Perjuangan Atlet Berhijab Dobrak Stereotip Muslimah di AS

Reporter : Ahmad Baiquni
Sabtu, 22 Desember 2018 18:08
Perjuangan Atlet Berhijab Dobrak Stereotip Muslimah di AS
Baik di negara asalnya maupun di AS, Muslimah berhijab kerap dipandang miring.

Dream - Orang mungkin memahami hijab adalah pakaian yang wajib bagi Muslimah. Tetapi, makna hijab jauh lebih mendasar bagi Zahra Arabzada.

Di mata gadis berdarah Afghanistan ini, hijab adalah simbol perjuangan. Ya, dengan hijabnya, wanita yang berprofesi sebagai pelari ini berjuang melawan stereotip yang disematkan pada Muslimah.

Zahra melalui masa kecilnya dengan pengalaman pilu ketika hidup di negara asalnya. Dia lahir ketika keluarganya tinggal di kamp pengungsian di Iran karena Afghanistan dilanda perang saudara.

Dia pun tidak tahu pasti kapan tanggal lahirnya. Ibunya tidak bisa baca tulis, sementara akta lahirnya hilang entah ke mana.

Ketika berusia 8 tahun, Zahra dan keluarganya pulang ke Kunduz, provinsi paling konservatif di Afghanistan. Di provinsi ini, perempuan dilarang bersekolah dan wajib memakai kerudung jika keluar rumah.

Tak cukup di situ. Jika sampai wanita menengadahkan wajahnya, sorot tajam dari sekian banyak pasang mata akan tertuju padanya. Pengalaman ini pernah dialami Zahra ketika remaja.

" Aku sampai bosan hanya bisa menatap trotoar setiap kali keluar rumah. Jika kamu disentuh orang di jalan, kamu harus lari dan tidak boleh berkata apa-apa," kata Zahra.

Jika ada pria kurang ajar, Zahra cukup berani menamparnya sebagai bentuk perlawanan. Sayangnya, tindakan Zahra justru dianggap salah oleh masyarakat.

" Penjaga toko akan berkata 'Jika kamu tidak ingin disentuh, mengapa kamu pergi keluar rumah?'," kata Zahra.

Cara pandang masyarakat justru membuat Zahra semakin berani melawan. Meski seorang gadis, Zahra kerap terlibat perkelahian.

Jengah dengan perilaku Zahra, orangtuanya mengirim dia ke sebuah sekolah asrama perempuan pertama di Afghanistan. Asrama ini berada di Kabul.

Pada usia 14 tahun, Zahra mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di sekolah asrama di Rhode Island, AS.

 

1 dari 2 halaman

Mengalami Goncangan Budaya

Dream - Awal tinggal di AS, Zahra mengalami goncangan budaya. Dia kesulitan beradaptasi lantaran orang-orang berbicara terlalu cepat.

" Saya khawatir tempat tidur di kamar asrama berada di dekat jendela. Bagaimana jika ada ledakan bom? Selama beberapa pekan, saya tidur di lantai," kata dia.

Dia juga merasa takut ketika berjalan di malam hari. Suara tembakan yang didengarnya saat masih di Afghanistan membuat Zahra trauma.

" Butuh waktu lama sebelum saya merasa siap untuk berani berjalan satu menit dari perpustakaan ke asrama sendirian," katanya.

Zahra Arabzada

Zahra sempat rindu dan ingin pulang ke rumahnya di Afghanistan. Perasaan itu muncul setelah pelatihnya merekomendasikan pada Zahra untuk menjalani latihan lari bersama tim.

Kala itu, Zahra merasa sendirian. Sebagai atlet berhijab, dia tentu dipandang berbeda oleh rekan-rekannya.

" Tapi pelatih tidak menganggap itu sebagai alasan. Akhirnya, aku pun menyerah dan mengikuti latihan lari bersama yang lain," kata Zahra.

 

2 dari 2 halaman

Menepis Stereotip dengan Hijab

Zahra ternyata menyukai olahraga lari. Setiap latihan terasa seperti kemenangan kecil yang memberinya keyakinan.

Tetapi, perjuangan rupanya belum usai. Karena hijabnya, banyak orang memandang Zahra dengan sinis.

" Orang-orang banyak yang memandang saya dengan stereotip yang cukup mengganggu. Mereka berkata 'Mengapa kamu menyiksa diri sendiri, memakai penutup kepala di tengah panasnya musim panas?' atau 'Kamu di Amerika sekarang. Kamu memiliki kebebasan. Kenapa tidak melepasnya saja?'," ujar Zahra.

Zahra menganggap orang-orang itu tidak memahami Islam. Selama ini, orang melihat Islam sebagai agama yang tidak beradab.

" Mereka selalu mengasosiasikan Islam dengan serangan 11 September 2001, perang Irak, atau pria punya istri empat," kata Zahra.

Zahra Arabzada

Padahal Islam punya salam yang sangat menyejukkan setiap kali mereka bertemu satu sama lain.

" Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh yang artinya 'Semoga kedamaian dan kesejahteraan bersamamu'. Bagaimana mungkin agamaku yang penuh cinta damai ini diasosiasikan dengan kekerasan?" katanya.

Ketika pertama kali memilih olahraga lari, Zahra mencari informasi tentang atlet Muslimah berhijab. Ternyata jumlahnya tidak banyak.

" Jadi aku memutuskan untuk membuat blog The Hijabi Runner. Aku berharap itu akan memotivasi gadis Muslim lain yang memilih gaya hidup yang aktif. Selain menyadarkan non-Muslim tentang betapa sulitnya gadis Muslim saat hidup di bawah stereotip Barat," katanya.

Zahra sekarang berusia 21 tahun. Dia berencana untuk meneruskan pendidikannya di Hobart and William Smith Colleges dan mengambil jurusan biokimia.

(Ism, Sumber: Health.com)

Beri Komentar