5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Muji Lestari Bersama Rektor UGM Dwikorita Karnawati (ugm.ac.id)
Dream - Muji Lestari, 55 tahun, berdiri di atas mimbar berlapis karpet merah. Sikapnya tegap, terlihat dia tengah gugup menghadapi ribuan pasang mata yang menyorotnya.
Tidak lama berselang, seorang wanita berhijab mendekatinya. Wanita tersebut membawa satu unit sepeda yang kemudian diberikan kepada Muji. Seketika, Muji menangis di hadapan wanita itu, yang tidak lain merupakan Dwikorita Karnawati, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM).
Bukan sepeda itu yang membuat air mata Muji menetes. Tapi kisah perjuangan sang putra, Ihsan Tanoto Mulyo, yang bisa masuk dalam daftar mahasiswa baru universitas berjuluk 'Kampus Kerakyatan' itu.
Muji tidak pernah membayangkan anaknya bisa melanjutkan kuliah di salah satu universitas kenamaan di Indonesia itu. Pendapatan Muji sebagai pengrajin serbet asal Cawas, Klaten ini tidak akan pernah bisa membiayai Ihsan kuliah.
Tetapi, ada satu hal yang membuat Muji bangga pada sang putra. Ihsan adalah sosok yang memang rajin belajar.
" Sejak kecil anaknya sudah bercita-cita ingin kuliah, saya hanya bisa mendorong hanya dengan berdoa,” ujar Muji, dikutip Dream dari ugm.ac.id, Jumat, 21 Agustus 2015.
Menurut Muji, Ihsan sebenarnya sempat akan mengikuti program pertukaran pelajar. Tetapi, Muji tidak berkenan dan lebih setuju anaknya kuliah.
" Semangatnya tinggi, ingin melanjutkan sekolah. Ia sempat dapat ikut (program) pertukaran pelajar, saya meminta untuk kuliah saja," kata dia.
Kini, Ihsan berkuliah di Program Studi Elektronika dan Instrumentasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) angkatan 2015-2016.
Senada dengan Muji, Wagiman, 65 tahun juga punya kebanggaan tersendiri kepada anaknya, Sudarmono, 18 tahun lantaran bisa menjadi mahasiswa Fakultas Peternakan UGM. Kesulitan ekonomi yang dihadapi Wagiman berprofesi sebagai tukang becak berpenghasilan Rp20.000 sehari di Bayat, Klaten ini tidak menyurutkan semangat putranya.
" Keinginan saya sederhana, Sudarmono bisa lancar kuliahnya, bisa selesai S1," ungkap Wagiman.
Sementara Agus Wantoro, 47 tahun merasakan kebahagiaan yang sama. Meski dia hanya tukang ojek di Danurejan, Mertoyudan, Magelang, Agus bisa bangga pada putrinya, Siti Nur Haliza bisa kuliah.
" Sewaktu anak saya sekolah SMP hingga SMA, saya hanya berdoa dengan puasa Senin Kamis agar anak saya diterima masuk ke UGM," ungkap dia.
[cross
link_1]
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?