Pria Lanjut Usia Di Lebanon Menjual Makanan Ringan Di Tengah Demonstrasi Menentang Pemerintah (Shutterstock.com)
Dream - Lebanon tengah terjatuh dalam jurang krisis ekonomi. Inflasi meroket membuat harga kebutuhan pokok dan sehari-hari melambung tinggi.
Bank Dunia dalam Monitor Ekonomi Lebanon menilai krisis ekonomi yang dihadapi Lebanon saat ini merupakan salah satu dari tiga krisis terparah di dunia sejak pertengahan abad ke-19. Bahkan bagi Lebanon sendiri, krisis kali ini merupakan terparah sejak 150 tahun belakangan.
Kejatuhan ekonomi Lebanon terjadi sangat cepat. Produk domestik bruto (PDB) negara itu menukik tajam dari hampir US$55 miliar, setara Rp797 triliun, pada 2018 menjadi sekitar US$33 miliar, setara Rp478 triliun tahun lalu.
PDB per modal anjlok cukup tajam. Penurunan yang terjadi sampai sekitar 40 persen.
" Penyusutan yang brutal dan cepat seperti itu biasanya dikaitkan dengan konflik atau perang," demikian kesimpulan Bank Dunia.
Laporan itu tidak memberikan kritikan terhadap elit politik Lebanon. Tetapi Bank Dunia menuding Otoritas Lebanon tidak membuat kebijakan yang memadai dalam menghadapi potensi krisis.
Perekonomian Lebanon hancur akibat sejumlah kondisi. Tiga hal yang dominan yaitu memburuknya kondisi keuangan ditambah hantaman pandemi Covid-19 serta ledakan besar di Pelabuhan Beirut tahun lalu.
Bank Dunia menilai Lebanon lamban dalam merespon situasi. Ini bukan akibat kurangnya pengetahuan atau saran yang tepat melainkan kegagalan dalam menyepakati inisiatif kebijakan yang efektif.
" Konsensus politik lebih membela sistem ekonomi bangkrut yang menguntungkan segelintir orang terlalu lama," demikian lapor Bank Dunia.
Laporan Bank Dunia juga secara terang-terangan membahas dampak sosial dari krisis Lebanon. Institusi itu memperingatkan terjadinya situasi mengerikan akibat terdorongnya lebih dari setengah populasi di bawah garis kemiskinan pada akhirnya bisa menjadi bencana.
Daya beli pound Lebanon yang melemah telah menyebabkan lebih dari 40 persen rumah tangga menghadapi tantangan dalam mengakses makanan dan kebutuhan dasar lainnya, menurut survei telepon dilakukan oleh Program Pangan Dunia PBB pada akhir tahun lalu.
Sementara itu, tingkat pengangguran nasional melonjak dari 28 persen pada Februari 2020 menjadi hampir 40 persen pada akhir tahun.
" Kondisi sosial-ekonomi yang mengerikan berisiko kegagalan nasional sistemik dengan konsekuensi regional dan berpotensi global," demikian peringatan Bank Dunia, dikutip dari Aljazeera.
Advertisement
Refuse Derived Fuel (RDF), Saat Sampah Jadi Bahan Bakar Alternatif

Perusahaan Milik Orang Terkaya Indonesia Bakal Rekrut 1.000 Pegawai Baru

Sempat Terpeleset 20 Menit, IHSG Bergerak Menguat di Paruh Pertama Perdagangan

Sosok 2 Orang Terkaya Indonesia yang Masuk Wantimpres Presiden Prabowo

Sederet Alasan untuk Investasi Emas 'Hijau'


5 Cara Membantu Tubuh Mengeluarkan Mikroplastik, Bisa Dimulai dari Konsumsi Makanan Bergizi

Alkimia: Ilmu Kuno yang Dipelajari Berabad-Abad, Adakah Hubungannya dengan Kimia Modern?

Teh Panas atau Es, Mana yang Lebih Banyak Mengandung Antioksidan?

Benarkah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan? Studi Ungkap Jawabannya Tak Sesederhana Itu

Pengeluaran Rp1,65 Juta, BPS Bongkar Uang WNI Menguap Kemana Saja

Refuse Derived Fuel (RDF), Saat Sampah Jadi Bahan Bakar Alternatif

Perusahaan Milik Orang Terkaya Indonesia Bakal Rekrut 1.000 Pegawai Baru