Nestapa Warga Gaza, Tinggal Serumah Bersama Bom

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 24 Maret 2015 16:32
Nestapa Warga Gaza, Tinggal Serumah Bersama Bom
Sekitar 40 keluarga di Gaza tidak mampu menyewa apartemen. Akhirnya, mereka kembali tinggal di rumah masing-masing meski terdapat bom aktif di dalamnya.

Dream - Fadel Nassir begitu gembira melihat sebuah bom berhasil diangkat dari rumahnya di Beit Hanoun, Gaza. Bom dengan panjang mencapai tiga meter dan berat lebih dari satu ton ini gagal meledak setelah dilontarkan oleh militer Israel pada perang musim panas tahun 2014 lalu.

Bom itu hanya menancap selama tujuh bulan di ruang tamu rumah yang ditinggalinya bersama keluarganya. Seharusnya, rumah tersebut tidak bisa lagi dihuni.

Keluarga Nassir adalah salah satu dari 40 keluarga yang hidup dengan bom gagal meledak di rumah masing-masing. Alasannya, mereka tidak memiliki cukup uang untuk menyewa apartemen sebagai tempat tinggal baru, lantaran biaya sewa naik 200 persen lebih.

" Saat kami kembali ke sini pada Agustus 2014 lalu banyak orang yang menuduh kami tidak bertanggung jawab. Tapi saya tanya mereka di mana lagi kami harus tinggal," ujar Nassir, seperti dikutip dari The Independent, Selasa, 24 Maret 2015.

Biaya sewa apartemen ataupun rumah layak huni di Gaza sebelum perang mencapai 150 dolar Amerika hingga 200 dolar Amerika setiap bulan. Tetapi, biaya tersebut melambung tinggi setelah terjadinya serangan, menjadi lebih dari 600 dolar Amerika dengan ukuran yang sangat kecil.

" Sudah pasti kami sangat khawatir tentang bom. Kami sudah melapor ke pihak berwenang beberapa kali hingga akhirnya mereka mengirim Ahmed yang sangat ahli tentang semua masalah bom." kata Nassir.

Atas hal itu, Nassir meminta Ahmed Miat dan tim penjinak bomnya untuk mengangkat bom-bom Israel tersebut. Ahmed yang memiliki kemampuan dasar menjinakkan bom dari Jerman dan mengembangkannya sendiri dengan belajar dari internet.

Untuk pekerjaan yang dia lakukan, Ahmet terkadang harus merogoh koceknya sendiri mencapai 5.000 dolar Amerika. Uang sebanyak itu ia gunakan untuk menggaji 18 pekerjanya dan menyewa peralatan.

Ahmed mengaku memiliki sebuah pabrik aspal yang terletak di Shujaiya. Pabrik itu kini tak bersisa lantaran dibom oleh tentara Israel dan menyebabkan Ahmes mengalami kerugian sebesar 250.000 dolar Amerika.

" Saya kemudian menggunakan uang yang tersisa untuk menolong orang-orang ini. Pemerintah kadang meminjamkan buldozer dan orang-orang untuk mengawasi kami. Saya pernah minta bantuan PBB tapi tidak ada respon," kata Ahmed.

Ahmed mengatakan menjinakkan bom bukan pekerjaan mudah, meski ia dan timnya telah memiliki kemampuan itu. Dia dan timnya harus hati-hati saat menjinakkan dan mengangkat bom-bom itu.

" Butuh 13 hari untuk menggali terowongan di bawah rumah untuk menarik bom keluar. Selain itu kami juga butuh tiga minggu agar rumah tidak roboh," katanya.

Lebih dari 100.000 rumah hancur selama perang dan sekitar 40.000 orang diyakini telah menjadi tunawisma.

Sebuah program rekonstruksi dimulai di bawah naungan PBB, Israel dan Fatah, dan masyarakat internasional dengan janji dana bantuan sebesar US$ 5,4 miliar. Tapi kurang dari 3,9 persen bahan bangunan yang dibutuhkan untuk membangun kembali Gaza yang berhasil melewati pemeriksaan Israel.

Israel bersikeras tanpa pemeriksaan keamanan yang memadai, bahan bangunan dapat digunakan untuk tujuan militer. Fatah menyalahkan Hamas karena menolak untuk melepaskan kontrol keamanan perbatasan.

Sementara Hamas mengatakan Israel telah sengaja membuat warga Gaza dalam kemelaratan dan Fatah telah menjadikan kehidupan masyarakat Gaza sebagai komoditas politik. Namun ketiganya, baik Fatah, Israel, dan Hamas mengeluh tentang birokrasi PBB.

 

Beri Komentar