Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Puji Utomo, Mahasiswa Teknik SIpil Peraih Cum Laude (ugm.ac.id)
Dream - Puji Utomo, 22 tahun, mahasiswa asal Desa Bakawan Wetan, Juwana, Pati, Jawa Tengah ini berhasil mengukir prestasi. Ia lulus dengan predikat Cum Laude, meski di tengah keterbatasan ekonomi keluarganya.
Orang tua Puji, Waso dan Rudiah hanya seorang pedagang ikan. Keduanya memulai aktivitas berdagang ikan jelang tengah malam dan baru pulang keesokan harinya. Aktivitas itu dijalani oleh orang tua Puji selama enam tahun setelah berhenti sebagai penarik becak.
"Dulu bapak itu tukang becak," ujar Puji yang lulus dari Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, seperti dikutip dari ugm.ac.id, Senin, 9 Maret 2015.
Persoalan ekonomi selalu menjadi hambatan bagi keluarga Puji untuk meniti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Puji mungkin salah satu anak Waso dan Rudiah yang beruntung bisa menikmati bangku kuliah, sementara enam saudaranya memilih bekerja atau menikah usai lulus SMA.
Ia mengaku mengaku bisa berkuliah lantaran terpilih sebagai penerima beasiswa Bidik Misi. Uang saku yang diterimanya setiap bulan selama empat tahun sebesar Rp 600 ribu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Bahkan, ia sempat menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membantu usaha kedua orang tuanya yang sempat merugi. "Alhamdulillah, sekarang usaha bapak sudah lancar," katanya.
Meski demikian, Puji sempat merasakan sulitnya menjalani kuliah lantaran tingkat kebutuhan semakin naik. Uang beasiswa itu tak lagi cukup untuk memenuhi segala keperluannya.
Tetapi, Puji tidak mau menyerah. Ia rela tidak lagi menyewa kamar kost dan memilih tinggal dan menjadi pengurus sebuah masjid di kawasan Pogung Utara, Sleman, Yogyakarta.
Hal itu ternyata belum cukup. Puji terus berupaya agar tetap dapat berkuliah tanpa harus mengandalkan uang orang tua, dengan menjadi pengajar di lembaga bimbingan belajar, termasuk menjadi pengajar anak-anak penyandang difference ability (difabel).
"Di kelas anak-anak difabel saya sempat mengajar selama dua bulan," ungkapnya.
Keprihatinan itu berbuah mengagumkan. Puji meraih nilai 3,86. Nilai Indeks Prestasi (IP) sangat tinggi bagi mahasiswa rumpun Ilmu Eksakta.
Predikat Cum Laude pasti memudahkan setiap mahasiswa dalam mendapat pekerjaan. Namun demikian, Puji tidak ingin menggunakan prestasinya untuk mencari kerja, ia justru memilih pulang untuk membangun desa.
"Saya ingin ikut gerakan sarjana pulang bangun desa," ungkapnya.
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari