Bawa Angklung, Mahasiswa Indonesia Juara Dunia

Reporter : Sandy Mahaputra
Selasa, 14 April 2015 18:25
Bawa Angklung, Mahasiswa Indonesia Juara Dunia
Bungsu dari dua bersaudara ini memang dikenal pecinta budaya Indonesia.

Dream - Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) berhasil menorehkan tinta emas di kancah dunia.

Adalah Andika Dwiparana Suherman Natawirya, mahasiswa Jurusan Teknik Fisika (JTF) ITS yang berhasil meraih juara pertama Social Venture Challenge (SVC).

Pada kompetisi proyek sosial yang merupakan bagian dari ajang bergengsi Harvard World National Model United Nations (HWMUN) ini, Andika membawa angklung sebagai tema proyeknya.

Dikutip Dream.co.id dari laman ITS.ac.id, Selasa 14 Maret 2015, bungsu dari dua bersaudara ini memang dikenal pecinta budaya Indonesia.

Baginya, alat musik khas kota asalnya Bandung pun bisa menjadi ide proyek sosial hingga memenangkan kompetisi yang digelar di Korea Selatan.

Berawal dari hobi bermain angklung saat kecil, hingga menginisiasi sebuah komunitas angklung di tempat perantauannya, Surabaya.

" Ide proyek sosial yang dilombakan di SVC ini adalah House of Angklung Surabaya, sebuah sanggar ekspansi dari komunitas angklung untuk mempertahankan eksistensi angklung melalui pengajaran, pertunjukkan, hingga penyediaan souvenir angklung," kata Andika.

HWMUN yang dihelat selama lima hari mulai pada Maret lalu, melibatkan sedikitnya 2.500 delegasi dari 118 negara. Delegasi itu tersebar di 19 committee yang berbeda-beda.

Andika berada di committee International Monetary Fund (IMF) dengan bahasan topik mengenai Voting Reform and Development Agenda.

Tak memenangkan penghargaan di konferensi HWMUN bukan berarti pulang dengan tangan hampa. Andika memilih jalan lain dengan turut berkompetisi di SVC bersama 200 peserta lainnya yang juga merupakan delegasi di HWMUN.

Hanya 16 orang yang berhasil lolos ke tahap semi final. Tak disangka, diantara lima finalis yang akhirnya terpilih, mahasiswa kelahiran Bandung 23 Maret 1993 ini dinyatakan sebagai juara pertama.

Andika mengaku awalnya sempat merasa tegang lantaran 'kematangan' para juri yang menangani kompetisi sociopreneurship ini.

Umumnya mereka adalah pimpinan perusahaan besar asal Amerika, pendiri resolution project di ajang MUN, hingga direktur eksekutif Samsung.

Uniknya, hal lain seperti video pertunjukkan, model angklung tiga dimensi, prototype website, penjualan souvenir untuk smartphone, business canvas, hingga protoype souvenir angklung dibawanya sebagai elemen pendukung.

Alhasil, gelar Resolution Fellowship, keanggotaan Resolution Project seumur hidup, sebuah kamera digital, tanda penghargaan dan sejumlah uang diterimanya. Uang senilai U$ 3000 (Rp 39 juta) selanjutnya akan digunakan untuk mendukung pengembangan proyek agar dapat terus eksis. (Ism) 

Beri Komentar