Misteri Dinding Taj Mahal Berubah Hijau, Ternyata...

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 24 Mei 2016 19:02
Misteri Dinding Taj Mahal Berubah Hijau, Ternyata...
Tak hanya karena polusi udara, warna putih marmer landmark India itu pada beberpa bagian bahkan berubah warna menjadi hijau.

Dream - Sejak selesai dibangun pada tahun 1654, warna dinding Taj Mahal terus memudar. Tak hanya karena polusi udara, warna putih marmer landmark India itu pada beberapa bagian bahkan berubah warna menjadi hijau.

" Serangkaian panel marmer yang menggambarkan motif tanaman di dinding atau ubin reflektif monumen ini menjadi rusak," kata Bhuvan Vikram, pejabat Survei Arkeologi India, dikutip Dream dari Telegraph, Selasa 24 Mei 2016.

Seorang pemandu wisata, Shamshuddin Khan, mengatakan, warna hijau yang menempel pada dinding marmer Taj Mahal itu seperti jamur. " Ini seperti jamur yang tumbuh pada dinding," katanya.

" Ketika mereka [turis] melihat hal semacam ini, mereka mengatakan 'Taj semakin kotor!' Kotoran semakin meningkat, jenis jamur hijau meningkat dari hari ke hari," tambah Shamshuddin.

Pemerintah India langsung melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab menghijaunya sebagian dinding marmer bangunan peningalan abad ke-17 itu. Dan ternyata, warna hijau itu disebabkan oleh kotoran serangga yang menempel.

Serangga-serangga itu berasal dari genus Goeldichironomus, jenis lalat memanjang yang menyerupai nyamuk. Serangga ini berkembang biak dari Sungai Yamuna yang tercemar.

Kondisi sungai itu memang sangat buruk. Air tidak mengalir, ikan tak lagi hidup di sana. Sehingga, telur dan jentik nyamuk bisa berkembang dengan baik karena tak ada predator.

" Laporan sementara menyebut polusi di Sungai Yamuna di belakang monumen itu berkontribusi dengan masalah ini," kata ahli lingkungan, Brij Khandelwal.

1 dari 3 halaman

Memudarnya Keindahan Taj Mahal

Memudarnya Keindahan Taj Mahal © Dream

Dream - Salah satu ikon India adalah Taj Mahal. Bangunan ini telah menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya. Mereka terkagum-kagum dengan keindahan arsitektur yang didirikan oleh Raja Mughal, Shah Jahan, untuk mengenang istri ke tiganya, Mumtaz Mahal, ini.

Namun belakangan bangunan yang didirikan 460 tahun silam ini menghadapi masalah. Permukaan yang terbuat dari marmer putih tak lagi mengkilap. Marmer-marmer itu kini kusam. Terlihat lebih coklat.

Dikutip Dream dari laman Daily Mail, Selasa 16 Desember 2014, para ilmuwan menemukan partikel-partikel debu dan jelaga dari pembakaran kayu dan sampah di dekatnya menempel ke permukaan bangunan terkenal ini.

Masalah ini menjadi serius karena partikel-partikel ini tidak larut dalam air. Sehingga sangat sulit untuk dihilangkan. “ Partikel-partikel ini super kecil dan melekat di permukaan dengan sangat baik,” kata insinyur lingkungan dari Georgia Institute of Technology, Atlanta, Mike Bergin.

Sejumlah pekerja berinovasi dengan melulurkan tanah liat ke permukaan marmer di bagian kubah. Cara ini dilakukan karena memang susah untuk menghilangkan partikel yang menyelimuti permukaan marmer itu dengan air. Namun begitu, tahun demi tahun, warna Taj Mahal terus memudar.

Para ilmuwan berpikir keras untuk menyelamatkan keindahan bangunan bersejarah yang terletak di Agra, India ini. “ Ada beberapa kekhawatiran dampak jangka panjang terhadap proses pembersihan kubah,” ujar Bergin.

Bergin bersama ilmuwan dari Institut Teknologi India dan peneliti arkeologi Tanah Hindustan itu melakukan penelitian. Mereka meletakkan balok marmer di dekat Taj Mahal dalam waktu setahun. Setelah itu, para ilmuwan itu meneliti partikel yang menempel di permukaan marmer itu.

Hasilnya, para peneliti menemukan partikel karbon organik yang dikenal dengan sebutan karbon coklat, debu, dan karbon hitam. Partikel-partikel ini tidak larut dalam air, yang artinya tidak mudah hilang dengan hanya disiram air saja.

Penelitian itu juga mengukur jumlah cahaya yang dipantulkan oleh partikel-partikel itu, dan dari penelitian ini diketahui bahwa partikel-partikel inilah yang menyebabkan memudarnya marmer Taj Mahal.

“ Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa cahaya diserap oleh debu dan karbon dari pembakaran bahan bakar fosil dan biomassa yang menyebabkan perubahan warna pada permukaan Taj Mahal,” tutur Bergin.

Sehingga, Bergin menyimpulkan untuk menghentikan memudarnya peninggalan yang dibangun antara tahun 1632 dan 1653 ini adalah mengurangi emisi di sekitar Taj Mahal. Satu-satunya cara menghentikan memudarnya warna adalah mencari sumber partikel dan mencari cara untuk mengurangi emisi,” kata Bergin.

Sebenarnya, pemerintah India telah menetapkan wilayah seluas 4.000 mile persegi di sekitar Taj Mahal sebagai wilayah bebas industri. Harapannya, bangunan yang pada 1983 ditetapkan sebagai situs peninggalan dunia oleh Unesco ini terbebas dari debu-debu pabrik.

Namun nyatanya, permukaan marmer-marmer yang diambil dari Makrana, Rajasthan, ini terus memudar oleh partikel-partikel hasil pembakaran.

2 dari 3 halaman

Demi Mendiang Istri, Kakek Bangun `Taj Mahal` Baru

Demi Mendiang Istri, Kakek Bangun `Taj Mahal` Baru © Dream

Dream - Dahulu, Raja Mughal Shah Jahan membangun istana cantik Taj Mahal untuk makam istri yang paling dicintainya, Mumtaz Mahal. Kini, setelah lebih dari tiga setengah abad kisah cinta keduanya berlalu, muncullah seorang kakek berusia 80 tahun dari Bulandshahr, India, yang membangun 'Taj Mahal' baru bagi sang istri.

Dialah Faizul Hasan Qadri, seorang pensiunan yang tinggal di desa Kaser Kalan, India. Faizul menikah dengan istrinya yang bernama Tajamulli Begum pada tahun 1953. Kehidupan mereka sangat bahagia. Faizul begitu mencintai sang istri.

Hingga 58 tahun kemudian, Tajamulli Begum didiagnosa menderita kanker tenggorokan dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 2011. Sepeninggal istrinya, Kakek Faizul merasakan kehilangan yang begitu besar.

Rasa sedih dan kehilangan itu pun diungkapkannya dengan membangun sebuah monumen 'Taj Mahal' berukuran mini untuk menaungi makam sang istri. Karena bukan tergolong orang berada, untuk merealisasikan mimpinya ini Faizul harus berjuang keras mengumpulkan dana.

" Pada awalnya, saya menjual sebidang tanah seharga Rs 6 lakh, dan saya menjual perhiasan emas dan perak Rs 1.5 lakh hingga akhirnya saya mulai membangun makam ini dengan bantuan seorang warga lokal bernama Asgar. Total, Rs 11 lak sudah dihabiskan. Tapi, sekarang saya ingin menambahkan marmer pada monumen ini dan juga ingin membangun taman hijau di sekitarnya. Untuk itu mungkin butuh biaya tambahan sebesar Rs 6-7 lakh," ujar Faizul dikutip dari Hindustantimes, Jumat 18 September 2015.

Meski masih setengah jadi, monumen buatan Faizul sudah terkenal nyaris seantero India. Banyak penduduk setempat atau dari daerah yang jauh sengaja datang menyambangi monumen yang dijuluki mini Taj Mahal ini. Kisah tentang Faizul dan Taj Mahal-nya pun tak luput dari pemberitaan media massa India.

Tak hanya sebagai wujud cinta dan kehilangannya pada sang istri. Diakui Faizul, gagasan tentang monumen ini sudah datang kepadanya sejak lama. Dulu ia dan istrinya pernah berpikir, betapa bahagianya jika ada orang yang selalu mengingat mereka meski telah tiada.

" Saya akan selalu mengingatnya meski ia telah tiada. Saya membangun rumah baru untuk dia. Saya juga sudah mengatakan pada keluarga untuk mengubur saya di sini di sisi istri jika saya mati kelak. Istri saya sudah mati. Saya juga akan mati suatu hari. Monumen ini mungkin juga tidak akan berdiri selamanya. Tapi saya ingin melihatnya lengkap sebelum saya mati," tutupnya. (Ism)

3 dari 3 halaman

`Taj Mahal` dari Depok, Ikon Baru Penyangga Jakarta

`Taj Mahal` dari Depok, Ikon Baru Penyangga Jakarta © Dream

Dream - Masjid Kubah Emas sudah lama menjadi ikon arsitektur muslim di kawasan Depok, Jawa Barat. Namun dalam beberapa tahun terakhir, penduduk di kawasan kota satelit Jakarta ini kembali disuguhi bangunan bergaya muslim di pusat kota

Saladdin Mansion, bangunan yang sekilas mirip Taj Mahal India kini mulai mencuri perhatian warga Depok. Terletak di wilayah Margonda, bangunan ini memadukan apartemen dan pusat perbelanjaan.

" Kami memang ingin membuat sesuatu yang beda. Kalau kebanyakan ruko minimalis, kami lebih suka membuat sesuatu yang berbeda," kata Promotion Manager Saladdin Mansion, Jeffrey Jie, dalam perbincangan dengan Dream.co.id.

Saladdin Mansion saat ini memang masih dalam tahap finalisasi pengerjaan. Mulai dibangun pada 2010, ikon baru Depok ini direncanakan selesai seluruh pada 2015.

Tampak dari jalan utama, Saladdin Mansion memang langsung memancing perhatian publik. Dereten kubah berwarna emas berdiri megah di areal seluas 1,5 hektare. Sebanyak 48 kubah emas dan 47 menara setinggi 25 meter mau tidak mau memang akan menarik perhatian masyarakat yang melintas.

Kesan bangunan muslim memang mencolok dari penampilan komplek Saladdin ini. Namun pengembang sama sekali tak bermaksud menjadikan komplek ini sebagai kawasan bisnis syariah.

" Arsitektur yang kami inginkan ini tujuannya untuk keindahan, tak ada secara khusus meniru masjid atau cara arab tapi lebh ke arah arsitektur," jelas Jeffrey yang mengaku sengaja tak mengambil secara spesifik simbol-simbol Islam.

Nama Saladdin sendiri memang sengaja diambil dari nama salah satu pahlawan Islam dari Mesir, Salahuddin Al Ayubi. Dalam logat negara barat, namanya memang kerap disebut Saladdin.

Kebesaran nama Saladdin inilah yang menginspirasi pengembang untuk membuat sebuah arsitektur megah di pusat kota Depok. " Makanya kami kasih nama komplek The Great Saladdin Square," katanya.

Tak tanggung-tanggung, arsitek yang membangun komplek ini sendiri dirancang oleh si empunya. Malang melintang sebagai konseptor komplek perumahan seperti Legenda Wisata, Kota Wisata, sang arsitek memilih memulai bisnis sendiri.

Meski tahap pembangunan belum selesai, Saladdin sudah bisa menyedot perhatian para pebisnis. Kantor, restoran, butik kecantikan sudah menyewa salah satu toko di komplek Saladdin ini.

Proses pembangunannya pun masih terus berlangsung. Sebanyak 1.200 unit apartemen akan hadir di komplek ini. Untuk memenuhi kebutuhan penghuninya, pengembang akan membangunan 16 ruko khusus.

Besarnya antusiasme para pembeli, Jeffrey pun optimistis Saladdin Mansion akan membantu meningkatkan ekonomi wilayah Margonda dan Depok secara keseluruhan.

" Kalau lihat margonda sendiri, itu ibarat Sudirman Jakarta," katanya. (Ism)

Beri Komentar