Tuai Kecaman, Orangtua Hukum Anak Menonton TV Semalaman

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 7 Desember 2022 12:35
Tuai Kecaman, Orangtua Hukum Anak Menonton TV Semalaman
Sang putra tak diizinkan tidur sama sekali.

Dream - Tiap orangtua punya cara sendiri dalam mendisiplinkan anak. Pastikan konsekuensi atau hukuman yang diberikan tidak menyiksa anak. Orangtua di Cina, baru saja membuat heboh publik setempat karena menerapkan hukuman yang dianggap terlalu keras untuk anaknya.

Anak lelaki mereka yang berusia delapan tahun dihukum untuk menonton TV sepanjang malam. Hukuman diberikan karena sang anak tidak mengerjakan PR. Awalnya si anak di rumah sendirian dan orangtuanya pergi.

Ayah ibunya mengultimatum putranya agar menyelesaikan PR dan tidur tepat waktu. Sesampainya di rumah ternyata sang putra belum mengerjakan PR, belum mandi dan menonton TV.

Alhasil, bocah itu dihukum menonton TV semalaman. Pada awalnya, sang anak masih tenang menonton TV sambil menyantap camilan. Lalu ketika malam ia merasakan lelah dan ingin tidur di kamarnya.

1 dari 4 halaman

Oleh orangtuanya ia tak diizinkan untuk tidur dan memaksanya untuk terus bangun menonton TV. Sang anak akhirnya menangis, kedua orang tuanya bergantian mengecek anaknya sampai jam 5 pagi untuk memastikan kalau ia masih terbangun.

Anak menonton televisi© Shutterstock

Cerita soal hukuman ini dibagikan orangtua tersebut di Weibo, media sosial yang populer di China, dan menjadi topik perdebatan. Banyak yang merespons kalau hal yang dilakukan orangtua tersebut berlebihan dan termasuk menyiksa anak.

Penerapan kedisplinan pada anak-anak di China rupanya cenderung sangat keras. Hal ini membuat pemerintah China pada Oktober 2021, Cina menyusun undang-undang untuk menghukum orangtua atas perilaku buruk kepada anak-anak.

Laporan: Meisya Harsa Dwipuspita/ Sumber: Times of India

2 dari 4 halaman

Jenis Hukuman Bagi Anak yang Harus Dihindari Orangtua

Dream - Dalam proses tumbuh kembangnya, anak-anak kerap melakukan kesalahan. Dari hal tersebut anak bisa mengalami banyak hal, misalnya kehilangan barang, kecewa, sedih hingga merugikan orang lain.

Saat anak melakukan kesalahan, sebagai bentuk pembelajaran, orangtua memberikannya hukuman. Hal ini sebagai bentuk pendisiplinan agar anak bisa menyadari kesalahannya dan tak mengulangi lagi. Sayangnya, tak semua hukuman bisa berdampak positif bagi perilaku anak.

Ada beberapa hukuman yang justru berefek sebaliknya, malah berdampak negatif. Hukuman ini disebut hukuman negatif. Apa itu? Yaitu hukuman yang memahami bahwa penambahan, pengurangan, kesenangan, dan rasa sakit adalah semua variabel yang dapat diterapkan secara strategis untuk mengubah perilaku.

Menurut Skinner, sebagian besar hukuman tidak membantu orangtua untuk memodifikasi perilaku anak. “ Saya biasanya mencoba untuk tidak memberi label konsekuensi sebagai hukuman karena memberikan konotasi negatif dan mengimbangi tujuan pembelajaran yang coba kita ajarkan kepada anak,” kata Dr. Rashmi Parmar, seorang psikiater di MindPath Care Centers, dikutip dari Fatherly.

Dengan kata lain, konsekuensi mungkin merupakan cara yang lebih baik untuk membuat anak belajar dari kesalahan. Ada perbedaan antara mengambil sesuatu dari anak seperti menyita gadget saat ia tak membereskan kamar, dalam upaya untuk mengubah perilakunya. Lebih baik cari cara lain yang membuat anak secara langsung merasakan konsekuensinya.

 

3 dari 4 halaman

Pilih Konsekuensi dengan Hati-hati

Orang tua harus memilih konsekuensi dengan hati-hati. Membatasi hak istimewa, misalnya, mengharuskan anak-anak tidak mengaksesnya melalui cara lain, jika tidak, konsekuensi aslinya akan kehilangan maknanya.

" Selanjutnya, semua anggota keluarga, seperti ayah, pengasuh atau mungkin kakek neneknya harus berada di 'jalur' yang sama dalam memberikan konsenkuensi. Cobalah untuk mengidentifikasi dan menghilangkan pemicu yang mengarah pada perilaku negatif anak," kata Parmar.

“ Saya biasanya menyarankan orangtua untuk menghindari mengambil hal-hal yang akan membantu anak-anak mengelola emosi mereka secara positif selama konsekuensinya, seperti mainan sensori, mewarnai, atau menggambar,” kata Parmar.

 

4 dari 4 halaman

Anak Bisa Belajar dari Hukuman

Ia tidak merekomendasikan menahan anak-anak untuk tidak menghadiri acara-acara khusus seperti pesta kelulusan atau perayaan yang tak bisa mereka hadiri kembali. Parmar memperingatkan bahwa bahayanya menerapkan konsekuensi seperti itu adalah dapat menyebabkan anak memendam perasaan yang keras seperti dendam.

“ Konsekuensinya harus realistis, logis, dan ditentukan untuk periode tertentu yang sesuai dengan beratnya perilaku negatif yang coba diperbaiki,” kata Parmar.

Konsekuensi yang terlalu panjang juga menimbulkan bahaya anak teralihkan dari tujuannya dan akhirnya tidak peduli dengan konsekuensinya sama sekali. Jenis penerapan disiplin yang efektif membutuhkan kejernihan pikiran orangtua dan anak akan menerimanya meskipun berat melakukannya. Anak akan belajar efek dari kesalahannya.

Beri Komentar