Ilustrasi
Dream - Kejujuran, sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat mahal harga. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit.
Tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang dipegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya? Atau kita biarkan tergilas oleh keadaan.
Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh hati, dua orang anak kecil menjajakan tisu di pinggir jalan. Membuat kita mesti belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.
Dua bocah penjual tisu yang nampak kecil, kurus, kumal berbasuh keringat tengah berjualan di atas jembatan penyebrangan Setia Budi, Jakarta Selatan. Wajah senyum terus mengiringi langkah mereka mengais pundi-pundi rupiah. Hiruk-pikuk ibukota saing hari itu tak membuat dua bocah penjual tisu merasa lelah.
" Terima kasih ya mbak … Semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka. Tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah.
Penasaran dengan kisah bocah penjual tisu selanjutnya? Klik di blog 'Kisah Inspiratif Islam' di sini http://bit.ly/1qXUa0F .
Masih banyak di luar sana kisah-kisah dan pelajaran tentang kejujuran. Berikut kisah kejujuran lain di Tanah Air dan sekitar kita. (Ism)
Kirimkan blog atau website kamu kekomunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog/web
3. Foto dengan ukuran high-res
© Dream
Dream - Kisah Brigjen Polisi Kaharoeddin Datuk Rangkayo Basa ini layak dicontoh. Terutama oleh pejabat di negeri ini. Mantan Gubernur Sumatera Barat ini tergolong teguh pendirian, menolak segala bentuk gratifikasi, apalagi korupsi. Setidaknya itu tercermin kala Kaharoeddin ditawari naik haji oleh Kapolri.
Cerita ini terjadi tahun 1967. Setelah pensiun, Kaharoeddin didatangi oleh Brigjen Polisi Amir Machmud. Amir Machmud adalah keluarga sekaligus sahabat Kaharoeddin. Hubungan mereka sangat dekat sejak awal kemerdekaan. Amir yang merupakan junior Kaharoeddin menjadi jenderal polisi yang paling bersinar saat itu. Ini lengkapnya http://bit.ly/1oY0ZtH (Ism)
© Dream
Dream - Tindakan terpuji kembali ditunjukan masyarakat kelas bawah. Seorang kuli bangunan, Shabbir Bahai Fakhr Al Deen belum lama ini mengembalikan uang senilai 50 ribu riyal yang ditemukannya secara tak sengaja kepada aparat kepolisian. Jika dirupiahkan, uang temuan Shabbir itu bernilai sekitar Rp 154 juta.
Kejujuran Shabbir yang mengembalikan uang ratusan juga itu pun mendapat sanjungan dari aparat kepolisian di Al Rashidiya, Dubai. Ini lengkapnya http://bit.ly/1qQgedo (Ism)
© Dream
Dream - Menjadi aparat negara tak menjamin kehidupan serba cukup. Brigadir Wawan Mulyana sudah satu tahun menjalani dua profesi ; Anggota Sabhara Polsek Tarogong, Garut dan tukang bakso. Profesi tukang bakso digeluti lantaran penghasilan sebagai polisi tak cukup menutupi biaya berobat anaknya, Rema Akelia.
Putri semata wayangnya itu divonis kelenjar tiroid yang tak berfungsi baik sejak usianya masih tiga tahun. Rema terpaksa harus bolak-balik berobat dengan biaya tak sedikit. " Untuk biaya satu bulan berobat saja bisa menghabiskan Rp 3 juta, maka habis uang saya," kata Wawan. Ini lengkapnya http://bit.ly/1rwMbJT (Ism)