Kisah Preman Tobat Bangun Mushola

Reporter : Syahid Latif
Kamis, 14 April 2016 11:46
Kisah Preman Tobat Bangun Mushola
Judi dan Narkoba jadi menu semasa muda. Mencuri dan merampok pernah dilakoni. Namun hidayah datang. Meski jalan tobat tak sepenuhnya mulus. Ini kisah Mas'ud Dompas.

Dream - Ini kisah tentang preman tobat. Belasan tahun berkubang dalam lembah hitam sebuah mimpi menyadarkannya. Mimpi naik sepeda dari rumahnya sampai ke kota Nabi, Madinah.

Mas'ud Dompas, nama pria berusia 51 tahun itu. Dia pria asal Desan Candali, Bogor. Sejak kecil predikat anak badung melekat dalam dirinya.

Malas belajar, Dompas pun hanya menyelesaikan sekolah sampai kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Mengisi waktu kosong, Dompas memutusan menjadi penggembala kambing milik tetangga. Sebelum akhirnya pindah menjadi buruh pabrik kertas, dan petugas bar di sebuah hotel diterimanya.

Disinilah dunia gemerlap malam dan kriminal mulai dikenal. Kebiasaan berjudi dan Narkoba sudah jadi bagi hidupnya.

Beberapa tahun kemudian ia kembali pindah kerja ke wilayah Grogol, Jakarta dan kembali menjadi buruh. Bekerja sebagai kuli hanya kedok belaka, Di waktu sela, dia lebih sering mencopet dan mencuri.

“ Narkoba dan judi kembali jadi sahabat karib saya waktu itu. Makanan sehari-hari,” kata Dompas.

Dan perilaku ini berhasil ia tutup-tutupi dari keluarganya di kampung selama 15 tahun.

Kala Mimpi itu Datang...

1 dari 2 halaman

Kala Mimpi Itu Datang

Seiring umur yang terus berkurang, Dompas mengambil langkah besar. Menikah dengan wanita yang dicintainya. Enam anak lahir dari hasil buah cinta mereka.

Batin Dompas perlahan-lahan mulai menjerit. Apalagi melihat anak pertama beranjak remaja. Dia khawatir kehidupan kelam masa muda akan diikuti mereka. Keputusan diambil. Dia berhenti dari dunia jahatnya.

“ Pernah suatu malam saya bermimipi naik sepeda dari rumahnya sampai ke Madinah. Saya melihat sebuah rumah ibadah berwarna biru. Indah sekali. Hati saya bergetar jika mengingat mimpi itu,” ujar Dompas saat menceritakan pengalamannya seperti dikutip Dream dari keterangan tertulis Alazhar Peduli Umat (APU).

Dompas benar-benar ingin tobat. Hanya kehidupan lurus yang ingin dijalaninya. Meski harus bekerja sebagai penggali pasir, batu kali, dan kuli angkut singkong, dia sudah mantap. Rezeki halal yang ingin diberikan pada keluarganya.

Saat anak ketiganya berusia 7 tahun, keinginan mengajarkan baca Al Quran kepada orang lain mulai timbul. Namun Dompas sadar. Dirinya saja belum mahir membaca Al Quran. Dompas terus belajar mengaji sendiri sambil mengingat-ingat apa yang orang tuanya ajarkan dulu.

Setelah merasa cukup dengan bekal mengaji, murid pertamanya adalah anak laki-lakinya yang bernama Ado. Tak lama kawan-kawan Ado mulai gabung hingga mencapai 10 anak. Mereka belajar di balai bambu depan rumah Dompas setiap bada maghrib.

Disinilah Dompas mulai berpikir. Rumahnya tak lagi sanggup menampung murid-muridnya. Sebuah musholla gubuk bambu berukuran 2x3m dibangun. Hingga murid pun terus berdatangan hingga 20 anak. Mushalla diperluas menjadi 2x4 m.

Jalan Tobat Tak Semulus..

2 dari 2 halaman

Jalan Tobat Tak Selalu Mulus

Hijrah Dompas ternyata tak semulus yang dibayangkan. Aktif mengajar membaca Al Quran, Dompas masih belum bisa meninggalkan kebiasaannya berjudi.

Bahkan musholla yang ia bangun sering ia jadikan tempat judi dengan kawan-kawan lamanya. Bukan tak mau, dia sungkan menolak ajakan temannya.

Hingga 5 tahun kemudian, Dompas dipertemukan dengan LAZ Al Azhar. Mereka ingin merenovasi mushola milik Dompas yang kondisinya sangat memprihatinkan. Hanya terbuat dari bilik bambu dan sekalipun belum pernah direnovasi.

Uluran tangan ditawarkan. LAZ Al Azhar Peduli ingin memberikan material bangunan untuk membangun musholla permanen. Bak rezeki dari langit, Dompas mengamini dan mengerjakan bangunan itu dengan gotong royong.

Kurang dari 2 bulan, Mushola barun sudah berdiri. Dompas tak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Dan warga sekitar tak menyangka mereka bisa punya mushola yang sudah diinginkan sejak lama.

Kesenangannya bertambah ketika mushalla yang diberi nama Mushalla Nur Hikmat saat ini penuh dengan kegiatan majlis taklim, baik dari ibu-ibu, bapak-bapak dan remaja. Saat ini murid yang belajar ngaji bersama Dompas mencapai 45 anak. Bahkan saat ini sudah berdiri PAUD di Mushalla tersebut.

Kini Dompas sudah seratus persen meninggalkan dunia gelapnya. Ia telah menjadi agen perubahan masyarakat yang dahulu kaku dan kurang memperhatikan pendidikan. Dengan Saung Ilmu, anak-anak di desanya saat ini telah memiliki semangat belajar, dan mushalla menjadi sentral kegiatan pendidikan dan keagamaan bagi anak anak, remaja dan ibu-ibu.

Beri Komentar