Perjuangan Dai Ikun Cerdaskan Pelajar di Dusun Terpencil

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 12 April 2016 18:31
Perjuangan Dai Ikun Cerdaskan Pelajar di Dusun Terpencil
Sekitar 1 jam para pelajar meniti jalan untuk bisa sampai ke sekolah. Saat hujan, sudah dipastikan sekolah libur karena jalanan ke sekolah sudah berubah menjadi lumpur.

Dream - Pandangan berbinar terpacar dari wajah sekelompok anak SD dan SMP di Dusun Mekarsari, Kelurahan Batu Tritip, Kecamatan Sei Sembilan, Kota Dumai, Provinsi Riau. Mata mereka tertuju pada tumpukan buku. Sesekali, senyum merekah di bibir mereka.

Buku-buku itu baru beberapa waktu lalu sampai di rumah Ustaz Ikun, yang juga berfungsi sebagai ruang baca dengan nama Saung Ilmu. Ya, rumah itu menjadi semacam ruang berinteraksi bagi anak-anak di dusun Mekarsari.

Buku tersebut merupakan fasilitas yang diberikan oleh Lembaga Amil Zakat Al Azhar Peduli Ummat (LAZ APU) untuk mendukung tugas Ustaz Ikun selaku Dai Sahabat Masyarakat (Dasamas).

Anak-anak itu langsung menyerbu tumpukan buku setelah mendapat izin dari Ustaz Ikun. Mereka mengambil satu eksemplar, sejenak memandangi sampulnya, lalu mencari tempat nyaman untuk membaca.

Sayangnya, ruang membaca mereka begitu sempit. Ditambah cuaca yang panas membuat mereka kurang nyaman.

Tanpa pikir panjang, anak-anak itu berlarian ke kebun sawit yang ada di sekitar Saung Ilmu. Mereka mencari tempat cukup teduh. Begitu dapat, segera saja mereka duduk dan mulai membaca.

" Belajar di bawah pohon sawit lebih enak, adem dan santai, Pak," kata mereka.

Mekarsari merupakan dusun yang letaknya sangat terpencil. Untuk bisa sampai ke sana, butuh waktu tiga jam perjalanan dari Kota Dumai, menyusuri jalanan yang belum memadai.

Aliran listrik belum masuk ke dusun ini. Sehingga untuk kebutuhan penerangan di malam hari, warga mengandalkan listrik alternatif dari tenaga surya atau mesin diesel.

Untuk fasilitas pendidikan, hanya ada satu sekolah dengan tiga ruang kelas. Sekolah itu akan digunakan untuk SD sekaligus SMP. Siswa SMP harus menunggu SD selesai terlebih dulu jika ingin menggunakan ruang kelas tersebut.

Tidak semua siswa tinggal di dekat sekolah. Bagi siswa yang tinggal di ujung kampung, mereka harus menempuh jarak 6 kilometer dengan berjalan kaki.

Rata-rata, mereka membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk bisa sampai ke sekolah. Saat hujan, sudah dipastikan sekolah akan diliburkan lantaran para siswa tidak bisa pergi ke sekolah akibat jalanan berubah menjadi lumpur.

Hal itu berdampak pada jenjang pendidikan anak-anak di sana hanya sampai SMP. Jika ingin melanjutkan ke jenjang SMA, mereka harus merantau ke luar kampung.

Alhasil, pengetahuan anak-anak di dusun ini sangat terbatas. Padahal, minat belajar mereka begitu tinggi.

Menyadari hal ini, LAZ APU bekerjasama dengan Serasi Alam Indonesia (SERAI) membangun Saung Ilmu, dengan menunjuk Ustaz Ikun sebagai pendamping. Program ini ternyata cukup diminati masyarakat sekitar. Sebanyak 30 anak telah bergabung dan berkegiatan di program ini.

Sumber: Humas LAZ APU

Beri Komentar