Fakta Mengharukan Tukang Siomay Jualan Sambil Gendong Anak

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 13 Desember 2018 18:03
Fakta Mengharukan Tukang Siomay Jualan Sambil Gendong Anak
Dia tak bisa meninggalkan anaknya di rumah sendirian. Istrinya sudah meninggal.

Dream - Malam hari tiba. Jaya masih mendorong gerobak siomaynya berkeliling. Warga menjulukinya Siomay Busreng.

Di punggungnya, seorang kanak-kanak meringkuk. Kain batik menjaga tubuhnya tak jatuh, kalau-kalau tertidur.

Kisah Jaya muncul di media sosial melalui Twitter @motikatrok pada 29 November 2018. Warganet kemudian memunculkan informasi tambahan mengenai sosok Jaya.

Akun Twitter, @emakokem, membuat serangkaian informasi mengenai sosok Jaya. Akun tersebut menjelaskan mengapa Jaya menggendong sang putri, Adinda Wulan.

" Istri beliau 4 bulan yang lalu meninggal dunia. Si anak terpaksa dibawa saat berjualan siomay," tulis akun tersebut.

Jaya disebut tak memiliki rumah. Untuk sehari-harinya, dia tinggal di rumah bos siomay Jalan P. Senopati, Tanjung Mulyo, Lampung Selatan.

 

1 dari 3 halaman

Ingin Punya Gerobak Sendiri

Fakta yang membuat warganet semakin terhenyak yaitu, Jaya memiliki kelainan pada salah satu matanya. " Satu mata beliau rabun," ujar akun tersebut.

Saat diwawancarai pesulap Deddy Corbuzier di acara Hitam Putih Trans 7, Jaya mengatakan mengambil jalan itu sebagai tanggung jawab ke anaknya.

" Saya sebagai bapak harus tanggung jawab ke anak. Udah nggak ada lagi ibunya," ucap Jaya dalam tayangan itu.

Jaya sempat ingin menitipkan anaknya ke neneknya. Tapi, niat itu diurungkan lantaran sang nenek juga sedang sakit.

Demi menghidupi keluarganya, Jaya akan berjualan siomay keliling sejak pukul 08.00 hingga 17.00. Harapannya, dia bisa memiliki warung sendiri.

" Pengen jualan sendiri pakai gerobak sendiri biar anak bisa duduk," kata Jaya.

2 dari 3 halaman

Kuli Bangunan Ini Lulus dengan IPK Cum Laude

Dream - Muhammad Rifai memang berasal dari keluarga tidak mampu. Dia bahkan kerap bekerja serabutan sebagai kuli bangunan maupun buruh tani.

Meski begitu, profesi tersebut tidak menghalangi Rifai mencatatkan prestasi. Dia berhasil membuat orangtuanya tersenyum bangga dengan catatan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,9 alias Cum Laude.

Rifai lulus dari Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung. Dia juga dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik ke dua tahun ini.

Kuli Bangunan Ini Lulus dengan IPK Cum Laude

Muhammad Rifai (Foto: Muhammadiyah)

Pemuda ini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Unmuh Metro angkatan 2014. Dia bisa berkuliah berkat meraih Beasiswa Bidik Misi.

Sebelum berkuliah, Rifai sempat bekerja sebagai buruh tani di Bengkulu. Penghasilan yang dia dapat digunakan untuk biaya indekos di Kota Metro agar tidak memberatkan orangtuanya.

Pendapatan orangtua Rifai sebagai buruh tani di Balitung tidaklah besar. Apalagi, sang ayah kala itu sedang sakit sehingga butuh biaya pengobatan.

Rifai bercerita, dia sebenarnya sangat ingin berkuliah. Mimpinya hampir sulit terwujud begitu ayahnya sakit.

Beruntung, ada seorang pria paruh baya yang mengajar Rifai bekerja ke Bengkulu. Rifai segera mengiyakan ajakan tersebut.

" Selama di perantauan, saya kerja sebagai buruh tani di sawah dan buruh karet. Dan kerja di perantauan ini selama setengah bulan mendapat uang Rp950 ribu untuk menambah biaya indekos," kata Rifai, dikutip dari Muhammadiyah.or.id.

Kerja keras itu berlanjut ketika Rifai sudah menjadi mahasiswa. Setiap kali libur semester, Rifai menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah dengan kerja serabutan mulai menjadi buruh sampai pemandu wisata.

" Paling lama bekerja saya di sawah dan uang yang terkumpul dipakai untuk menambah bekal selama kuliah di UM Metro," kata Rifai.

Di bidang akademik, Rifai mencatatkan prestasi berupa IP tertinggi di setiap smester. Dia juga sudah bekerja di salah satu perusahaan di Kota Bogor sebelum lulus.

" Saya selalu bercita-cita pengen dapat kerjaan sebelum wisuda," ucap Rifai.

Akhirnya, setelah sidang pendadaran skripsi, Rifai merantau ke Kota Bogor dan melamar pekerjaan. Modalnya hanya transkrip nilai dan Surat Keterangan menunggu proses yudisium.

" Saya memberanikan melamar pekerjaan di salah satu industri tekstil di Bogor, melalui panggilan psikotes dan interview akhirnya saya diterima sebagai HRD di perusahaan itu," kata Rifai.

Kondisi bukan penghalang bagi Rifai untuk berprestasi. Kini, dia bisa tersenyum setelah sekian lama bersusah payah mengejar mimpinya. Sumber: Muhammadiyah.or.id

3 dari 3 halaman

Diterima di Sekolah Polisi, Anak Tukang Bentor Cium Kaki Ayah

Dream - Seorang siswa Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sulawesi Selatan, Muh. Aswar, tiba-tiba berlutut di hadapan tukang bentor yang sedang mangkal.

Ternyata, tukang bentor yang sedang menunggu penumpang itu adalah ayahnya. Kemudian, dia mencium kaki sang ayah.

" Siswa Diktuk SPN Polda Sulses bernama Muh. Aswar, asal Kab. Pangkep ini langsung berlutut mencium kaki bapaknya yang berprofesi sebagai tukang bentor ketika menemuinya yang sedang mangkal di pinggir jalan," tulis akun Instagram @makassar_iinfo, dikutip Selasa 20 November 2018.

Tukang Bentor dan anaknya, seorang polisi

(Foto: Instagram @makassar_iinfo)

Aswar diketahui sebagai orang yang rajin membantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, rendah hati, dan taat beribadah.

Pria ini juga bangga bisa mengikuti pendidikan polisi di SPN Polda Sulses. Dia bisa mengenyam pendidikan polisi berkat doa dan restu orang tua serta kegigihannya dalam belajar dan berusaha.

" Akhirnya, cita-citanya terkabulkan. 'Jangan menyerah saat doa-doamu belum terjawab. Jika kau mampu bersabar, Tuhan mampu memberikan lebih dari apa yang kau minta'," tulis @makassar_iinfo.

Beri Komentar