Reaksi Muhammadiyah dan PBNU Soal Gus Yaqut Sebut Kemenag Hadiah untuk NU

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 25 Oktober 2021 13:00
Reaksi Muhammadiyah dan PBNU Soal Gus Yaqut Sebut Kemenag Hadiah untuk NU
Gus Yaqut memicu polemik usai membuat pernyataan yang dianggap tak bijak.

Dream - Pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang menyebut Kementerian Agama merupakan hadiah khusus dari negara untuk Nahdlatul Ulama menuai reaksi banyak pihak. Banyak yang menilai pernyataan tersebut tidak bijak.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menyayangkan pernyataan tersebut. Dia menilai seharusnya Gus Yaqut dapat bijak dalam berbicara.

" Seharusnya Menag berlaku bijak dan adil kepada semua agama dan organisasi keagamaan," ujar Abdul Mu'ti.

Abdul Mu'ti merasa pemahamannya soal sejarah Kemenag sangat berbeda dengan yang disampaikan Gus Yaqut. Dia mengaku tidak memahami tujuan Gus Yaqut menyampaikan pernyataan tersebut.

" Saya tidak tahu apa maksud dan tujuan Menteri Agama membuat pernyataan tersebut. Setahu saya, sejarah Kementerian Agama berbeda dengan yang disampaikan oleh Menteri Agama," kata dia.

Meski demikian, Abdul Mu'ti menegaskan Muhammadiyah tidak akan mengajukan keluhan atas pernyataan itu. Menurut dia, Muhammadiyah masih punya banyak tugas untuk diselesaikan.

" Tidak perlu (mempertanyakan kembali). Banyak hal lebih penting yang harus diurus Muhammadiyah," kata dia.

1 dari 5 halaman

PBNU: Kemenag Hadiah Negara Untuk Semua Agama

Pendapat senada juga muncul dari internal NU. Petinggi NU bahkan menyampaikan pendapat yang berkebalikan dengan pernyataan Gus Yaqut.

Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faishal Zaini, menyatakan, Kemenag bukanlah hadiah Negara untuk NU atau umat Islam saja. Dia mengatakan Kemenag adalah hadiah untuk semua agama.

" Pertama adalah bahwa Kemenag hadiah Negara untuk semua gama, bukan hanya untuk NU atau hanya untuk umat Islam," kata dia.

Helmy membenarkan NU memang punya peran besar terhadap penghapusan tujuh dalam Piagam Jakarta. Meski demikian, NU tidak boleh semena-mena dengan merasa berkuasa atas Kemenag.

Apalagi, NU sejak sebelum kemerdekaan sudah menempatkan pesantren sebagai pilar pembentukan karakter bangsa dengan berpijak pada akhlakul karimah. Secara tegas, dia menyatakan NU tidak punya hal istimewa atas Kemenag.

" NU tidak memiliki motivasi untuk menguasai ataupun memiliki semacam 'privilege' dalam pengelolaan kekuasaan dan pemerintahan, karena NU adalah jamiyyah diniyah ijtimaiyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan)," terang Helmy.

Selanjutnya, Helmy menyatakan semua elemen punya peran strategis dalam berdirinya Republik Indonesia. Sedangkan prinsip NU, siapapun boleh berkuasa berlandaskan kepemimpinan yang melahirkan kemaslahatan.

" Dengan segala hormat dan kerendahan hati, tentang pernyataan Pak Menteri Agama tentu itu hak beliau, meski saya pribadi dapat menyatakan bahwa komentar tersebut tidak pas dan kurang bijaksana dalam perspektif membangun spirit kenegarawanan," kata dia, dikutip dari Merdeka.com.

2 dari 5 halaman

Heboh Gus Yaqut Sebut Kemenag Itu Hadiah Negara Untuk NU, MUI Berang: Dibubarkan Saja

Dream - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menjadi sorotan usai menyampaikan sambutan dalam sebuah webinar internasional. Dia menyebut Kementerian Agama adalah hadiah Negara untuk Nahdlatul Ulama.

