Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Konferensi Pers (Dok YAICI)
Dream - Sebanyak 22,3 persen warga di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masing menganggap kental manis sebagai susu. Padahal kental manis sebenarnya bukanlah susu, melainkan minuman gula yang ditambahi susu.
Temuan tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) terhadap 1.000 responden di Kabupaten Bantul, Sleman, Kulonprogo, dan Gunungkidul, pada Juni lalu. Dalam penelitian ini, YAICI turut menggandeng PP Aisyiyah dan Universitas Aisyiyah (Unisa).
Dari 1.000 responden, sebanyak 22,3 persen atau 231 ibu di empat kabupaten tersebut menganggap kental manis adalah susu
“ Hasil temuan YAICI dan Aisyiyah menunjukkan masih banyak kental manis diberikan kepada anak dan orang tua sebagai minuman susu pada masyarakat marjinal,” kata Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat, dalam keterangannya, Senin 21 Agustus 2023.
Dari temuan ini juga diketahui bahwa 5,3 persen balita masih diberikan kental manis sebagai susu pendamping ASI. Sedangkan sebanyak 27 persen lainnya kental manis dikonsumsi orangtua sebagai susu.
Arif Hidayat mengungkapkan bahwa anggapan ini diteruskan maka akan berdampak tidak baik bagi kesehatan. Balita yang konsumsi kental manis terindikasi dan berpotensi mengalami malnutrisi, seperti gizi buruk, stunting, maupun obesitas.
“ Karena kental manis itu bukan susu, jadi perannya tidak bisa menggantikan susu. Kadar gula dalam kental manis cukup tinggi sehingga sangat tidak baik jika harus dikonsumsi balita maupun anak-anak,” jelasnya.
Arif menambahkan, anggapan kental manis sebagai susu memang sudah lama terbentuk dalam masyarakat.
Dari penelitian ini diharapkan masyarakat akan lebih tahu tentang dampak yang dapat ditimbulkan dari mengkonsumsi kadar gula tinggi, sehingga dengan demikian masyarakat tidak lagi menganggap kental manis sebagai susu.
Guru Besar Gizi Universitas Muhammadyah Jakarta (UMJ) sekaligus wakil ketua penelitian, Tria Astika Endah Permatasari mengungkapkan tanpa disadari apa yang konsumsi sehari-hari oleh masyarakat mengandung gula.
Dia membagi gula ke dalam tiga jenis, yakni free sugar, gula alami yang terdapat pada sayur dan buah, kemudian hidden sugar.
“ Hidden sugar adalah gula tambahan yang disamarkan di dalam produk dengan nama-nama tertentu, salah satunya pada kental manis. Sering kali konsumen tidak menyadari bahwa itu juga termasuk jenis gula,” ungkapnya.
Walau gula akan berdampak tidak baik bagi kesehatan, bukan berarti masyarakat tak boleh mengonsumsinya sama sekali. Menurutnya, gula tetap diperlukan tubuh, namun kadarnya harus dibatasi.
Tria mengungkapkan, untuk orang dewasa kebutuhan gula berkisar 35 - 40 gram perhari. Sedangkan untuk anak-anak direkomendasikan antara 20 - 25 gram perhari.
Tria menambahkan masa balita terutama pada dua tahun pertama kehidupan merupakan masa tumbuh kembang, di mana kebutuhan protein sangat tinggi.
Banyak sumber protein dapat diperoleh, salah satunya dari susu. Kandungan protein dalam kental manis pada takaran saji hanya 1 gram saja, sedangkan kandungan gula yang dimiliki sampai 20 gram. Sementara untuk balita, kebutuhan protein yang harus dicukupi mencapai 9 - 25 gram sehari.
“ Kalau misalnya seorang ibu mengajarkan kental manis asupan utama sebagai susu dengan 3 kali sehari, maka itu hanya akan memenuhi 3 gram protein sehari. Kalau masih pada kental manis (dijadikan sumber protein) yang utama, ini akan menjadi bahaya bagi generasi yang akan datang,” pesannya.
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih


6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya