Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Pembakaran Asrama Brimob Di Petamburan (Foto: Faizal Fanani/KLY)
Dream - Sosok AF alias VV, wanita yang menjual senjata api kepada kelompok perusuh aksi 22 Mei terkuak. Wanita yang sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangkan itu ternyata istri seorang purnawirawan.
Meski demikian, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, enggan menyebut kesatuan asal suami AF. "Enggak usah dikasih tahu itu sudah tahu," ujar Dedi di Kemenpolhukam, Jakarta, Selasa 28 Mei 2019.
Menurut Dedi, AF mendapat senjata api dan menjualnya secara ilegal dari seorang perantara. Saat ini, polisi masih menyelidiki perantara tersebut. AF menjual senjata api jenis revolver senilai Rp50 juta kepada HK, pemimpin kelompok eksekutor yang ditugaskan membunuh empat tokoh nasional.
Selain AF, polisi turut menangkap AD yang juga menjual senjata api laras panjang dan laras pendek rakitan kepada HK. "(Pemilik sebenarnya) mereka masih didalami," ucap dia.
Dalam kasus ini, polisi telah menangkap kelompok HK, AZ, TJ, dan IR. Satu eksekutor lainnya masih buron. Para eksekutor ini dituding menumpang pada aksi demo 21 dan 22 Mei yang berujung pada kerusuhan.
Aksi demonstrasi 21 dan 22 Mei memang berakhir ricuh. Semula aksi itu berjalan damai tanpa ada kekerasan. Menurut polisi, peserta aksi membubarkan diri setelah melaksanakan sholat tarawih.
Namun menjelang pukul 22.30 WIB atau 23.00 WIB, datang massa dari arah Tanah Abang menuju ke Gedung Bawaslu di Jalan MH Thamrin. Massa ini berbeda dengan peserta unjuk rasa yang berada di depan Gedung Bawaslu pada siang hingga sholat tarawih itu.
Massa yang datang belakangan itu datang langsung menyerang. Sehingga Polri menyebut mereka sebagai perusuh. Berbeda dengan peserta aksi pada siang hari. Sehingga polisi bertahan dengan menggunakan tameng. Polisi juga melepaskan tembakan gas air mata serta peluru karet.
Dream - Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Pol Tito Karnavian, menyebutkan empat pejabat yang menjadi target pembunuhan kelompok perusuh aksi 21 dan 22 Mei 2019.
"Mereka (pelaku) menyampaikan nama, satu Pak Wiranto, ke dua Pak Luhut Menko Maritim, ke tiga Pak Kabin (Kepala Badan Intelijen Negara), ke empat Pak Gories Mere," ujar Tito di Kemenpolhukam, Jakarta, Selasa 27 Mei 2019.
Sementara, untuk ketua lembaga survei yang juga mendapat ancaman yang sama. Namun Tito enggan menyampaikan namanya. "Salah satu pimpinan lembaga survei kami tidak sebutkan," ucap dia.
Tito mengatakan, informasi itu didapat langsung dari empat tersangka yang sudah ditangkap. Mereka adalah HK, AZ, IR dan TJ.
"Dasar kami sementara hanya BAP (berita acara pemeriksaan). Hasil pemeriksaan kepada tersangka yang sudah ditangkap jadi bukan pada informasi intelijen beda, kalau informasi bukan prejudicial, ini prejudicial pemeriksaan resmi," kata dia.
Setelah mengetahui informasi rencana pembunuhan itu, polisi terus meningkatkan penanganan dan pengawalan kepada empat tokoh nasional dan satu ketua lembaga survei.
Selain ke empat tersangka itu, polisi turut menangkap AD dan AF alias VV yang menjual senjata api laras panjang dan senjata api laras pendek rakitan kepada HK.
Dream - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menutup ribuan akun sosial media dan website. Penutupan itu dilakukan sebelum dan selama pembatasan akses sejumlah fitur media sosial dan percakapan instan.
Menkominfo, Rudiantara mengatakan, pemblokiran dilakukan atas kerja sama dengan penyedia platform.
"Itu juga ditempuh. Misalnya, saya telah berkomunikasi dengan pimpinan WhatsApp, yang hanya dalam seminggu sebelum kerusuhan 22 Mei lalu telah menutup sekitar 61.000 akun aplikasi WhatsApp yang melanggar peraturan," kata Rudiantara, di laman resmi Kominfo, Selasa 28 Mei 2019.
Rudiantara mengatakan, Kominfo telah menutup 551 akun Facebook, 848 akun Twitter, dan 640 akun Instagram, dan 143 akun Youtube. Selain media sosial itu, Kemkominfo juga menutup satu alamat website dan LinkedIn.
Rudiantara menyebut, pemblokiran itu dilakukan agar sebaran konten hoaks dan fitnah serta provokasi dapat diminimalkan.
"Jangan lelah untuk mengimbau agar masyarakat dan teman-teman di sekitar kita berhenti menyebarkan konten yang mengandung hoaks, fitnah, maupun provokasi untuk melanggar aturan atau hukum. Tentu saja harus kita mulai dari diri sendiri," kata dia.
Meski langkah ini menuai kritik, Rudiantara mengklaim, sejumlah negara telah menerapkan blokir serupa. Dia menyontohkan posisi Iran yang pernah menutup akses Facebook pada 2009 usai kemenangan Ahmadinejad.
Selain itu, ada pula Sri Lanka yang menutup akses Facebook dan WhatsApp untuk meredam serangan dampak bom gereja. Sebab, dengan beredarnya kabar hoaks, banyak umat Islam di Sri Lanka akan jadi sasaran serangan kekerasan.
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Inggris dan Jepang Minta Warga Siapkan Stok Makanan untuk 3 Hari, Ada Apa?

Benarkah Oksigen di Bumi Bisa Habis? Ilmuwan Perkiraan Kapan Hal Itu Bisa Terjadi

Sering Disalahpahami, Ini Perbedaan Frugal Living dengan Hidup Pas-pasan

Beeru Stevia Diduga Berisi Pemanis Buatan, Apa Risikonya bagi Penderita Diabetes Jika Terkonsumsi?

Usia Berapa Otak Manusia Paling Tajam? Ternyata Bukan Saat Masih Muda

Sering Dikira Flu, Virus yang Disebarkan Nyamuk Ini Bisa Menyerang Otak dan Berakibat Fatal

Gelembung AI di China Disebut Pecah, Apa Artinya dan Bagaimana Dampaknya bagi Kita?