proyek yang saya tunjukkan dalam acara ini mengenai kampanye lingkungan bersih yang telah saya lakukan di sekolah bersama dengan para murid saya. Pertama, murid melakukan observasi di rumah mereka dan lokasi sekitar sekolah," ujar Puji, melalui keterangan tertulis diterima Dream.co.id dari Microsoft, Kamis, 28 Mei 2015.
Puji menerangkan, siswanya mencatat jenis mencatat jenis sampah yang ada dan penanganannya oleh masyarakat sekitar. Setelah masa observasi, kata dia, para siswa membuat brosur mengenai kebersihan dengan pesan utama reduce, reuse dan recycle agar dapat ditiru dan diterapkan masyarakat sekitar," kata dia.
Sementara Zulham membuat proyek Gallery Walk untuk meningkatkan keterlibatan siswa yang kurang aktif di kelas. Proyek ini dia mulai sejak tahun 2013 lalu.
Dalam proyek ini, Zulham membagi siswa menjadi dua kelompok. Satu kelompok bertugas menjaga booth dan mempresentasikan proyek, sedangkan kelompok satunya bertanya pada penjaga booth.
" Untuk membuat proyek ini mereka menggunakan berbagai teknologi, termasuk smartphone untuk mengakses informasi di internet. Melalui proyek ini, anak-anak dapat belajar menggunakan teknologi dan kemampuan komunikasi verbal mereka juga terasah,” kata dia.
Terkait dengan kompetisi sendiri, Puji dan Zulham mengaku begitu senang. Ini lantaran mereka dapat bertemu dengan guru dari seluruh dunia dan berbagi teknik dan pengalaman mengajar yang begitu variatif.
" E2 Global Educator Exchange yang diselenggarakan Microsoft adalah kesempatan yang luar biasa bagi saya dan sekolah untuk mendapatkan ide terkait metode mengajar dan juga pengembangan diri," kata Puji.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Zulham. " Melalui acara E2 Global Educator Exchange, saya mendapatkan banyak pengalaman bertemu dengan guru-guru dari 80 negara. Saya belajar banyak tentang metode-metode mengajar yang semakin variatif dan saling berbagi mengenai penggunaan teknologi dalam pembelajaran di kelas," ungkap dia. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya