Mahasiswa Australia Keruk Ilmu dari Bawah Laut Indonesia

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 23 Mei 2017 14:28
Mahasiswa Australia Keruk Ilmu dari Bawah Laut Indonesia
Selain ilmu kemaritiman, dia mendapat pengalaman berharga saat berinteraksi dengan masyarakat.

Dream - Mahasiswa ilmu kelautan Cherie Colyer-Morris menghabiskan enam bulan sebagai pekerja magang dalam proyek kelestarian laut di Indonesia pada 2015 di Pulau Padi, Sulawesi Selatan. Cherie mengaku mendapat banyak manfaat dari pengalaman magang itu.

Kepada Australia Plus, Cherie mengatakan akan memanfaatkan hasil magang di Indonesia untuk bahan studi sarjana di University of Newcastle, Australia.

" Saya menjadi sukarelawan di program penjangkauan masyarakat, mengenalkan saya pada persoalan keberlanjutan (ekosistem) yang benar-benar ada di masyarakat," kata Cherie.

" Jika dapat memotivasi mereka, masalah ini akan memiliki solusi yang relatif sederhana," ucap dia menambahkan.

Selama magang, Cherie menjadi tertarik relasi sains dan masyarakat, serta bagaimana membuat perilaku masyarakat berubah.

" Meskipun Anda memiliki jawaban ilmiah, tidak berarti apa-apa sampai Anda bisa menerapkannya, dan orang-orang dapat menggunakannya sendiri," kata dia.

Saat Cherie melanjutkan kuliah ke jenjang berikutnya, dia mendapat kesempatan kembali ke Indonesia. Dia diberi kesempatan magang selama enam bulan sebagai bagian dari beasiswa New Colombo Plan.

Mahasiswi Australia magang untuk jaga terumbu karang© Australiaplus

Beasiswa Colombo Plan bertujuan untuk meningkatkan hubungan Australia dengan negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik, melalui hubungan antarwarga dan lembaga.

" Itu seperti cuti panjang padahal lulus kuliah," kata dia sambil tertawa.

Selama di Indonesia, Cherie magang di Mars Symbioscience Indonesia. Lembaga itu kini sedang menjalankan proyek restorasi terumbu karang terbesar di dunia.

Menurut Cherie, Indonesia punya banyak ekosistem terumbu karang. Tapi, kondisinya terus berkurang karena praktik penangkapan ikan yang merusak misalnya dengan penangkapan ikan dengan sianida dan penangkapan ikan secara sembarangan.

" Habitat mati karena Anda meracuninya dan ikan tersebut akan mati sekitar sebulan kemudian, sehingga orang yang membelinya akan terkena dampak racunnya juga," kata Cherie.

Perbedaan budaya, misalnya bahasa, menjadi tantangan yang harus dia atasi. Tetapi, bagi dia, pengalaman yang luar biasa dari proses magang itu yaitu pengalamannya memahami status dan kedudukan sosial seorang warga masyarakat.

" Ini mengubah cara saya memandang sains. Ini mengubah hidup saya dan saya sangat bersyukur," kata dia.

Beri Komentar