© Pexels.com/Ian Panello
DREAM.CO.ID - Banyak orang percaya bahwa rasa berharga terhadap diri sendiri akan muncul setelah mencapai sesuatu. Menikah, mendapatkan promosi, menurunkan berat badan, memiliki pekerjaan bergengsi, atau mencapai target tertentu dianggap sebagai tiket menuju kehidupan yang lebih bahagia. Namun, setelah tujuan tersebut tercapai, perasaan yang diharapkan tidak selalu datang. Bahkan, sebagian orang justru merasa semakin kosong.
Dalam psikologi, kondisi ketika seseorang membayangkan kebahagiaan akan datang setelah mencapai tujuan tertentu dikenal sebagai arrival fallacy. Istilah ini diciptakan oleh Dr. Ben Shaar untuk menggambarkan keadaan ketika seseorang akhirnya mencapai tujuan besar, tetapi ternyata tidak merasa lebih bahagia. Dalam situasi tersebut, yang hilang bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga harapan bahwa suatu hari keadaan akan menjadi lebih baik.
Jika pencapaian masa kini tidak selalu membuat seseorang merasa berharga, lalu dari mana sebenarnya rasa tersebut berasal?
Dilansir dari Health, menurut psikolog Marisa G. Franco, Ph.D., salah satu jawabannya dapat ditemukan dalam memori. Ia merujuk pada penelitian yang menggambarkan memori sebagai semacam “ database untuk harga diri”. Artinya, cara seseorang memandang dirinya sekarang tidak hanya dipengaruhi oleh status, pencapaian, atau kondisi kehidupannya saat ini, tetapi juga oleh pengalaman yang tersimpan dalam ingatan.
Seseorang mungkin merasa tidak berharga bukan karena ia gagal menjadi CEO atau tidak memiliki penampilan seperti model, melainkan karena pernah mengalami penolakan, perundungan, kekerasan, atau pengabaian. Pengalaman-pengalaman tersebut dapat membentuk cara seseorang memahami dirinya bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu.
Sekilas, gagasan untuk mengubah masa lalu tentu terdengar mustahil. Namun, menurut penelitian yang dirujuk Franco, memori bukanlah rekaman masa lalu yang sepenuhnya permanen. Ingatan dapat diperbarui setiap kali seseorang mengingatnya. Salah satu alasannya adalah memori juga berfungsi membantu manusia memprediksi masa depan.
Karena itu, sebuah pendekatan yang disebut dalam artikel tersebut adalah kembali kepada ingatan negatif dan membayangkan hasil yang berbeda. Caranya dimulai dengan mengingat pengalaman yang masih mengganggu secara jelas: apa yang terlihat, dirasakan, dicium, disentuh, dan terjadi pada saat itu. Setelah itu, seseorang membayangkan dirinya yang sudah dewasa hadir dalam pengalaman tersebut dan melakukan intervensi yang menghasilkan akhir yang lebih positif.
Misalnya, seseorang dapat kembali membayangkan perpisahan dengan mantan pasangan dan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia tetap dicintai. Seseorang yang pernah dimarahi orang tua dapat membayangkan dirinya yang sekarang menghentikan kejadian tersebut dan meyakinkan dirinya yang lebih muda bahwa ia aman. Atau seseorang dapat mengingat kegagalan dalam pertandingan dan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa usaha yang dilakukan tetap layak dihargai dan kehidupan tidak berhenti pada satu pertandingan.
Menurut studi yang dikutip Franco, orang yang menjalani prosedur perubahan memori semacam ini kemudian melaporkan perasaan yang lebih baik, tingkat kecemasan yang lebih rendah, serta harga diri yang lebih tinggi. Penelitian lain mengenai memory reconsolidation juga menemukan adanya perubahan pada hippocampus, bagian otak yang berkaitan dengan penyimpanan memori, setelah seseorang kembali mengingat pengalaman tertentu dan membangun makna baru terhadapnya.
Pengalaman masa lalu yang menyakitkan dapat menjadi semacam lensa untuk melihat hubungan dan kehidupan sekarang. Seseorang mungkin menjadi sulit percaya kepada orang lain, selalu mengantisipasi penolakan, takut meminta kebutuhannya dipenuhi, atau khawatir membangun kedekatan karena pengalaman sebelumnya.
Namun, menurut gagasan Franco, ingatan negatif tersebut tidak harus selalu menjadi aturan yang menjelaskan seluruh kehidupan. Bisa jadi, pengalaman itu justru merupakan pengecualian, bukan bukti bahwa seseorang memang tidak layak dicintai atau dihargai.
Dengan demikian, meningkatkan rasa berharga diri tidak selalu berarti mengubah status, pencapaian, atau keadaan hidup saat ini. Salah satu pendekatan yang ditawarkan penelitian tentang memori adalah mengubah cara pengalaman lama dipahami. Masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi makna yang diberikan kepadanya mungkin masih dapat diperbarui.
Advertisement
Refuse Derived Fuel (RDF), Saat Sampah Jadi Bahan Bakar Alternatif

Perusahaan Milik Orang Terkaya Indonesia Bakal Rekrut 1.000 Pegawai Baru

Sempat Terpeleset 20 Menit, IHSG Bergerak Menguat di Paruh Pertama Perdagangan

Sosok 2 Orang Terkaya Indonesia yang Masuk Wantimpres Presiden Prabowo

Sederet Alasan untuk Investasi Emas 'Hijau'


5 Cara Membantu Tubuh Mengeluarkan Mikroplastik, Bisa Dimulai dari Konsumsi Makanan Bergizi

Alkimia: Ilmu Kuno yang Dipelajari Berabad-Abad, Adakah Hubungannya dengan Kimia Modern?

Teh Panas atau Es, Mana yang Lebih Banyak Mengandung Antioksidan?

Benarkah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan? Studi Ungkap Jawabannya Tak Sesederhana Itu

7 Makanan yang Sering Dianggap Tidak Sehat, Padahal Kaya Nutrisi

Berapa Lama Harus Bisa Plank Sesuai Usia? Ini Patokan untuk Usia 18 hingga 60 Tahun ke Atas

Pengeluaran Rp1,65 Juta, BPS Bongkar Uang WNI Menguap Kemana Saja