Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dream - ”Cong, mon de’ Mekka te-ngateh.Teppa’ ojen badai (Kawan, kalau ke Mekkah hati-hati. Sedang ada hujan badai).”
Pesan singkat melalui aplikasi whatsapp itu datang dari Jamal, sahabat lama asal Madura yang bertugas di BPIH (Badan Penyelenggara Ibadah Haaji) Mekah. Dia tahu aku masih di Madinah dan bersiap menuju Mekah.
Selang beberapa menit, Jamal mengirim foto hujan badai di Mekah. Ya Allah, kota suci itu tertutup hujan deras dengan badai angin tampak di gambar. Dalam hati berharap, semoga tidak membahayakan jamaah.
Bersama sejumlah kawan jurnalis, kami naik Jeep Yukon produksi General Motor Amerika menuju Mekah. Jarak yang harus ditempuh sekitar 500 kilometer. Perjalanan melalui jalan tol akan memakan waktu empat hingga lima jam.
Sepanjang perjalanan, pemandangan yang tersaji hanya gunung batu yang berdiri kokoh. Baru dua jam, sang sopir mengarahkan jemarinya ke arah kaca depan, menunjuk gumpalan awan hitam di depan kami tengah menghadang. Kami perbanyak doa, dzikir, dan tasbih agar bisa melewati gumpalan awan hitam dengan lancar.
Alhamdulillah…
Hujan badai itu hanya menghambat perjalanan kami sesaat, dan akhirnya bisa juga kami lewati. Namun baru saja hati merasa lega, saya menerima pesan baru lewat whatsapp. “Crane jatuh di Masjidil Haram. Diperkirakan banyak korban tewas.”
Astaghfirullah…
Seketika jantungku berdetak kencang, adrenalin memuncak. Meski di tengah perjalanan ibadah, jiwa jurnalis kami tak bisa tenang. Pembicaraan di mobil pun berputar soal kecelakaan crane tersebut. Kawan-kawan mendapat pesan yang sama dari kantornya untuk segera mengabarkan informasi terbaru. Terutama nasib jamaah asal Indonesia.
Belum lagi kota Mekah tampak, kami sudah mendapat kiriman berbagai video dan foto melalui telepon selular. Mulai video kepanikan jamaah, detik-detik jatuhnya crane, hingga korban meninggal yang dikumpulkan petugas. Juga foto-foto yang membuat hati miris. Sedih melihat saudara muslim yang sedang menjalankan Rukun Islam kelima itu harus meninggal dunia.
Tepat tengah malam, kami sampai di Masjidil Haram. Setelah meletakkan barang di kamar hotel, bersama jemaah lainnya kami harus segera melakukan umroh. Tawaf tujuh kali putaran, lalu kami lanjutkan dengan Sa’i.
Dalam perjalanan menuju tempat Sa’i inilah, saya melihat langsung lokasi kejadian crane jatuh itu. Selintas aku melihat, crane itu bukannya terjatuh, lebih tepatnya terjungkal. Sebab jenisnya adalah mobile crane, wujudnya seperti tank dengan lengan panjang menjulur.
Nah, ujung lengan itulah yang ambruk menimpa jemaah yang sedang melakukan Sa’i. Namun kami para jurnalis hanya mendapati garis polisi di lokasi kejadian. Peristiwa yang berselang beberapa jam sebelumnya itu seolah tak bersisa. Semua telah rapi dibersihkan petugas. Termasuk para korban sudah berada di rumah sakit.
Kami para jurnalis pun bertanya dalam hati. Apa berita yang bisa kami sampaikan kepada publik di Indonesia ? Akhirnya kami mencari informasi dari para saksi korban yang masih selamat.
Keesokan harinya, aku mendapat informasi adanya tiga jamaah Indonesia korban luka kecelakaan crane itu. Aku segera menuju BPIH.
Disana aku bertemu Ibu Eriwati (50 tahun) asal Batam yang selamat dari kecelakaan. Bersama beberapa kawan jurnalis, kami meminta ijin untuk wawancara.
Ibu Eriwati membuka kisahnya sambil berlinang air mata. Menurut wanita berputra tujuh itu, kejadian berlangsung sangat cepat. “Seperti ada air bah yang datang. Dan tiba-tiba ada benda yang menghantam perut saya,” katanya lirih.
