Buku Biografi Malcolm X Tuntun Pria Amerika Peluk Islam

Reporter : Puri Yuanita
Minggu, 25 Oktober 2015 12:40
Buku Biografi Malcolm X Tuntun Pria Amerika Peluk Islam
Ia mendapat hidayah setelah membaca kisah perjalanan tokoh muslim AS, Malcolm X, dalam buku biografinya.

Dream - Haroon Cambel adalah seorang muslim Amerika Serikat yang mendapat hidayah setelah membaca kisah perjalanan tokoh muslim AS, Malcolm X, dalam buku biografinya.

Sebelum menemukan Islam, kehidupan Cambel dipenuhi dengan pergaulan bebas, narkotika dan rock 'n roll. Seperti kata pepatah, si buta tidak bisa membantu si buta untuk melihat. Begitulah kehidupan yang dia jalani.

Kendati demikian dia senantiasa merasa dekat dengan Tuhan meski tidak mendapat pendidikan agama yang ketat. Dia berterima kasih atas didikan ibunya yang begitu setia menanamkan kepercayaan kepada Tuhan dalam jiwanya.

" Selain itu, saya juga sedang mencari identitas diri saya dalam usia yang masih muda. Mendapat tekanan dari rekan-rekan sebaya merupakan dilema bagi diri saya. Karena saya juga ingin sekali diterima oleh mereka," katanya mengenang.

Waktu pun berlalu dan sisi buruk mulai memberikan kesan yang dalam ke jiwanya. Dia begitu materialistik. Lebih menumpukan perhatian terhadap lahiriah ketimbang apa yang terdapat dalam jiwanya. Dia menjadi mudah kesal dan pemarah.

Ketika hampir mendekati akhir sekolah menengah atas, Cambel mulai berpikir tentang kondisinya. Dia mulai berpikir tentang ucapan atau sikapnya kepada orang lain. Meski demikian, dia masih seorang anak muda dengan harapan dapat menghidupkan impian Amerika. Dia ingin punya gadis cantik sebagai teman dan mendapat uang yang banyak untuk bisa membeli kemewahan.

Ketika itu, dia punya teman wanita yang cantik. Dia adalah mantan Miss Teen USA saat berusia 15 tahun, setahun lebih muda dari dirinya. Cambel merasakan bahwa dia telah menemui gadis impiannya.

Selepas memasuki kuliah tahun pertama, Cambel tidak begitu memberi perhatian terhadap pelajaran. Apa yang paling dia inginkan adalah untuk bersama dengan teman wanitanya dan bersenang-senang. Namun yang mengherankan, Cambel mulai memandang teman-temannya dengan pandangan yang berbeda.

" Saya mulai bertanya apakah mereka ini benar-benar teman atau sekadar memenuhi waktu saja."

Sayang, teman wanita Cambel itu meneruskan kuliah di luar kota dan hal ini mengganggu pikirannya. Meski kecewa, dia merenung kembali terhadap apa yang telah dia lakukan kepada gadis-gadis yang pernah menjadi temannya. Cambel pun sadar bahwa Tuhan telah memberinya sebuah pelajaran untuk tidak memainkan perasaan orang lain.

Selepas kejadian itu, Cambel mulai mempersoalkan kembali satu hal yang dulu kelihatan normal baginya, " Bagaimana bisa dunia ini menjadi begitu kacau sekali?" Setiap hari, dia melihat rasisme, pertumpahan darah, kebencian dan tamak secara global.

Cambel tidak punya niat untuk bunuh diri, tetapi dia dapat merasakan seolah-olah tirai besar terangkat dari matanya. Dan untuk pertama kalinya, dia melihat dunia ini dari sudut pandang berbeda.

Untuk beberapa waktu dia berpikir, mengapa dunia ini menjadi kacau dan menekannya. Namun akhirnya dia tahu mengapa kehidupan pribadinya menjadi begitu terbelakang. Cambel sadar bahwa dia telah meletakkan Tuhan yang mencipta dunia ini di belakang.

" Saya telah melupakan Tuhan yang memberikan saya makanan, pakaian dan tempat berteduh setiap hari. Saya memalingkan muka dari Tuhan."

Cambel pun mulai melakukan pencarian spiritualitas yang telah lama hilang. Bagi Cambel, dia bukan tidak percaya dengan Tuhan, hanya saja tidak mengenali-Nya dan semakin bertambah usia. " Saya semakin lupa pada-Nya. Saya mulai belajar mengenai agama," katanya.

Setelah mempelajari beberapa agama, akhirnya Cambel membaca biografi Malcolm X. Yang menarik, buku tersebut diberikan oleh teman wanita yang ingin dia nikahi dulu. Selepas membaca buku tersebut, bagian yang paling menyentuh perasaan Cambel ialah saat Malcolm menceritakan perjalanannya ke Mekah untuk menunaikan haji.

Selain itu, Cambel juga tertarik dengan tulisan Malcolm yang menyatakan bahwa Islam sebenarnya bukanlah mengenai kulit warna, ras, atau kedudukan tertentu.

" Islam adalah mempercayai Tuhan Yang Esa, menyembah-Nya dan hidup dalam harmoni dengan kemanusiaan. Ini terlalu baik untuk dipercayai."

Di kampus tempatnya belajar, Cambel menemui beberapa orang muslim. Tetapi dia tidak mengetahui Islam, walaupun terdapat sebagian anggota keluarganya yang berasal dari Turki.

" Pelajar muslim di kampus inilah yang menjelaskan kepada saya ajaran Islam dan saya melihat perilaku mereka yang melambangkan agama ini. Jelaslah kepada saya bahwa inilah cara hidup yang benar yang disebut Islam."

Selama 6 bulan berikutnya Cambel bergelut untuk menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT. Saat memasuki bulan Ramadan dia mengikuti kelas dan ceramah bersama teman-teman barunya. Dia juga bertemu dengan ulama dan mendapat rahmat dan berkah puasa dari teman-teman muslim di kampus.

Pada pekan ketiga bulan Ramadan, momen kebenaran pun tiba. Cambel baru saja selesai mendengar ceramah dari seorang ulama yang baru mengunjungi Afrika Utara. Salah seorang teman mengenalkan Cambel kepada ulama tersebut.

" Kami duduk dan berbincang tentang perasaan saya terhadap Islam. Di akhir pembicaraan, saya mengakui Islam sebagai agama yang benar. Rekan saya, yang saya lihat sebagai saudara, memberikan pelukan hangat kepada saya."

Saya segera mengerjakan ibadah puasa. Saya turut serta dalam merayakan hari raya Idul Fitri pertama tahun itu, bertemu dengan banyak wajah baru dan merasakan persatuan Islam.

(Sumber: onIslam.net)

Beri Komentar