Lama Nganggur, Abdul Malah Sukses Bangun Pesawat Terbang

Reporter : Eko Huda S
Jumat, 27 Mei 2016 15:02
Lama Nganggur, Abdul Malah Sukses Bangun Pesawat Terbang
Abdul sukses megubah rasa frustasi menjadi semangat berlipat ganda untuk membuat sebuah karya besar.

Dream - Ini kisah Abdul Wajid. Pemuda pengangguran yang sukses mengubah rasa frustasi menjadi semangat berlipat ganda untuk membuat sebuah karya besar.

Pemuda asal Desa Kaserva, Muzaffarnagar, Uttar Pradesh, India, ini sudah bertahun-tahun menganggur. Segala upaya sudah dia lakukan. Tapi tetap saja tak kunjung dapat kerja.

Abdul memang frustasi. Tapi tak lantas patah arang. Dia justru mengubah rasa kecewa itu menjadi semangat. Menyusun proyek raksasa, membangun sebuah pesawat terbang.

Mustahil? Tidak. Pengalaman magang di National Cadet Corps (NCC), memberi bekal pengetahuan aero-modelling. Pelajaran yang dicecap Abdul saat belajar di Bandara Safdarjung tak sia-sia.

Dan lihatlah pesawat rakitan dengan kursi tunggal itu. Dengan biaya Rs 500 ribu atau sekitar Rp 100 juta, burung besi itu siap mengudara. Tinggal menunggu izin terbang sebelum mengudara di langit desanya.

Dengan proyek ini, Abdul ingin menunjukkan kepada semua orang yang meremehkannya, bahwa dia bisa berbuat sesuatu. “ Aku tidak ingin apa-apa lagi,” ujar Abdul, dikutip Dream dari India Times, Jumat 27 Mei 2016.

Dia berharap pesawat rakitan ini menarik perhatian banyak pihak. " Aku yakin industri penerbangan akan tertarik. Seseorang mungkin mempekerjakan aku, melatihku dan menggunakan jasaku," kata dia.

" Setidaknya kepala menteri Uttar Pradesh akan memberiku bantuan dana seperti dia lakukan dalam banyak contoh lain di tahun sebelumnya," tambah Abdul.

Pakai Mesin Sepeda Motor...

1 dari 2 halaman

Pakai Mesin Sepeda Motor

Dinding pesawat rakitan pemuda 26 tahun ini memakai bahan kayu. Beratnya sekitar 350 kilogram. Kerangka dari besi kokoh menjamin kekuatan pesawat sepanjang satu meter ini. Pesawat itu tampak sudah siap untuk terbang.

Sebelumnya, Abdul menggunakan dua mesin sepeda motor untuk pesawat itu. Tapi sayang, mesin ini tak mampu memberikan putaran baling-baling yang cukup untuk memberi daya dorong pada pesawat.

Oleh karena itu, Abdul menggantinya dengan mesin mobil Maruti, yang dibeli dari pengepul barang rongsokan. Total dia habiskan dana sekitar Rp 100 juta untuk pesawat ini. Uang itu dia dapat dari urunan keluarga, teman-teman, dan dermawan lain di desanya

Abdul mengklaim pesawat berbahan bakar minyak dengan tangki berkapasitas 25 liter ini bisa mengudara dengan jarak 10 kilometer. Dia tak khawatir pesawat ini akan gagal saat uji coba.

“ Jika aku mendapat izin yang diperlukan untuk menerbangkan pesawat ini, aku akan memakai parasut,” tutur Abdul.

Ditolak kerja...

2 dari 2 halaman

Ditolak Kerja

Abdul menghabiskan masa kana-kanak di desa. Dia lulus sekolah dasar hingga menengah di kampung. Kemudian dia menempuh dan lulus pendidikan tinggi di Delhi University.

Selama belajr di Universitas Delhi, dia bergabung dengan NCC. Di sanalah dia mendapat ilmu aeromodeling dan mendapat sertifikat dari Angkatan Udara negeri Hindustan.

Belajar di NCC telah membuka kesempatan bagi Abdul untukbelajar di Bandara Safdarjung. Dia juga mengikuti berbagai kamp NCC yang memberinya banyak pengetahuan.

Lulusa dari universitas dan berbagai pelatihan itu, dia mencoba melamar ke berbagai instansi pemerintah. Tapi sayang, tak satu pun lamaran yang diterima.

Putus asa, Abdul memutuskan untuk membuktikan kemampuan. Ya itu tadi.... dia membangun pesawat rakitan yang saat ini tengah menunggu izin untuk uji coba terbang.

Hemant Verma, seorang instruktur aero-modelling di pangkalan Safdarjung, yang menjadi mentor Abdul, menyanjung anak asuhnya itu.

“ Aku mengontaknya lima tahun silam, Abdul menjalani latihan aero-modeling selama tiga tahun dan menunjukkan bakat sejak awal,” kata Verma.

“ Selama pelatihan, kadet diberi pengetahuan teknik bagaimana merakit aero-model yang bisa diterbangkan dengan remot kontrol.”

Kini, izin terbang masih diproses. Pejabat Muzaffarnagar, Manoj Singh, telah memeriksa pesawat rakitan itu. Namun belum bisa memastikan apakah izin bisa diberikan atau tidak.

“ Ini pertama kali permohonan seperti ini diajukan. Pemerintah distrik tidak bisa melakukan apapun dalam masalah ini,” kata Manoj.

“ Hanya kementerian penerbangan yang bisa memberikan izin, tapi ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan,” tambah dia.

Dan Abdul pun berencana menemui menteri penerbangan untuk mendapat izin terbang. “ Jika aku dapat membangun pesawat di desa terpencil, aku juga bisa mendapatkan izin untuk menerbangkannya,” kata Abdul.

Abdul memang belum mengantongi izin terbang. Dan pesawat itu mungkin saja gagal terbang, atau bahkan tak pernah mengudara sama sekali untuk selama-lamanya.

Tapi satu hal yang pasti, Abdul telah berhasil membangun pesawat rakitar. Yang lebih penting, dia sukses mengubah rasa putus asa menjadi sebuah karya besar. Salut!

Beri Komentar