Ibu Eriwati tak henti-hentinya mengucap syukur karena masih diijinkan Allah SWT tetap bisa selamat. Berkali-kali dia bertanya. Apa yang akan terjadi jika sampai menjadi salah satu dari 107 korban meninggal akibat crane itu ? Bagaimana anak-anaknya akan mencarinya ?
******
© Dream
Perjalanan kali ini memang penugasan paling aku impikan, sepanjang karir sebagai jurnalis. Sebuah kesempatan langka sekaligus berkah yang aku dapat. Ditugaskan kantor untuk meliput perjalanan Jemaah Haji Indonesia di tanah suci, sekaligus kesempatan buatku untuk menjalankan Ibadah Haji.
Tak terasa sudah hampir dua pekan aku berada di tanah suci. Pagi itu, subuh, kami berada di halte terowongan Masjidil Haram. Wajah letih terpancar jelas dari jamaah termasuk rombongan jurnalis yang menanti bus jemputan. Kami akan kembali ke hotel selepas menunaikan kewajiban Tawaf Ifadah.
Berarti, tinggal satu tahapan lagi yang harus kami lakukan untuk menyempurnakan haji, yaitu melempar Jumroh.
Bus nomor 36 akhirnya datang juga. Satu persatu dengan sisa tenaga yang masih ada, kami naik bus. Tujuannya, mengantar kami ke hotel transit yang hanya berjarak satu kilometer dari lokasi pelemparan jumrah di Mina.
Bus buatan Jerman yang kami naiki bergerak malas perlahan. Sementara jamaah berharap segera sampai agar bisa sekedar meluruskan otot-otot setelah berolahraga di subuh hari setelah menjalani tawaf dan sa’i.
Hanya 30 menit perjalanan. Begitu harapan kami, Insya Allah bisa salat Subuh di hotel. Namun, harapan itu bubar. Bus masih tertahan karena macet. “Tidak biasanya jam segini lalu lintas Mekah bisa macet nyaris tak bergerak,” aku bergumam. Akhirnya kami harus menunaikan Subuh dalam bus.
Matahari sudah benderang setinggi tombak. Dan, kami masih terjebak kemacetan. Seolah tiada harapan akan segera bergerak, kami mengambil keputusan. Seluruh jamaah turun dan jalan kaki menuju hotel. Lumayan, hitung-hitung “berolahraga”.
Namun rasa capek segera luruh saat melihat canda tawa terjadi di depan hotel. Beberapa jamaah yang memilih mencukur gundul rambutnya membawa atmosfir keceriaan.
Diseberang, jalan masih macet parah meski sudah lewat lima jam. Beberapa kali suara sirene ambulan meraung-raung. Kembali firasatku sebagai jurnalis terusik. Pasti ada sesuatu. Aku coba periksa telepon genggam mungkin ada pesan atau informasi mengenai situasi ini. Kosong.
Aku mencoba istirahat di kamar sambil terus berselancar mencari kabar terbaru. Benar saja. Baru lima menit, pesan singkat berdentang denting menyerbu masuk.
Aku tersentak dari tempat tidur. Isi pesan membuat badanku merinding. “700 jemaah tewas terinjak-injak di Mina”.
****
© Dream
Astaghfirullah… Ada apa lagi ini ?
Darahku terasa berdesir, kepala langsung pening, adrenalin kembali memuncak. Aku segera menemui kawan-kawan jurnalis serombongan. Belum satu pun media di tanah air yang mengabarkan peristiwa itu. Baik televisi maupun media online. Kami masih bertanya-tanya dimana tepatnya lokasi kejadian, dan bagaimana kami bisa mencapainya ?
Seorang kawan jurnalis mencoba memainkan remote control televisi. Plak..! Wajah kami terasa ditampar. Kepala kami seakan dijatuhi palu godam. Stasiun televisi CNN asal Amerika Serikat menyiarkan Breaking News, menayangkan gambar tragedi Mina. Sementara kami masih belum sempat bergerak.
Segera kami siapkan semua ‘peralatan tempur' liputan. Kami berbagi tugas. Aku akan mencari informasi seputar jamaah haji Indonesia yang kemungkinan menjadi korban lewat petugas haji daerah kerja Mekah. Sementara juru kamera akan mencoba menembus ke lokasi kejadian untuk mendapatkan gambar.
