Terapkan Physical Distancing, Gereja Siapkan Ruang Untuk Muslim Sholat

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Kamis, 28 Mei 2020 07:00
Terapkan Physical Distancing, Gereja Siapkan Ruang Untuk Muslim Sholat
Pandemi virus corona ternyata turut melahirkan toleransi.

Dream - Gereja St Martha Lutheran di Berlin, Jerman, menunjukkan bagaimana toleransi bisa diterapkan di tengah pandemi virus corona. Gereja ini menyiapkan ruang agar umat Islam Berlin bisa melaksanakan shola Jumat.

Sejumlah tempat ibadah di Jerman harus menerapkan physical distancing untuk menghindari penularan virus corona. Dampaknya, kapasitas Masjid Dar Assalam yang terletak berdampingan dengan Gereja St Martha harus dikurangi. 

Alhasil, sebagian umat Islam tidak bisa mengikuti sholat jemaah di masjid, terutama sholat Jumat. Kondisi tersebut menggerakkan para pengurus gereja menyediakan tempat agar umat Islam bisa tetap sholat Jumat dengan menjaga jarak. 

Masjid Dar Assalam di distrik Neukolln biasanya dapat menampung ratusan Muslim untuk Sholat Jumat. Namun saat ini hanya dapat menampung 50 orang sesuai peraturan pembatasan protokol kesehatan di Jerman.

 

1 dari 5 halaman

Kebahagiaan di Tengah Krisis

Selama Ramadhan, Gereja Martha Lutheran membantu pengelola masjid dan mengizinkan umat Islam sholat di dalamnya.

" Ini tanda yang bagus dan membawa kegembiraan saat Ramadhan dan kebahagiaan di tengah krisis ini," kata Mohamed Taha Sabry, imam yang memimpin Sholat Jumat di dalam gereja dengan lukisan kaca Bunda Maria.

Tempat ibadah dibuka lagi di Jerman pada 4 Mei lalu setelah ditutup selama beberapa pekan selama penerapan lockdown akibat virus corona. Tetapi, jemaah sholat harus tetap menjaga jarak minimal 1,5 meter antar orang.

Tindakan mulia ini bisa terjadi di belahan bumi mana saja. Semua harus benar-benar sadar dan berani melawan rasisme karena pada dasarnya tidak ada agama yang mengajarkan kebencian, melainkan saling membantu.

Sumber: World of Buzz

2 dari 5 halaman

Kisah Pilu di Balik Foto Gadis Yatim Piatu di Makam Ibunda

Dream - Peringatan Hari Ibu yang digelar setiap tahun justru membuat gadis Malaysia bernama Nurul NurHalilah Abdul Rahman merasa sedih.

Itu karena ibunya meninggal dunia karena kanker ovarium pada tahun 2015. Ayahnya juga sudah meninggal dunia sebelum dia dilahirkan lebih dari 20 tahun yang lalu.

NurHalilah yang lebih akrab dipanggil Lila merupakan anak tunggal. Sejak 2016 hingga 2019 dia tinggal bersama keluarga bibinya di Seri Kembangan, Selangor.

Kisah Lila menjadi viral setelah dia mengunggah foto lama. Di foto yang diunggah pada Minggu, 10 Mei 2020, Lila sedang berdoa di pusara ibunya.

3 dari 5 halaman

Sedih Setiap Peringati Hari Ibu

Lila mengaku sangat sedih setiap kali melihat kebersamaan teman-temannya dengan ibu mereka ketika memperingati Hari Ibu.

" Ketika melihat orang lain merayakan Hari Ibu, saya harus bersedih sebab teringat almarhumah. Tetapi apa daya, saya sudah ridho dan selalu berdoa untuk ibu saya," katanya.

4 dari 5 halaman

Doa dan Foto Jadi Penawar Rindu

Bagi Lila, hanya doa dan foto yang menjadi penawar rindunya kepada sang ibu. Meski separuh nyawanya hilang, Lila harus tegar dengan tantangan hidup di masa depan.

" Jika terlalu menuruti emosi memang sedih. Tapi Alhamdulillah pegangan agama saya masih kuat. Saya ingin meneruskan hidup," ujar Lila.

Dia bahkan berusaha memperbanyak amalan kebaikan agar bisa bertemu dengan ibunya kelak di akhirat.

5 dari 5 halaman

Tak Ada yang Bisa Gantikan Ibu

Menurut Lila, sebagian orang mungkin mudah mengatakan hilang satu, tumbuh seribu. Tapi bagi Lila ibunya tidak bisa digantikan oleh siapa pun.

" Meskipun orang lain suruh menganggap seperti ibu sendiri, tapi saya merasakan perbedaan dan tidak ada yang bisa menggantikan ibu saya," katanya.

Lila kemudian berpesan agar mereka yang berstatus anak untuk senantiasa menghargai kedua orangtua selagi mereka masih ada.

" Selagi orangtua masih ada, berbaktilah sebelum terlambat. Jika orangtua sudah menghadap-Nya, menyesal tidak ada gunanya, menangis air mata darah juga tidak akan mengembalikan mereka," ujar Lila.

Menurut Lila, sekarang dia telah kembali ke rumah asalnya di Alor Setar, Kedah, setelah menamatkan ujian akhir sekolah menengah Sijil Tinggi Pelajaran Malaysia (STPM).

Sumber: mStar.com.my

Beri Komentar