Mata Bayi Selalu Dipenuhi Kotoran? Bisa Jadi Infeksi Bakteri

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 20 September 2022 09:12
Mata Bayi Selalu Dipenuhi Kotoran? Bisa Jadi Infeksi Bakteri
Ada yang normal dan ada yang butuh penanganan dari dokter sesegera mungkin.

Dream - Salah satu masalah pada mata bayi yang sering membuat orangtua resah adalah dipenuhi kotoran atau belekan. Terutama setelah bangun tidur, mata si kecil dipenuhi belek yang telah mengering.

Sebisa mungkin pasti kita membersihkan dengan kassa steril yang sudah dibasahi dengan sedikit air. Setelah beberapa jam kemudian, muncul lagi dan kadang jumlahnya cukup banyak.

Rupanya, menurut KlikDokter, munculnya belek pada mata bayi cukup normal terutama pada bayi yang baru lahir. Hal tersebut karena adanya sumbatan kelenjar air mata.

Bila belekan disertai dengan mata merah, bengkak, atau nyeri bisa jadi merupakan pertanda infeksi atau gangguan mata lainnya. Jika mengalami kondisi seperti ini, tentu harus segera membawa bayi ke dokter. Lalu apa saja penyebab mata belekan pada bayi?

1. Kondisi Normal
Pnyebab mata bayi belekan bisa karena sumbatan kelenjar air mata atau disebut dakryostenosis. Air mata dibentuk di dalam kelenjar air mata yang terletak di atas mata.

Air mata berperan untuk membersihkan dan melubrikasi permukaan mata. Penyumbatan pada kelenjar air mata dapat menyebabkan mata menjadi sangat berair dan keluar belekan dari ujung mata.

Menurut data The American Academy of Ophtalmology, sekitar 20 persen bayi baru lahir mengalami hal tersebut. Kondisi ini terjadi karena ujung kelenjar air mata tidak dapat membuka dengan baik saat bayi baru lahir.

Sebetulnya kondisi ini dapat hilang sendiri saat bayi menginjak usia 4-6 bulan. Penting untuk membersihkan kotoran mata bayi menggunakan kassa atau waslap yang dicelup dengan air suam-suam kuku, kemudian dibersihkan pada ujung mata. Pastikan saat membersihkan, tangan dalam keadaan bersih.

 

1 dari 5 halaman

2. Konjungtivitis Gonore

Bakteri Neisseria gonorrhoeae dapat menyebabkan konjungtivitis gonore pada mata bayi. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi menular seksual gonore pada ibu hamil yang ditularkan kepada bayi saat proses persalinan.

Gejala konjungtivitis gonore antara lain mata belekan (biasanya sekret yang tebal), mata merah, dan pembengkakan kelopak mata. Pada umumnya kondisi ini terjadi pada usia bayi 2-5 hari. Untuk mengatasinya, dibutuhkan antibiotik yang disuntikkan. Jika tidak ditangani, maka dapat menyebabkan luka pada mata dan dapat menyebabkan kebutaan.

 

2 dari 5 halaman

3. Konjungtivitis Klamidia

Bakteri Chlamydia trachomatis dapat menyebabkan infeksi pada mata yang disebut konjungtivitis. Bayi dapat tertular kondisi ini dari ibu melalui proses persalinan.

Gejala konjungtivitis klamidia hampir mirip dengan konjungtivitis gonore, yaitu mata merah, pembengkakan pada kelopak mata, dan mata belekan yang biasanya terjadi saat 5-12 hari setelah bayi lahir.

Gejala-gejala tersebut dapat muncul lebih cepat jika terjadi ketuban pecah dini. Selain pada mata, bayi juga dapat mengalami infeksi pada tenggorokan dan paru. Untuk mengatasinya, dibutuhkan pengobatan berupa antibiotik.

 

3 dari 5 halaman

4. Konjungtivitis karena Bahan Iritan

Penyebab bayi belekan berikutnya adalah iritasi karena obat tetes mata. Biasanya dapat hilang dengan sendirinya dalam 24-36 jam. Selain mata belekan, dapat terjadi juga mata merah pada bayi dan pembengkakan pada mata.

5. Konjungtivitis Karena Bakteri atau Virus
Selain karena Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae, infeksi mata yang menyebabkan mata bayi belekan juga bisa disebabkan oleh bakteri dan virus lain, semisal bakteri normal di dalam vagina atau virus seperti herpes.

Kondisi ini biasanya ditularkan saat proses persalinan. Selain mata bayi belekan, gejala lain dapat berupa mata merah dan pembengkakan pada kelopak mata. Bila mata belekan tak kunjung mereda dan bertambah parah, segera periksakan si kecil ke dokter anak.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

4 dari 5 halaman

Ternyata Pemakaian Gurita Pada Bayi Bisa Berbahaya

Dream - Menyambut bayi yang segera lahir, para orangtua pastinya menyiapkan banyak perlengkapan. Salah satu yang selalu ada dan jadi kebiasaan orang Indonesia adalah membeli gurita bayi.

Gurita ini berupa kain untuk menutup perut. Ada yang bentuknya dilengkapi tali yang mudah diikat atau dilengkapi velcro untuk direkatkan.

Banyak yang percaya, gurita bisa membuat bayi baru lahir jadi lebih merasa hangat seperti saat masih di kandungan. Gurita juga dianggap bisa mencegah kembut dan membuat perut bayi tak buncit.

Gurita bayi© Gurita bayi

Benarkah demikian? Menurut Bidan Ony lewat akun Instagram @bidankriwil, pemakaian gurita justru bisa membahayakan bayi.

" Jangan pakaikan gurita ke bayimu. Gurita dapat menggangu pernapasan bayi sehingga bayi mudah sesak napas," ungkap bidan yang suka memberi edukasi kesehatan kehamilan dan anak ini.

 

5 dari 5 halaman

Efek lain dari penggunaan gurita adalah, bayi biasanya menjadi lebih mudah mengalami gumoh dan muntah saat menggunakannya. Bisa jadi hal ini karena ikatan atau rekatannya terlalu kencang.

Gurita juga dapat mengganggu perkembangan organ pencernaan bayi. Lebih baik, menurut bidan Ony, tak perlu menyediakan dan memakaikan gurita. Ada cara lain yang lebih aman untuk memastikan si kecil selalu hangat.

" Kenakan kaos dalam untuk menjaga kehangatan bayi, jika dingin tambahkan bedong, topi dan sarung tangan serta kaos kaki," pesan bidan Ony.

Sumber: Instagram @bidankriwil

Beri Komentar