Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Meskipun Perdana Menteri Australia sudah mengeluarkan larangan untuk bepergian ke luar negeri awal Maret lalu, 30 orang tetap datang ke pesta pernikahan di Bali akhir bulan lalu. Alhasil, tujuh di antara 30 orang itu dinyatakan positif terinfeksi virus corona.
Pasangan asal Newcastle, Inggris, Matt dan Jess Muir, tetap menggelar pesta pernikahan kecil-kecilan di tengah pandemi Covid-19. Mereka mengundang hanya 30 orang dari 120 tamu yang direncanakan di awal.
Pesta pernikahan ini dilangsungkan di Villa Shalimar, Canggu, pada 20 Maret 2020, dikutip dari news.com.au.
Dalam postingan Instagram, pengantin wanita mengucapkan terima kasih kepada kerabat dan keluarga atas 'pengorbanan' mereka dalam berpergian ke luar negeri untuk hadir di resepi perkawinannya.
" Saya menghargai dan berterima kasih atas pengorbanan yang mereka lakukan untuk merayakan hari istimewa kita! Ini sangat berarti untuk kita berdua!," tulis pengantin wanita tersebut.
Beberapa hari usai resepsi berakhir, 30 orang tersebut kembali ke Australia. Tujuh tamu di antaranya dinyatakan positif terpapar Covid-19.
" Kami semua pulang, kami bahkan tidak tahu kami mengalaminya, tidak ada gejala," ujar salah satu tamu terinfeksi Covid-19.
Beruntung, tujuh orang tersebut sudah kembali pulih. Mereka bersyukur tidak ada yang harus menjalani perawatan di rumah sakit.
" Satu orang tes dan positif sehingga kami semua tes. Penyakitnya tidak semengerikan yang saya bayangkan, saya pernah mengalami mabuk yang lebih buruk," kata dia.
Semua warga Australia yang telah melakukan perjalanan ke luar negeri dan kembali, harus melakukan isolasi di fasilitas yang disediakan pemerintah selama 14 hari. Menurut beberapa orang yang harus di rawat, berada di fasilitas pemerintah seperti menghabiskan waktu di ruangan terkunci.
Dream - Sudah hampir tiga bulan Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan virus corona sebagai pandemi global. Ancaman kesehatan ini menjadi pukulan terhadap ekonomi, terutama sektor pariwisata di Bali.
Tetapi, ada yang unik dengan kasus Covid-19 di Pulau Dewata. Hingga saat ini, tercatat hanya ada 86 pasien positif Covid-19 dengan angka kematian 2 pasien.
Padahal, sejumlah studi ilmiah menyatakan Indonesia dengan wilayahnya yang luas dianggap sebagai 'bom waktu virus corona' di Asia tenggara. Salah satu alasannya, tingginya kasus positif corona yang mencapai 4.839 pada 14 April, dengan kasus terbesar di Pulau Jawa.
Fakta ini membuat heran media dan blogger-blogger asing, apalagi selama ini Bali dikenal sebagai destinasi wisata dunia. Bahkan, Bali sendiri masih membuka perbatasan internasional hingga Maret lalu ketika corona mulai merajalela.
" Saya juga merasa bingung karena itu tidak masuk akal," kata blogger yang tinggal di Ubud, Rio Helmi, dikutip dari Asia Times.
" Kami tidak memiliki data, tetapi ada tanda lonjakan kematian," lanjut dia.
Bukan hanya itu, di Bali nampaknya tidak ada rumah sakit yang kewalahan dalam menangani pasien Covid-19.
'Misteri' ini juga diungkapkan oleh Jack Daniels, editor harian Balidiscovery.
" Kami tidak mendengar adanya kabar kematian yang tinggi di Bali, bahkan di daerah desa masih bebas dari Corona," kata Daniels.
Dia mengatakan kasus meninggal akibat Covid-19 di Bali kebanyakan adalah warga asing. Salah satunya wanita asal Inggris yang memiliki riwayat penyakit berat.
Di Denpasar, terdapat empat fasilitas krematorium atau pembakaran jenazah. Tetapi, meski kasus Covid-19 nasional meningkat, krematorium tersebut tetap beroperasi normal tanpa ada peningkatan aktivitas.
Rumah swasta di Bali saat ini telah memiliki alat tes untuk Covid-19. Tetapi, salah satu dokter dari institusi kesehatan Bali menyebutkan sejauh ini hanya ada dua hingga tiga kematian akibat Covid-19 di RS pemerintah dalam empat pekan terakhir.
Belum ada pemutakhiran data hingga saat ini. Akibatnya, muncul dugaan adanya kerahasiaan data pasien.
Bahkan, RS pemerintah di Bali enggan membuka data ke publik yang mungkin berbeda dengan angka Kemenkes. Sejauh ini, Kemenkes mencatat kasus positif Covid-19 di Bali bertahan di angka 38 dengan dua kematian.
Fakta ini sungguh membingungkan, mengingat adanya peningkatan jumlah wisatawan asal China yang datang ke Bali pada Januari lalu sebanyak 3 persen. Saat itu, Kota Wuhan sedang mengalami lockdown dan China diyakini sebagai sumber persebaran virus.
Bahkan, turis dari China tetap datang ke Bali hingga 5 Februari. Bebebapa pekan setelah tanggal itu, Bali baru menutup perjalanan internasionalnya.
Meski ada kejadian 'misterius', industri pariwisata yang menjadi unggulan Pulau Dewata tetap terkena dampak dari Covid-19 ini. Pandemi ini menjadi peristiwa terburuk setelah peristiwa Bom Bali tahun 2002.
Industri pariwisata Bali belum pernah terpukul lagi sejak bom Bali 2002, yang membuat ekonomi lokal hancur selama dua tahun. Para wisatawan asing, terutama asal Australia, menjauhi Bali.
Teror bom kembali terjadi di Bali pada 2005. Peristiwa tersebut membuat perekonomian semakin sulit.