Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Sebagian dari kita mungkin punya kuku panjang. Ada yang karena belum sempat memotongnya, ada pula yang sengaja memanjangkannya.
Seringkali, terdapat kotoran menyempil di bawah kuku. Akibatnya, ujung jari terlihat mengitam.
Terkait wudu, terdapat syarat yang harus dipenuhi agar sah. Salah satunya adalah tersapunya bagian tubuh anggota wudu oleh air.
Jika terdapat kotoran di bawah kuku, apakah dapat membatalkan wudu?
Dikutip dari NU Online, dalam menjelaskan masalah ini, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Pendapat pertama menyatakan status kotaran di bawah kuku sama dengan kotoran lainnya yang bisa menghalangi air menyentuh kulit.
Berdasarkan pendapat ini, kotoran di bawah kuku dianggap bisa membuat tidak sah. Pendapat ini dianut oleh para ulama Mazhab Syafi'i.
Ke dua, kotoran di bawah kuku tidak dianggap sebagai penyebab wudu tidak sah. Kotoran tersebut dinilai banyak terdapat dalam kuku orang dan cukup sulit dibersihkan setiap kali akan wudu.
Sehingga, kotoran ini dianggap sebagai pengecualian dari kotoran-kotoran lainnya. Pendapat ini dikemukakan Imam Al Ghazali, Az Zarkasyi, dan beberapa ulama lainnya.
Sedangkan pendapat ke tiga menyatakan kotoran di bawah kuku dapat ditoleransi hanya jika berasal dari tubuh sendiri. Misalnya daki atau kulit ari yang terkelupas, tidak termasuk kotoran yang membuat wudhu tidak sah.
Berbeda jika kotoran berasal dari luar tubuh seperti debu, tanah dan sebagainya. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Baghawi.
Ketiga pendapat di atas secara jelas diterangkan Syeikh Zainuddin Al Malibari dalam kitab Fath Al Mu'in.
"Begitu juga disyaratkan (dalam keabsahan wudhu) seperti yang diyakini oleh banyak ulama bahwa tidak diperbolehkan wujudnya kotoran di bawah kuku yang dapat menghalangi sampainya air pada bagian kulit di bawah kuku. Hukum tersebut berbeda menurut sekumpulan ulama diantaranya Imam Al Ghazali, Imam Az Zarkasyi dan imam-imam lainnya. Mereka memberi penjelasan yang panjang dalam mengunggulkan pendapat ini dan menegaskan bahwa kotoran yang berada di bawah kuku adalah hal yang ditolerir dalam keabsahan wudhu kecuali kotoran tersebut berupa kotoran-kotoran sejenis adonan roti.
Sedangkan Imam Al Adzra'i mengisyaratkan lemahnya pendapat mereka dan menjelaskan dalam kitab At Tatimmah dan kitab lainnya dengan berpijak pada penjelasan dalam kitab Ar Rawdhah dan kitab lainnya bahwa kotoran di bawah kuku tidak dapat ditolerir, sekiranya kotoran tersebut mencegah sampainya air pada tempat di bawah kuku. Sedangkan Imam al-Baghawi memfatwakan bahwa kotoran yang berasal dari debu dapat mencegah sahnya wudhu berbeda hukumnya ketika kotoran berasal dari hal yang muncul dari badan seseorang yaitu keringat yang mengeras (lalu menjadi kotoran)."
Sumber: NU Online
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Inggris dan Jepang Minta Warga Siapkan Stok Makanan untuk 3 Hari, Ada Apa?

Benarkah Oksigen di Bumi Bisa Habis? Ilmuwan Perkiraan Kapan Hal Itu Bisa Terjadi

Sering Disalahpahami, Ini Perbedaan Frugal Living dengan Hidup Pas-pasan

Beeru Stevia Diduga Berisi Pemanis Buatan, Apa Risikonya bagi Penderita Diabetes Jika Terkonsumsi?

Usia Berapa Otak Manusia Paling Tajam? Ternyata Bukan Saat Masih Muda

Sering Dikira Flu, Virus yang Disebarkan Nyamuk Ini Bisa Menyerang Otak dan Berakibat Fatal

Gelembung AI di China Disebut Pecah, Apa Artinya dan Bagaimana Dampaknya bagi Kita?