Wisata `Ramah` Bawah Laut Indonesia, Baca Panduannya

Reporter : Dwi Ratih
Jumat, 6 November 2015 11:41
Wisata `Ramah` Bawah Laut Indonesia, Baca Panduannya
Diharapkan dengan adanya buku ini, dapat menjadi referensi wajib bagi operator dan wisatawan sebelum melakukan wisata bahari.

Dream - Di tengah gencarnya Kementerian Pariwisata mempromosikan wisata bahari Indonesia, membuat sejumlah aktivis lingkungan ikut khawatir. Pasalnya, kedatangan para wisatawan dapat menyebabkan perubahan perilaku dan cedera pada sejumlah ekosistem laut.

Seperti yang diungkapkan Imam Musthofa perwakilan dari World Wildlife Fund (WWF) Indonesia mengungkapkan, perilaku wisatawan yang berinteraksi sangat dekat dengan satwa laut seperti burung laut, penyu dan lumba-lumba dapat mengakibatkan kematian.

Apalagi, belakangan sering ditemukan satwa laut terluka dan mati akibat terkena baling-baling kapal.

" Kalau sudah pada tingkatan stres, induk satwa dapat terpisah dari anak-anaknya. Sehingga akan menurunkan daya tahan hidup anak-anaknya," ungkap Imam di kawasan Mahakam, Jakarta Selatan.

Masalah sampah juga turut mengancam keberlangsungan hidup terumbu karang yang hidup di bawah laut. Menurut data yang dilansir dari CNN, Indonesia merupakan penghasil sampah terbanyak nomor dua di lautan.

" Sampah di laut kita itu mencapai sembilan juta ton per tahun dan hampir 99 persen terdiri dari sampah plastik. Itu kalau diangkut mencapai 36 truk banyaknya," imbuhnya pada Kamis, 4 November 2015.

Lebih lanjut ia berharap pelaku industri pariwisata berlaku bijak dalam menyenangkan para konsumen mereka. Salah satunya dengan menyediakan tour guide yang paham dan peduli dengan pelestarian satwa laut itu sendiri.

Sehingga, usaha untuk mendorong perekonomian tidak mengganggu ekosistem penghuni lautan. Hal itu pula yang membuat WWF Indonesia tergerak untuk meluncurkan panduan untuk mengamati dan berinteraksi dengan satwa laut.

Diharapkan dengan adanya buku ini, dapat menjadi referensi wajib bagi operator dan wisatawan sebelum melakukan wisata bahari.

" Jadi nggak akan ada lagi wisatawan yang mengangkat baby hiu, karena akan mengurangi magnet penciumannya. Atau menginjak terumbu karang saat snorkling," pungkas Imam. (Ism) 

Beri Komentar