Ilustrasi (Shutterstoock.com)
Dream - Tanpa sadar, manusia menjadi salah satu pelaku pencemaran di bumi, seperti membuang sampah sembarangan. Padahal berdampak buruk dalam jangka panjang, salah satunya seperti bencana alam.
Menyadari dampak itu, Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup & Sumber Daya Alam, Majelis Ulama Indonesia (LPHP & SDA) bersama Le Minerale mendukung Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (Gradasai) bersama TKN PSL (Tim Koordinasi Nasional Penanggulangan Sampah Laut di bawah koordinasi Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan).
Kegiatan LPLH & SDA bersama Le Minerale ini akan dilakukan di beberapa masjid di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten.
MUI pun mengapresiasi Le Minerale yang menjadi salah satu perusahaan terdepan dalam upaya menyukseskan kampanye gerakan sedekah sampah berbasis masjid sebagai bagian ikhtiar dalam menjaga lingkungan.
Le Minerale juga akan memberikan fasilitas tempat sampah terpilah bagi pengelola dan jemaah masjid. Selain menghasilkan produk yang halal dan berkualitas, Le Minerale juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan.

Program itu merupakan sosialisasi dan penerapan fatwa MUI 47/2014 tentang pengelolaan sampah untuk mencegah kerusakan lingkungan. Pada bulan suci Ramadan kali ini LPLH & SDA mengajak masyarakat untuk dapat meningkatkan ketakwaan tidak hanya untuk keshalihan pribadi seperti sholat, puasa dan lainnya, tetapi juga dapat meningkatkan keshalihan sosial seperti zakat, infaq dan sedekah, serta keshalihan alam sebagai cerminan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam di refleksikan dengan memilah dan menyedekahkan sampai bernilai untuk kas masjid.
" Salah satu ketentuan hukum fatwa MUI 47/2014 adalah setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir (sia-sia) dan israf (berlebihan). Oleh karena itu kami akan terus mengajak dan menghimbau masyarakat untuk peduli lingkungan, agar memilah sampah bernilai ekonomi dari rumah dan kemudian disedekahkan ke pusat pengumpulan di masjid,” tutur Ketua LPLH & SDA MUI, Hayu S. Prabowo.
Dream - Penggunaan sampah di masyarakat saat ini terus meningkat. Parahnya, plastik menjadi jenis sampah yang mendominasi dan mengganggu kelestarian lingkungan.
Untuk mengurangi dampak buruk sampah, Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) bersama Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Kementerian Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengusung Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) berbasis masjid.
Kampanye gerakan tersebut bertujuan untuk mengurangi pencemaran sampah plastik. Caranya mengajak masyarakat terutama umat muslim agar melakukan sedekah di masjid.
" Mudah-mudahan ini menjadi hal yang sangat baik, sehingga bisa membangun Gerakan partisipasi publik yang baik di masyarakat,” ujar Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, Novrizal Tahar.
Sampah-sampah yang ditampung yaitu sampah yang bernilai ekonomis. Nantinya sampah dikirim ke pengepul ataupun bank sampah, untuk dijual dan hasilnya disumbangkan untuk kegiatan masjid, atau program-program lainnya.
Gerakan ini diharapkan juga dapat menanamkan nilai-nilai kebaikan untuk selalu bersedekah yang tidak harus selalu dengan uang. Serta meningkatkan solidaritas masyarakat terhadap lingkungan, dan membiasakan perilaku memilah sampah untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan sekaligus mendorong peningkatan taraf ekonomi.
“ Target supaya kita bisa mewujudkan pengelolaan sampah 100 persen pada tahun 2025 nanti, dan kekuatan modal sosial yang dimiliki oleh Indonesia," kata Novrizal.
Saat ini, Indonesia merupakan negara nomor 2 penyumbang sampah laut terbesar di dunia. Selain itu, juga menempati nomor 2 pembuang sampah organik terbesar dunia setelah Arab Saudi.
Fakta ini menjadi faktor pendorong perbaikan dalam pengelolaan sampah. Jika tidak, maka sampah-sampah tersebut dapat membahayakan kehidupan.
" Sampah mikroplastik yang dibuang ke sungai akan tergerus menjadi nano plastik yang akan mencemari perairan laut yang nantinya dimakan ikan, dan juga garam kita juga akan tercemar,” kata Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (PLH SDA) MUI, Hayu Prabowo.
Hayu menegaskan pengelolaan sampah harus melibatkan berbagai pihak dan dibutuhkan kerja sama yang kuat. Ini agar perairan kita tetap terjaga dari potensi pencemaran sampah.
Guna mendukung upaya kampanye itu, dirilis pula Buku Panduan dan Khutbah " Tata Kelola Sampah Menurut Ajaran Islam" sebagai pedoman untuk pengelolaan sampah sesuai dengan perspektif Islam.
Advertisement

Garis Wallace: Batas Tak Kasat Mata yang Membelah Flora dan Fauna Indonesia

9 Strategi Meningkatkan Produktivitas dan Berhenti Membuang Waktu Percuma

4 Tes Sederhana untuk Mengetahui Apakah Anda Menua dengan Baik

6 Metode Seduh Kopi yang Paling Bisa Memancing Masalah Kolesterol

6 Cara Menciptakan Rumah yang Tenang untuk Membantu Mengurangi Stres
7 Makanan yang Sering Dikira Ultra-Processed Food, Padahal Belum Tentu

Budaya Ngopi di Indonesia Serta Sejarah Masuk Minuman Hitam Nan Nikmat Ini