Sebelum berangkat, aku sempatkan mengabarkan ke adik di tanah air bahwa kondisiku, Alhamdulillah baik-baik saja. Keluarga di tanah air langsung merasa tenang dan bernafas lega.
Menjelang kami berangkat, pemandu yang biasa menemani kami ternyata sudah pergi mengantarkan tim lain ke lokasi kejadian. Aku sendiri tak tahu jalan menuju ke Daker (Daerah Kerja) Haji Indonesia. Di tengah kebingungan kami, pesan broadcast via blackberry message masuk. “Konferensi Pers tentang peristiwa Mina akan digelar pukul 13:00 di Daker”. Satu jam lagi ?
Kami sudah hampir putus asa. Jatah makan, siang itu tak lagi kami gubris. Tiba-tiba datanglah pertolongan dari Allah SWT. Seorang petugas travel bersedia mengantarkan kami menuju Daker. “Jalan kaki,” katanya.
“Haah ? Jalan kaki ?” kami mengulang dengan nada tanya. Tapi petugas itu meyakinkan kami bahwa perjalanan dengan kaki akan lebih cepat daripada diatas roda. Tanpa berfikir lagi, kami pun berangkat.
Benar saja, pemandu baru kami ini ternyata jagoan. Kami melintasi rute menanjak, lalu melewati dua blok, plus menyeberang dua jalan raya. Terik matahari membakar kepala dengan suhu 43 derajat celcius. Kami hanya menghabiskan waktu 45 menit, sampailah kami di Daker.
Suasana hiruk pikuk. Selasar dipenuhi puluhan jemaah berusia lanjut yang beristirahat dari kepanasan. Atau mungkin juga mereka tersesat. Petugas Daker sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku segera menuju ruangan jumpa pers. Pas ! Alhamdulillah. Jumpa pers baru saja dimulai.
Acara itu berlangsung satu jam. Informasi terpenting, disampaikan kepala Daker Arsyad Hidayat. “Untuk sementara, hanya satu jenazah yang dipastikan berasal dari Indonesia. Kemungkinan tidak akan ada lagi korban dari Indonesia karena jalur itu jarang dipakai oleh jamaah haji Indonesia menuju lokasi lempar jumrah.”
Untuk sementara kami bernafas lega dan berharap tidak ada lagi korban jatuh. Namun kami tak begitu saja percaya informasi tersebut. Aku memutuskan untuk mendatangi lokasi kejadian.
Akses menuju Jalur 204 ternyata sudah diblokade. Ditutup sana dan dipagar sini. Disana masih bisa aku temui beberapa jemaah haji asal Indonesia. Mereka bercerita, banyak haji asal Indonesia yang terpisah dan tercerai berai dari rombongan. Mereka tak tahu kemana harus mencari anggota yang hilang dan entah bagaimana nasib mereka.
Meski berharap yang terbaik bagi jemaah haji Indonesia, tapi sebagai jurnalis aku harus tetap mempertanyakan segala kemungkinan. Termasuk, apakah benar korban dari Indonesia hanya satu orang ?
Benar saja, kabar korban jemaah haji Indonesia ternyata terus bertambah dari hari ke hari. Mulai dari 1 orang, 14 orang, 34 orang hingga 41 orang. Bahkan hingga aku pulang ke tanah air jumlah korban jemaah haji Indonesia masih terus bertambah mencapai 103 orang.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…
Semoga Allah SWT memberikan kedudukan syuhada buat mereka yang wafat saat berkunjung ke Rumah Allah SWT.
(Diceritakan oleh : Ahmad Iwan Al Onso)
Advertisement

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

3 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga, Menurut Ahli Gizi

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan

Mau Nonton Grand Final AXIS Nation Cup 2026? Ini Cara Daftar dan Datang ke Istora Senayan

Sambut Tren Warna 2027, JOTUN Hadirkan 24 Warna dalam Koleksi JOURNEYS

16 Tim Futsal Pelajar Siap Berlaga di Grand Final AXIS Nation Cup 2026, Ini Daftarnya