Ilustrasi
Dream - Pengajian yang digelar oleh kelompok Muslim Indonesia di Hongkong dibubarkan paksa otoritas Tiongkok. Ini lantaran pengajian itu dituding berafiliasi dengan gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Penyebabnya, di lokasi pengajian terpampang sebuah bendera bertuliskan kalimat syahadat. Sehingga pengajian itu dituduh sebagai sarana perekrutan anggota ISIS.
Juru bicara kelompok pengajian dengan nama Mujahidah Islam itu, Ika, secara tegas membantah hal itu. Dia menegaskan, bendera itu merupakan simbol yang lazim digunakan oleh seluruh komunitas Muslim.
" Ini simbol Islam, siapapun dapat menggunakannya. Seluruh Muslim di dunia tahu apa artinya. Kami tidak memiliki hubungan dengan ISIS," ujar Ika kepada South China Morning Post, seperti dikutip dari onislam.net, Selasa, 24 Maret 2015.
Rencananya, pengajian akan diisi oleh beberapa ustaz. Tetapi lantaran adanya pelarangan yang berujung pada pembubaran, para ustaz yang diundang pun dilarang masuk ke wilayah Tiongkok oleh departemen imigrasi setempat.
Padahal, sebelum ada pembubaran ini, para ustaz dari Indonesia diperbolehkan mengunjungi negeri tirai bambu tersebut. Atas hal itu, Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia melakukan pembelaan.
" Ini semua merupakan kesalahpahaman yang besar. Warga Indonesia berada di sini untuk bekerja dan mereka adalah Muslim moderat. Saya berharap masyarakat tidak menganggap mereka sebagai teroris," kata Ketua Asosiasi TKI, KK Leung yang menjadi sponsor utama pengajian. (Ism)
Advertisement

Anak Laki-Laki dan Perempuan Harus Diasuh Berbeda? Ini Penjelasan Psikologi Anak

Kulit Kering dan Gatal atau Eksim? Kenali Perbedaannya Sebelum Memilih Pelembap

Penelitian Ungkap Mengapa Otak dengan ADHD Mungkin Lebih Kreatif?

Abu Vulkanik Letusan Anak Krakatau Sampai Jakarta, Bandara Soekarno Hatta Ditutup Sementara

Duduk Terlalu Lama Bisa Tingkatkan Risiko Kematian akibat Kanker, Ini Temuan Penelitiannya

10 Masalah Kesehatan yang Risikonya Bisa Dikurangi dengan Rutin Berolahraga

Raja Herbal dari Ketapang Sebagai Benih Kemandirian Ekonomi Desa