Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Pixabay)
Dream - Singapura telah lama dikenal memiliki sistem pendidikan yang mumpuni. Tetapi, Singapura baru-baru ini akan mengubah sistem yang memacu siswa untuk berprestasi.
Dikutip dari World Economic Forum, Singapura akan mulai menghapus ujian untuk siswa tahun pertama dan kedua pada 2019. Untuk menggantikan nilai ujian, siswa diminta berdiskusi, mengerjakan pekerjaan rumah (PR), dan mengerjakan kuis.
Dengan kondisi seperti ini, siswa akan belajar di lingkungan yang tidak lagi kompetitif. Penilaian guru akan dibulatkan, tidak lagi menggunakan penilaian desimal.
" Belajar itu bukanlah kompetisi," kata Menteri Pendidikan Singapura, Ong Ye Kung.
Ong menyebut, saat ini Singapura sedang mengarahkan sistem pembelajaran pada model pengembangan minat siswa. Tanpa membandingkan antara siswa satu dengan siswa yang lain.
Perubahan sistem pembelajaran di Singapura itu kontras dengan sistem pembelajaran di negara-negara tetangganya. Di beberapa tetangga, tulis laporan itu, menggunakan sistem perangking dari nilai tertinggi hingga terrendah.

Meski, tak menggunakan sistem perangkingan, penilaian OECD Programme for Internasional Student Assessment (PISA) menunjukkan hasil yang mengejutkan.
Singapura menempati peringkat teratas dalam tes PISA. Siswa sekolah di Singapura meraih raihan rata-rata sebesar 1,655 pada tiga subyek yang diujikan PISA, yaitu, sains, membaca, dan matematika.
Di bawah Singapura, terdapat Hongkong, Jepang, dan Makau. Sementara itu, Inggris menempati peringkat ke-22 dan Amerika Serikat di peringkat ke-30.
Perubahan sistem pembelajaran yang diambil Singapura bertujuan untuk mengembangkan kemampuan sosial di antara para siswa. Mereka diminta lebih peka dengan kondisi diri dan memiliki keterampilan dalam membuat keputusan.
Untuk menindaklanjuti pola perubahan ekonomi itu, pada 2023 Singapura akan menerapkan serangkaian program pembelajaran terapan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan pengembangan pribadi siswa hingga memperoleh keterampilan di dunia kerja.
Bahkan Kementerian Pendidikan Singapura menugaskan tim untuk membimbing karir siswa. Tim ini diminta mengubah persepsi siswa agar tak lagi bercita-cita bekerja di sektor perbankan, layanan sipil, dan obat-obatan.
Meski mengubah sistem pendidikan, tradisi ujian akhir di tingkat sekolah dasar tidak akan dihapus. Sebab, diyakini sistem ini berfungsi sebagai rute untuk meniti karir ke pemerintahan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya