Gempa 5,2 Skala Richter Guncang Malang, Terasa Hingga Yogyakarta

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 8 Agustus 2018 14:56
Gempa 5,2 Skala Richter Guncang Malang, Terasa Hingga Yogyakarta
Gempa tidak berpotensi tsunami.

Dream - Bencana gempa bumi kembali terjadi. Kali ini, gempa mengguncang kawasan Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Rabu 8 Agustus 2018, pukul 13.09 WIB.

Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui akun Twitter @infoBMKG menyatakan gempa yang melanda Malang berkekuatan 5,2 Skala Richter. Titik gempa berada di 68 kilometer arah barat daya Malang dengan kedalaman 13 kilometer.

" #Gempa Mag:5.2, 08-Aug-18 13:09:23 WIB, Lok:8.80 LS,112.46 BT (68 km BaratDaya KAB-MALANG-JATIM), Kedlmn:13 Km, tdk berpotensi tsunami #BMKG," demikian keterangan BMKG.

Gempa tersebut sempat dirasakan di sejumlah daerah lain. Beberapa di antaranya seperti Karangkates, Blitar, Tretes, Tulungagung, Lumajang, Yogyakarta, dan Kuta.

Belum ada laporan mengenai dampak dari gempa ini. Termasuk pula ada tidaknya korban jiwa dalam bencana ini.

1 dari 3 halaman

Gempa Lombok dan Kecintaan Mesut Ozil Terhadap Indonesia

Gempa Lombok dan Kecintaan Mesut Ozil Terhadap Indonesia © Dream

Dream - Gempa dahsyat yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu, 5 Agustus 2018 pukul 19.46 WITA membuat dunia berduka. Bahkan pesepakbola profesional Jerman, Mesut Ozil, terkejut mendengar adanya bencana ini.

" Terkejut dan sedih mendengar gempa bumi baru di Indonesia di mana aku mendapat banyak sekali dukungan," tulis Ozil di akun Twitternya, @MesutOzil1088, diakses pada Selasa 7 Agustus 2018.

Sebanyak 98 orang meninggal dunia dan 236 korban mengalami luka-luka akibat gempa berkekuatan 7 Skala Richter itu. Sejumlah bangunan rubuh dan rusak parah.

Pemain muslim ini turut mendoakan para korban gempa. " Kumasukkan kalian, orang-orang yang ramah, dalam doaku," tulis Ozil.

Sebagian besar warga Lombok kini tinggal di pengungsian. Meski begitu, belum semua korban dapat tertangani.

 

2 dari 3 halaman

3 Shaf Jemaah Isya Terjebak di Masjid Saat Gempa Lombok, Innalillahi

3 Shaf Jemaah Isya Terjebak di Masjid Saat Gempa Lombok, Innalillahi © Dream

Dream - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan terdapat sekitar tiga shaf jemaah sholat Isya terjebak di masjid di Desa Lading-Lading, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat akibat gempa. Tetapi, jumlah korban di masjid itu belum dapat dipastikan.

" Informasi didapat, estimasi sampai tiga shaf jemaah masih belum dapat dievakuasi karena keterbatasan alat berat," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dikutip dari Liputan6.com, Senin 6 Juni 2018.

" Kami belum tahu jumlah pasti berapa jiwa dan apa ada korban luka atau meninggal, belum kami ketahui datanya," ucap Sutopo melanjutkan.

Berdasarkan informasi sementara yang diperoleh, lanjut Sutopo, para korban sedang melaksanakan sholat Isya. Di saat itulah terjadi gempa yang merobohkan atap masjid.

" Diperkirakan banyak korban meninggal dunia dan belum bisa dievakuasi karena tidak ada alat berat," ucap Sutopo.

Sutopo melanjutkan tim SAR gabungan mencoba mengevakuasi para korban secara manual. Langkan ini dilakukan sembari menunggu datangnya alat berat.

" Jadi Tim SAR gabungan pakai cara manual, reruntuhannya tembok-tembok beton," kata Sutopo.

Kabar terbaru yang disampaikan Sutopo melalui akun Twitternya, @Sutopo_PN, alat berat sudah tiba di lokasi. Proses evakuasi dilanjutkan Tim SAR baik menggunakan alat berat maupun manual.

3 dari 3 halaman

Penjelasan Gempa Lombok di Darat Bisa Picu Tsunami

Penjelasan Gempa Lombok di Darat Bisa Picu Tsunami © Dream

Dream - Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat menetapkan gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu malam, 5 Agustus 2018 berpotensi tsunami. Warga sempat panik akibat penetapan status tersebut.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan gempa yang mengguncang Lombok berjenis tektonik. Pusat gempa berada di daratan 18 kilometer arat barat laut Lombok Timur dengan kedalaman 15 kilometer.

" Tepatnya di lereng utara-timur laut Gunung Rinjani," ujar Dwikorita, dikutip dari pojoksatu.id, Senin 6 Agustus 2018.

Menurut Dwikorita, gempa 5 Agustus itu merupakan merupakan gempa utama (main shock) dari rangkaian sebelumnya.

Dia melanjutkan potensi tsunami bisa terjadi meski pusat gempa Lombok terjadi di darat. Sebab, kata Dwikorita, terjadi robekan memanjang hingga masuk di bawah dasar laut.

" Itu sebabnya akhirnya memicu gelombang tsunami," ucap dia.

Hingga saat ini, 91 orang meninggal dunia dan ratusan mengalami luka-luka. Sebagian besar masyarakat Lombok berada di pengungsian.

Sumber: pojoksatu.id

Beri Komentar