Kisah Haru Satpam Wanita Lulusan IT Jadi Mualaf, Dapat Hidayah Usai 2 Kali Mimpi Pakai Mukenah

Reporter : Sugiono
Senin, 20 Juni 2022 08:47
Kisah Haru Satpam Wanita Lulusan IT Jadi Mualaf, Dapat Hidayah Usai 2 Kali Mimpi Pakai Mukenah
Nursarah sangat bersyukur, kedua orangtuanya tidak keberatan dirinya masuk Islam. Namun mereka berpesan agama jangan dibuat main-main.

Dream - Pengorbanan seorang ibu memang tiada bandingannya. Seperti yang dilakukan oleh ibu berkebangsaan India yang tinggal di Malaysia ini.

Bagi ibu tunggal yang kebetulan mualaf itu, apa pun rela dilakukan untuk memastikan kebutuhan empat anak yang diasuhnya terpenuhi.

Tidak hanya itu, Saratah Letchumanan atau nama Islamnya Nursarah Letchumanan, juga memikul tanggung jawab merawat orangtuanya.

1 dari 6 halaman

Bakti wanita 39 tahun itu kepada orangtuanya sungguh luar biasa meski mereka tidak mengikuti jejaknya menjadi Muslim.

Selain anak-anaknya, Nursarah juga mengurus ibunya Tunikody M Karuppiah, 66 tahun, dan ayahnya, Letchumanan Ponnusamy, 84 tahun.

Kisah haru satpam mualaf jadi tulang punggung keluarga.© mStar

Nursarah mengurus mereka, yang menderita penyakit kronis seperti penyakit jantung, batu empedu, asma, tekanan darah tinggi dan kolesterol.

Kisah haru satpam mualaf jadi tulang punggung keluarga.© mStar

Bersama anak dan kedua orangtuanya, Nursarah saat ini tinggal di perumahan rakyat Seri Semarak di Setapak, Kuala Lumpur.

2 dari 6 halaman

Kisah penderitaan Nursarah yang bekerja sebagai satpam dengan gaji sekitar 2.300 ringgit sebulan menarik perhatian Yayasan Kesejahteraan Muslim.

Meski bagi orang Indonesia gaji Nursarah termasuk tinggi, tapi nominal sebesar itu masih kurang untuk mencukupi kebutuhan 6 anggota keluarganya.

Untuk menambah penghasilan bulanan sebagai satpam, Nursarah juga menjalankan usaha jualan muruku kecil-kecilan.

3 dari 6 halaman

Salah satu relawan Yayasan Kesejahteraan Muslim, Muhammad Alief Hakimie Ramli, mengaku terkesan dengan kegigihan Nursarah dalam mengemban tanggung jawab besar.

" Sebelumnya dia masih bisa menghidupi keluarganya. Tetapi sejak ayahnya sakit dan terbaring di rumah sakit, dia perlu banyak uang untuk membeli susu dan popok sekali pakai ayahnya," kata Alief.

Menurut Alief, harga untuk membeli susu dan popok sekali pakai saja sudah 600 ringgit sebulan. Belum lagi untuk biaya keperluan anak-anak yang masih bersekolah.

4 dari 6 halaman

Saat ini Nursarah setiap bulan mendapatkan bantuan makanan dan keperluan untuk sehari-hari senilai 310 ringgit selama enam bulan.

Sementara itu, Nursarah yang memeluk Islam sejak setahun lalu mengaku tidak pernah meminta atau mengemis bantuan dari siapa pun.

Kata Nursarah, dia khawatir jika masyarakat akan menganggap dia hijrah hanya karena ingin mendapatkan bantuan gratis dari yayasan Islam.

" Saya masuk Islam bukan karena ingin memanfaatkan kesempatan mendapatkan jatah. Bahkan saat ini saya tidak tahu bagaimana bisa dapat bantuan ini, mungkin ada orang terdekat yang memintakannya," ujar lulusan Institut Usahawan Bumiputera (IUB) jurusan Teknologi Digital (IT) ini.

5 dari 6 halaman

Nursarah kemudian menceritakan awal mula kenapa dia mengucapkan kalimat syahadat dan memeluk agama Islam.

Menurutnya, dia mendapat hidayah dan masuk Islam setelah mendapatkan mimpi yang sangat aneh dalam tidurnya.

" Saya dapat hidayah setelah mimpi memakai telekung (mukenah). Jadi sebelum masuk Islam, saya minta izin ayah dan ibu dulu," ceritanya.

Nursarah sangat bersyukur, kedua orangtuanya tidak keberatan dirinya masuk Islam. Namun mereka berpesan agama jangan dibuat main-main.

" Orangtua tidak melarang saya untuk memeluk Islam. Tetapi syaratnya bukan karena laki-laki atau niat lain untuk pindah agama.

" Jika masuk Islam karena cinta kepada Allah, mereka bilang tidak apa-apa," kata Nursarah mengenang.

6 dari 6 halaman

Setelah mimpi memakai mukenah, Nursarah tidak langsung menguatkan tekad untuk memeluk Islam. Dia memberi waktu kepada dirinya sendiri selama enam bulan sebelum membuat keputusan terakhir.

" Jika mimpi itu bukan mainan tidur, itu akan datang lagi karena saya tidak ingin terburu-buru. Setelah enam bulan, mimpi yang sama datang lagi.

" Saya pun langsung pergi ke JAWI (semacam Kantor Urusan Agama) tahun lalu (untuk bersyahadat)," kenangnya.

Kata Nursarah, meski berbeda keyakinan dengan kedua orangtua dan anggota keluarga yang lain, dia tidak masalah. Begitu pula sebaliknya, anggota keluarga menghormati keputusannya memeluk Islam.

Sumber: mStar

Beri Komentar