Ada Najis di Karpet atau Kasur, Harus Dicuci?

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 12 Februari 2018 15:00
Ada Najis di Karpet atau Kasur, Harus Dicuci?
Mencuci karpet atau kasur tentu berat dan sulit.

Dream - Najis bisa mengenai benda apa saja. Tidak hanya pada pakaian, najis juga bisa mengenai karpet atau kasur.

Tentu, benda yang terkena najis harus disucikan sesuai dengan kadar najisnya. Apalagi jika pakaian karena kerap digunakan untuk sholat.

Tetapi, sering pula kita jumpai najis mengenai karpet atau kasur. Jika harus dicuci, tentu sangat merepotkan.

Lantas, bagaimana cara menghilangkan najis pada karpet atau kasur? Tetap harus dicuci?

Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, pokok persoalan tentang najis yang menjadi perhatian kajian fikih adalah warna, bau, serta rasa. Sehingga dalam hal ini, hukum najis dibedakan menjadi 'ainiyah dan hukmiyah.

Najis 'ainiyah adalah najis yang berwujud, sedangkan najis hukmiyah adalah najis tak berwujud, namun statusnya tetap najis. Dengan begitu, cara menyucikan kedua najis ini berbeda.

Syeikh Ahmad Zainuddin Al Malibari dalam kitab Fathul Mu'in bi Syarhi Qurratil 'Ain bi Muhimmatid Din, memberikan penjelasan najis 'ainiyah disucikan dengan membasuhkan air hingga sifat najis baik warna, bau dan rasanya hilang. Sedangkan pada najis hukmiyah, cara menyucikannya cukup dengan menuangkan air sekali di bagian yang terkena najis.

Lantas, cara menghilangkan najis dari karpet atau kasur tidak perlu dicuci. Ada langkah yang lebih mudah untuk menghilangkan najis tersebut.

Langkah pertama, membuat najis 'ainiyah pada karpet atau kasur menjadi najis hukmiyah dengan menghilangkan wujud najis, jika ada. Bisa dengan menggunakan air lalu digosok atau disikat kemudian dibiarkan mengering.

Langkah kedua, siramkan air cukup di daerah terkena najis yang sudah ditandai. Air dibiarkan menggenang dan meresap ke dalamnya.

Cara ini dijelaskan oleh Syeikh Ahmad Zainuddin Al Malibari, namun dengan menggunakan tanah sebagai media yang terkena najis.

" Seandainya ada tanah yang terkena najis semisal air kencing lalu mengering, lalu air dituangkan di atasnya hingga menggenang, maka sucilah tanah tersebut walaupun tak terserap ke dalamnya, baik tanah itu keras ataupun gembur."

Selengkapnya...

Beri Komentar