Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012
Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi
Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Dream - Pesawat AirAsia QZ8501 berulang kali mengalami gangguan sebelum akhirnya jatuh ke Selat Karimata pada 28 Desember 2014. Pesawat yang mengudara dari Surabaya menuju Singapura itu mengalami masalah Rudder Travel Limiter Unit (RTLU) atau sistim kemudi sayap di bagian ekor.
Pesawat itu mengalami gangguan RTLU sejak pukul 06.01 WIB. Kemudian terjadi 8 menit kemudian, dan 2 menit setelah itu. Dan setelah gangguan ke tiga itu muncul gangguan ke empat, yaitu sekitar pukul 06.15 WIB. Namun kali ini black box atau kotak hitam pesawat merekam gangguan berbada.
Setelah gangguan tersebut, kru pesawat mengaktifkan tanda peringatan ke lima yang memunculkan pesan di ECAM berupa AUTO FLT FAC 1 FAULT. Kemudian pada gangguan ke enam muncul pesan berupa AUTO FLT FAC 1+2 FAULT.
“ Jadi setelah masalah yang ke tiga, circuit breaker (CB) di-reset sehingga berakibat terjadinya pemutusan arus listrik pada FAC,” kata investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Ony Suryo Wibowo, di Gedung KNKT, Jakarta, Selasa 1 Desember 2015.
Karena aliran listrik terputus, maka auto-pilot dan auto thrust tidak aktif. Pengendalian pesawat oleh awak pesawat secara manual selanjutnya menyebabkan pesawat masuk dalam kondisi yang disebut upset condition dan stall hingga akhir FDR, ini sudah di luar kemampuan pilot.
Sebenarnya, gangguan ke empat itu sudah muncul dalam penerbangan tiga hari sebelumnya, yaitu pada 25 Desember 2014, dengan pilot yang sama. Namun sayang, gangguan itu tidak dapat ditindaklanjuti oleh tim teknisi karena kurangnya analisa yang baik. Sehingga masalah itu tidak selesai dan pesawat itu tetap diperbolehkan terbang.
“ Sayangnya kelemahan Indonesia ini belum ada peraturan yang mewajibkan pilot melaporkan ketidakberesan pesawat selama penerbangan. Sehingga pihak perbaikan tidak dapat mendeteksi hal serupa,” ungkap Ony. (Ism)
Advertisement

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun


Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi
