Bolehkah Menggelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW?

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 30 November 2017 08:02
Bolehkah Menggelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW?
Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan momentum tepat bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan.

Dream - Hari lahirnya Rasulullah Muhammad SAW merupakan momen yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Mereka menggelar sejumlah acara untuk memperingati Maulid Nabi.

Tujuannya adalah mengingat kembali gigihnya perjuangan Rasulullah. Juga untuk meneladani Nabi agar menjadi pribadi yang berakhlaqul karimah.

Tetapi, peringatan Maulid Nabi sebenarnya tidak terjadi ketika Rasulullah dan para sahabat masih hidup. Lantas, bagaimanakah hukum menggelar peringatan ini?

Syeikh Jalaluddin Al Suyuthi dalam kitabnya Al Hawi lil Fatawa, menyatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dibolehkan. Syeikh Al Suyuthi nenilai peringatan ini tidak mengandung unsur kemaksiatan.

" Menurut saya, hukum pelaksanaan maulid Nabi, yang mana pada hari itu masyarakat berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan membaca kisah Nabi SAW pada permulaan perintah Nabi SAW serta peristiwa yang terjadi pada saat beliau dilahirkan, kemudian mereka menikmati hidangan yang disajikan dan kembali pulang ke rumah masing-masing tanpa ada tambahan lainnya, adalah bid’ah hasanah. Diberi pahala orang yang memperingatinya karena bertujuan untuk mengangungkan Nabi SAW serta menunjukkan kebahagiaan atas kelahiran Beliau."  (Buka tautan ini).

Sementara pendapat lain menyatakan tidak ditemukan dalil terkait peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW baik yang membolehkan maupun yang melarang. Sehingga, peringatan ini termasuk perkara ijtihadiyah, boleh dijalankan dan boleh juga tidak.

Tetapi, jika peringatan ini digelar, hendaknya diperhatikan unsur kemaslahatannya, seperti mengandung unsur dakwah. Juga ditekankan peringatan tersebut digelar untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta menguatkan rasa cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW. (Buka tautan ini) 

(ism) 

 

Beri Komentar