Bulan Safar Dulu Dianggap Kesialan, Namun Rasulullah Mendobrak Anggapan Itu (Foto: Ilustrasi)
Dream - Tak terasa bulan Muharam telah meninggalkan kita. Minggu, 12 Oktober 2018, umat Islam sudah memasuki bulan Safar hari ke-12.
Di zaman Arab Jahiliyah, Safar sempat dianggap sebagai bulan sial. Anggapan itu muncul karena kata Safar dalam hadis bisa juga bermakna kesialan.
Namun dalam Islam, tak ada satupun hari, apalagi bulan, yang dianggap sial. Seorang ulama bahkan menjelaskan alasan di balik pemberian nama Safar.
Ibnu Mandzur dalam Lisanul ‘Arab menyatakan nama Safar diambil “ Karena kosongnya Mekah dari penduduknya apabila mereka bepergian.” (Ibnu Mandzur, Lisânul ‘Arab, Dar el-Shâdir, Beirut, juz 4).
Di bulan ke dua Hijriah ini malah banyak peristiwa penting dalam dunia keislaman yang terjadi di masa Rasulullah Muhammad SAW, khulafaur rasyidin, dan masa setelah kekhalifahan.
Mengutip laman NU.or.id, Habib Abu Bakar al-‘Adni dalam Mandzumah Syarh al-Atsar fî mâ Warada ‘an Syahri Safar, menyebutkan Rasulullah melakukan tradisi-tradisi yang baik di bulan ini guna menggugurkan anggapan negatif orang-orang pada masa jahiliah.
Di antara tradisi baik yang beliau mulai yaitu:
1. Rasulullah menikah dengan Khadijah
Di bulan ini, Rasulullah melangsungkan pernikahan dengan Sayyidah Khadijah al-Kubra di hari-hari di bulan Safar. Pernikahan itu berlangsung sebelum datang wahyu dari Allah (sebelum masa kenabian).
2. Menikahkan Putrinya, Siti Fatimah
Tak hanya untuk dirinya, Rasulullah juga diketahui menikahkan putrinya, az-Zahra di bulan safar.
3. Peperangan
Tak hanya pernikahan, di bulan Safar ini juga terjadi perang pertama dalam sejarah Islam. Perang Abwa diperkirakan terjadi di permulaan bulan ini.
Apalagi peristiwa penting lain di bulan safar, klik di sini
(Sah/ Sumber: nu.or.id)