Mengenang Achmad Noeman, Arsitek `Seribu Masjid`

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 5 April 2016 20:01
Mengenang Achmad Noeman, Arsitek `Seribu Masjid`
Noeman merupakan salah satu arsitek kebanggaan Indonesia. Dia telah melahirkan sejumlah karya besar antara lain Masjid Salman ITB, masjid tanpa kubah dan tiang.

Dream - Indonesia baru saja kehilangan salah satu putra terbaiknya. Achmad Noeman, sang arsitek `Seribu Masjid` yang meninggal dunia di usia 90 tahun, pada Senin sore kemarin setelah menjalani perawatan di RS Borromeus, Bandung.

Noeman merupakan arsitek yang membangun sejumlah masjid di Indonesia dan dunia. Beberapa hasil karyanya adalah Masjid Salman ITB, Masjid Al-Hurriyah, Institut Pertanian Bogor (IPB), Masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki, Masjid At Tin Jakarta, Masjid Indonesia di Sarajevo Bornia.

Dia dikenal sebagai pelopor bangunan masjid tanpa kubah dan tiang. Seluruh masjid yang dirancang tidak memiliki kolom di dalam ruangannya.

Noeman lahir di Garut, 10 Oktober 1926. Ayahnya, Muhammad Jamhari merupakan saudagar dan ulama yang bergelut di organisasi kemasyarakatan Muhammadiyah.

Semasa hidup, Jamhari mendirikan sejumlah bangunan untuk fasilitas pendidikan di lingkungan Muhammadiyah Garut seperti sekolah, asrama, sampai masjid. Hal ini membuat Noeman tertarik dengan dunia arsitektur sejak kecil.

Noeman kecil mulai bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Budi Priyayi, sekolah setingkat SD, di Garut. Dia lalu melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderweijs (MULO) setingkat SMP di Garut.

Di tengah jalan, situasi mengharuskan Noeman pindah ke MULO Yogyakarta lantaran sekolahnya di Garut ditutup. Dia kemudian melanjutkan ke SMA Muhammadiyah Yogyakarta.

Karena ada pemberlakuan wajib militer oleh Pemerintah Republik saat itu, Noeman tidak melanjutkan pendidikan di SMA Muhammadiyah Yogyakarta dan bergabung dengan Divisi Siliwangi dan ditugaskan di Jakarta. Di sela bertugas, Noeman melanjutkan sekolah di SMA Republik di Jakarta.

Lulus SMA Republik, Noeman ingin mewujudkan cita-citanya menjadi arsitek dengan berkuliah di Universitas Indonesia cabang Bandung, yang kelak berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sayangnya, universitas ini tidak memiliki jurusan arsitektur, sehingga Noeman memutuskan kuliah di jurusan pembangunan Fakultas Teknis Sipil pada 1948.

Setahun kemudian, kekuasaan militer beralih dari Belanda ke TNI, dan dibentuk Corps Polisi Militer (CPM). Noeman menjadi salah satu anggota di kesatuan tersebut.

Dia menjalani karir sebagai tentara dalam beberapa tahun dan terpaksa meninggalkan kuliah. Pada 1953, karena ITB membuka jurusan arsitek, Noeman memutuskan menghentikan karir militernya untuk mengejar cita-cita sebagai arsitek dan lulus pada 1958.

Lulus dan bergelar insinyur, Noeman diproyeksikan mengambil program magister arsitektur di Kentucky, Amerika Serikat oleh almamaternya. Tetapi, promosi tersebut tidak diambilnya dan lebih memilih membuka perusahaan jasa arsitektur Biro Arsitek Achmad Noeman (Birano) sekaligus mengajar di ITB.

Pada 1959, Noeman memiliki ide untuk membangun sebuah masjid di lingkungan kampus ITB. Ide ini muncul lantaran melihat para mahasiswa Muslim harus berjalan kaki sejauh 2,5 kilometer untuk salat berjamaah.

Ide tersebut dia sampaikan kepada Rektor ITB kala itu dijabat oleh Kokasih. Sayangnya, ide tersebut ditolak dengan alasan tidak ingin menimbulkan kecemburuan di kalangan dosen beragama lain.

Ide Noeman ternyata diketahui oleh seorang mahasiswanya, Ajat Sudrajat. Ajat kemudian menyampaikan ide tersebut ke pamannya yang merupakan anggota Resimen Tjakrabirawa, Mayor Sobur, hingga akhirnya sampai ke telinga Presiden Soekarno.

Bung Karno lantas memanggil Noeman ke Istana Negara. Bersama Menteri Agama, Noeman bertemu dan menyampaikan idenya kepada Bung Karno, lengkap dengan gambar arsitektur masjid yang ternyata sudah dibuatnya selama dua tahun.

Tidak butuh waktu lama, Bung Karno langsung menyatakan persetujuannya. Bahkan, Bung Karno sendiri yang memberi nama masjid tersebut dengan nama Salman, terinspirasi dari panglima perang yang terkenal cerdas masa Rasulullah Muhammad SAW, Salman Al Farisi.

Pembangunan masjid tersebut dimulai pada 1964 dan diresmikan pada 1972. Berdirinya Masjid Salman membuat nama Noeman berkibar di dunia arsitektur Indonesia, bahkan dunia.

Bentuk arsitektur Masjid Salman sebenarnya sempat mendapat cemoohan lantaran tidak memiliki kubah. Tetapi, Noeman kemudian menjelaskan tidak ada aturan baku dalam Alquran yang mengharuskan masjid harus memiliki kubah.

Di samping itu, Noeman berpandangan bentuk kubah memiliki beban yang berat dan harus disangga dengan tiang. Tiang penyangga harus dibangun tepat di tengah area salat.

Bagi Noeman, hal itu justru menghalangi shaf dan membuat jemaah terhalangi ketika memandang khatib.

(Ism, Berbagai sumber)

Beri Komentar