Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Hubungan suami istri tentunya mengalami pasang surut. Ada kalanya konflik begitu meruncing hingga menyebabkan emosi yang keluar jadi tak terkendali. Tak melihat situasi, ayah dan ibu bertengkar hebat di depan anak.
Bukan hanya adu argumentasi, bahkan hingga saling berteriak menyalahkan atau memaki. Efek pda anak yang melihat tentunya akan memunculkan trauma mendalam. Penelitian menunjukkan bahwa paparan amarah dapat menciptakan pola perilaku yang mempengaruhi sosialisasi masa depan, manajemen emosi, dan harga diri. P
" Anak-anak terus-menerus belajar dari lingkungan mereka, terutama hubungan utama mereka. Konflik tak bisa dihindari, yang harus ditanamkan adalah bagaimana menghadapinya dengan baik," kata Shanna Donhauser, seorang psikolog keluarga, seperti dikutip dari Fatherly.
Donhauser mengidentifikasi tiga langkah untuk membantu orangtua mendampingi anak-anak mereka setelah trauma menyaksikan pertengkaran orangtuanya. Bersikap seolah pertengkaran tak terjadi, merupakan kesalahan besar.
Pertengkaran orangtua meninggalkan luka, rasa takut dan tidak nyaman ada anak-anak. Membiarkan anak mengatasi emosinya sendiri akan berdampak fatal pada kesehatan mentalnya kelak.
Cobalah cara berikut untuk menenangkan anak setelah ayah dan ibu bertengkar. Segera perbaiki kesalahan dan hadapi anak dengan bijak
© Dream
Orangtua perlu mengatur emosi mereka sendiri sebelum membahas apa yang terjadi. Hadapi anak dengan tenang dan katakan padanya, setiap orang memiliki kecenderungan untuk mempertahankan argumentasinya.
Katakan pada anak, pertengkaran yang mereka lihat sebaiknya tidak dicontoh. Ungkapkan maaf karena membuat anak merasa takut dan khawatir. Tenangkan juga anak-anak dan katakan padanya kalau ayah dan ibu menyayanginya.
© Dream
Jangan lupa untuk menanyakan bagaimana perasaan anak. Kenali emosi yang dialaminya. Bisa jadi anak malah merasa benci atau kesal dengan orangtuanya. Jika demikian, meminta maaf lah.
Bila anak merasa takut, coba tenangkan dan katakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Pastikan anak mengeluarkan dan membicarakan emosinya.
© Dream
Kesalahan sebaiknya tidak diulangi lagi. Apapun kondisinya, hindari bertengkar hebat di depan anak. Sebisa mungkin lakukan di area tertutup, jangan sampai anak mendengar atau melihatnya. Jika keadaan sudah membaik, cobalah kembali rekatkan kehangatan keluarga.
Sumber: Fatherly
© Dream
Dream - Memiliki anak merupakan sebuah tanggung jawab besar. Bukan hanya sekadar hamil, melahirkan dan memberinya nafkah materi, tapi sebuah komitmen jangka panjang atas amanah yang diberikan oleh Allah SWT.
Dibutuhkan kesiapan mental, fisik, finansial serta perencanaan masa depan yang baik saat anak hadir ke dunia. Tak heran kalau beberapa orangtua memutuskan untuk hanya memiliki satu anak saja.
Keberadaan anak tunggal ini kerap kali mendapat stigma negatif. Seperti manja, egois serta tak kenal kompromi karena dianggap terbiasa selalu dipenuhi keinginannya saat di rumah. Benarkah demikian?
Ketahui pendapat Denise Duval Tsioles, Ph.D., direktur Child Therapy Chicago dan Susan Newman, Ph.D., penulis buku " The Case for the Only Child: Your Essential Guide and Parenting an Only Child" .
© Dream
Beberapa orang beranggapan bahwa ketika dibesarkan sebagai anak tunggal, maka anak tidak akan belajar berbagi, berkomunikasi atau berinteraksi dengan anak-anak lain. Pendapat ini sangat tidak tepat.
" Anak-anak memiliki banyak kesempatan untuk sosialisasi, terutama ketika mereka bersekolah. Mereka berinteraksi dengan anak-anak lain sepanjang hari di sekolah, selama kegiatan ekstrakurikuler dan di berbagai fungsi sosial dan teman sebaya lainnya," kata Duval.
Dalam sebuah studi berjudul " Good for Nothing: Number of Siblings and Friendship Nominations Among Adolescents,” yang diterbitkan dalam Journal of Family Issues, para peneliti meminta 13.500 anak-anak untuk menyebutkan sepuluh teman. Diketahui ternyata anak tunggal cukup populer di antara teman sebayanya dibanding mereka yang memiliki saudara.
© Dream
Banyak yang bertanya, apakah anak akan merasa kesepian? Faktanya, justru memiliki waktu sendiri sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak dan bahkan dapat membentuk karakternya jadi lebih kuat.
Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Personality and Social Psychology Bulletin kesendirian dapat menyebabkan relaksasi dan mengurangi stres ketika individu secara aktif memilih untuk menyendiri. Menurut Newman lebih baik orangtua mengarahkan anak untuk memiliki kegiatan yang positif agar tak merasa kesepian.
3. Keuntungan menjadi anak tunggal
“ Salah satu keuntungan menjadi anak tunggal adalah bahwa tidak ada persaingan saudara kandung, tidak ada perselisihan dan tidak ada agresi verbal antara saudara,” kata Dr. Newman.
Lagipula tak selamanya hubungan kakak beradik bisa berjalan baik, justru konflik terjadi seumur hidup. Saudara kandung tidak selalu saling menyukai, bahkan hingga dewasa.
4. Sering dianggap egois
Stereotip yang dimiliki banyak orang tentang anak tunggal sebenarnya berkaitan dengan temperamen. Menurut Dr. Duval Tsioles, beberapa anak tunggal dilahirkan dengan temperamen yang lebih sensitif, intens, dan reaktif.
" Anak tunggal cenderung perasa dan sangat reaktif. Jadi ketika sesuatu terjadi atau tidak berjalan seperti yang mereka bayangkan, mereka cenderung memiliki reaksi yang lebih kuat, dan dianggap sebagai keegoisan," ujar Duval.
Dalam artikel yang dipublikas di Scientific American yang mengatakan bahwa menjadi anak tunggal bukanlah cara yang negatif atau " kurang sehat" untuk tumbuh dewasa. Menjadi anak tunggal hanya salah satu cara dan keputusan yang berbeda, dari keluarga kebanyakan.
Sumber: PureWow