Pernyataan itu muncul dalam webinar internasional yang digelar Rabithah Ma'ahid Islamiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Awalnya, Gus Yaqut menceritakan perdebatan di antara staf Kemenag mengenai sejarah berdirinya Kemenag.

" Waktu itu perdebatannya bergeser bahwa Kementerian Agama ini harus menjadi kementerian semua agama, melindungi semua umat beragama," ujar Gus Yaqut, disiarkan kanal TVNU.

Ternyata, kata dia, ada yang setuju dan ngotot menyatakan Kemenag harus menjadi Kementerian Agama Islam. Sehingga, Kemenag adalah bagian dari Negara untuk melindungi umat Islam.

" Saya bantah. Bukan! Kementerian Agama itu hadiah negara untuk NU, bukan untuk umat Islam secara umum tapi spesifik untuk NU," kata Gus Yaqut.

 

3 dari 5 halaman

Anggap Wajar

Karena itulah, Gus Yaqut menilai wajar jika NU banyak memanfaatkan peluang di Kemenag. Karena, institusi tersebut adalah hadiah untuk NU dari Negara.

" Kenapa begitu? Kementerian Agama itu muncul karena pencoretan tujuh kata dalam Piagam Jakarta dan yang mengusulkan itu juru damai atas pencoretan itu oasisnya NU, kemudian lahir Kementerian Agama," kata Yaqut.

Selain itu, dia juga menganggap wajar jika Kemenag diminta mengafirmasi pesantren NU. Karena, bagaimanapun menurut dia, Kemenag lahir atas gagasan dari NU.

" Jadi wajar sekarang kalau sekarang kita minta Dirjen Pesantren dan banyak mengafirmasi pesantren dan santri NU, saya kira wajar saja, tidak ada yang salah," kata dia.

 

4 dari 5 halaman

Sebut NU Paling Moderat

Meski demikian, Gus Yaqut menyatakan Kemenag tetap merangkul semua agama. Sebab, dia yakin hal itu sesuai dengan karakter NU yang melindungi sesama.

" Yang besar itu selalu cenderung melindungi yang lemah dan kecil, NU di mana pun pingin melindungi yang kecil," ucap dia.

Sehingga, kata dia, jika Kemenag ingin menjadi kementerian semua negara itu tidak menghilangkan NU. Tetapi lebih kepada menguatkan citra NU.

" Justru menegaskan NU yang terkenal paling toleran dan moderat," kata dia,

 

5 dari 5 halaman

MUI Berang

Pernyataan ini menuai kecaman dari Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia, Anwar Abbas. Dia menilai pernyataan tersebut sangat naif.

" Cara berfikir dan cara pandang seperti ini kalau saya kaitkan dengan masalah kebangsaan dan pengelolaan negara, tentu jelas sangat naif dan tidak mencerminkan akal sehat," kata Anwar.

Anwar menyatakan seharusnya Gus Yaqut lebih mengedepankan sikap arif sebagai seorang negarawan. Mengingat Gus Yaqut saat ini memegang amanah sebagai Menteri Agama.

" Namun, saya lihat sang menteri dan sang tokoh tersebut lebih mencerminkan sikap sebagai seorang politisi dan lebih menonjolkan ananiyah hizbiyyah-nya," kata dia.

Lebih lanjut, Anwar juga menilai lebih baik Kemenag dibubarkan lantaran terlalu mengedepankan kepentingan partai dan kelompok tertentu. Sementara kepentingan umat yang lebih besar diabaikan.

" Saya minta Kementerian Agama lebih baik dibubarkan saja karena membuat gaduh dan mudharatnya pasti akan jauh lebih besar dari manfaatnya," tegas dia, dikutip dari JPNN.

 

Beri Komentar