Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Virus corona mengundang masyarakat untuk selalu waspada. Kepanikan hanya akan membuat masalah seputar virus Covid-19 ini semakin runyam.
Berawal dari Wuhan, Hubei, China, virus ini memang sudah menyebar ke berbagai negara. Mulai dari Asia sampai Eropa dan Amerika Serikat.
Namun ada yang luput dari kecemasan penyebaran virus corona ini. Persentase harapan orang sembuh dari virus corona sangat tinggi.
Tengok saja data John Hopkins University per 4 Maret 2020 pukul 20:33:02. Dari 94.4250 kasus infeksi virus corona terkonfirmasi di seluruh dunia, sebanyak 51.026 orang dinyatakan telah recovered atau sembuh.
Jumlah pasien terkonfirmasi virus corona yang sembuh itu setara dengan 54,14 persen. Jauh lebih besar dibandingkan pasien yang meninggal dunia.
Masih dari data yang sama, korban yang meninggal dunia akibat virus corona mencapai 3.214 orang atau hanya 3,41 persen. Lebih rendah dari serangan wabah MERS atau SARS beberapa tahun silam.
Di China sebagai pusat penyebaran virus corona, jumlah pasien baru berangsur berkurang. Sebaliknya, warga yang dinyatakan telah recover semakin bertambah.
Di Hubei sebagai daerah asal mulai ditemukannya virus corona, jumlah warga yang dinyatakan sembuh mencapai 38.557 orang atau 57,26 persen dari 67.332 orang yang terkonfirmasi terserang virus Covid-19. Sementara jumlah pasien yang meninggal hanya 2.817 pasien atau 4,26 persen.
Masih banyak fakta melegakan yang membuat masyarakat sudah sepatutnya tak perlu panik namun tetap waspada dengan virus corona ini.
Di tengah perjuangan dunia melawan virus corona, Vietnam seperti hadir menumbuhkan harapan. Di Vietnam sendiri ada 16 kasus pasien terjangkit corona yang terkonfirmasi.
Tetapi pada akhir Februari, 16 pasien tersebut sembuh. Alhasil, kini Vietnam tidak lagi tercatat sebagai negara yang juga kasus infeksi virus corona.
Tak hanya Vietnam yang bisa bebas dari virus corona. Nepal juga melaporkan seorang pasiennya dinyatakan telah pulih dari paparan Covid-19. Sembuhnya pasien tersebut membuat Nepal saat ini tak lagi memiliki laporan warganya terpapar corona.
Kapal pesiar Diamond Princess sempat menyedot perhatian dunia karena dikarantina di pelabuhan Jepang. Seluruh orang didalamnya, baik penumpang maupun awak kapal dilarang turun oleh pemerintah Jepang.
Kabar ini juga menimbulkan sedikit kekhawatiran di Indonesia karena sebagian ABKnya adalah WNI. Ditambah lagi, ada sembilan WNI di kapal itu dinyatakan positif terjangkit virus corona sehingga harus diisolasi.
Kabar baik muncul pada Rabu pagi. Plt Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah, menyatakan empat warga Indonesia dinyatakan sembuh dari infeksi virus tersebut berdasarkan surat keterangan sehat yang dikeluarkan otoritas kesehatan Jepang.
Dua warga Indonesia terinfeksi virus corona di dalam negeri. Virus tersebut diketahui berasal dari warga Jepang yang sempat datang ke Indonesia lalu pergi ke Malaysia.
Presiden Joko Widodo sendiri mengumumkan adanya dua WNI terjangkit awal pekan ini. Jokowi menyebut keduanya dengan kasus 1 dan 2.
Kedua WNI tersebut menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso. Kondisi keduanya berangsur membaik namun masih harus menjalani perawatan sampai benar-benar dinyatakan negatif dari infeksi virus corona.
Dream - Sekelompok ilmuwan Jerman berhasil menciptakan obat baru disebut camostat mesylate. Mereka meyakini obat baru inin ampuh membasmi Covid-19, virus yang dipicu corona SARS-CoV-2.
Studi terbaru diterbitkan pekan lalu di jurnal ilmiah Cell menunjukkan SARS-CoV-2 mengikat sel manusia dengan cara yang mirip dengan virus corona SARS-CoV, yang mewabah di sebagian besar dunia pada 2003 lalu. Pengikatan ini bergantung pada unsur protein " spike" pada virus tersebut.
" Dinamai " spike" karena tampilannya menyerupai lonjakan pada bagian permukaan partikel virus," ujar Virolog dari Pusat Infeksi dan Imunitas di Columbia Mailman School of Public Health, Angela L. Rasmussen, dilaporkan Forbes.
Rasmussen mengatakan, agar virus dapat menginfeksi sel maka harus menempelkan diri pada protein di permukaan sel yang disebut reseptor. Untuk SARS-CoV-2, protein ini disebut ACE2.
" Spike mengikat ACE2 dan memungkinan SARS-CoV-2 menginfeksi sel," lanjut Rasmussen.
Di proses awal, protein spike disiapkan oleh enzim yang disebut protease dengan tujuan agar virus dapat sepenuhnya masuk ke dalam sel. Studi tersebut menunjukkan baik SARS-CoV dan SARS-CoV-2 sama-sama menggunakan protease disebut TMPRSS2 untuk menyempurnakan proses ini.
Para ilmuwan melihat apakah ada senyawa tersedia yang dapat menghentikan masuknya virus ke dalam sel dengan menghentikan kinerja TMPRSS2.
Dari kinerja terakhir SARS-CoV, mereka menemukan kandidat potensial yang disebut camostat mesylate dan menunjukkan obat itu bisa menghentikan SARS-CoV-2.
" Kami menemukan SARS-CoV-2, seperti SARS-CoV, menggunakan protein inang ACE2 dan TMPRSS2 untuk memasuki sel. Kedua virus karenanya harus menginfeksi sel yang sama pada pasien dan dapat menyebabkan penyakit melalui mekanisme yang sama," kata peneliti dari Unit Infeksi Biologi di Pusat Primata Jerman, Institut Penelitian Primata Leibniz, Gottingen, Jerman, Markus Hoffmann, selaku penulis pertama.
Mengembangkan obat baru untuk penyakit menular atau seperti penyakit kanker atau kondisi neurologis biasanya memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Tetapi camostat mesylate telah diuji ke manusia, meskipun tidak untuk mengobati Covid-19.
" Kami tahu dari pekerjaan sebelumnya camostat mesylate aktif terhadap virus corona lain, termasuk SARS-CoV. Oleh karena itu, kami menguji apakah itu juga aktif terhadap SARS-CoV-2," kata Profesor di Institut Penelitian Primata Gottingen, Stefan Pohlmann.
" Penelitian kami menunjukkan bahwa camostat mesylate memblokir infeksi sel dengan partikel mirip SARS-CoV-2 dan dengan SARS-CoV-2 yang diturunkan dari pasien. Selain itu, camostat mesylate menghambat infeksi sel target penting-sel epitel paru-paru manusia," tambah Pohlmann.
Senyawa ini disetujui digunakan di Jepang untuk mengobati kondisi tidak menular pada manusia. Seperti pankreatitis kronis dan refluks esofagitis pasca-operasi.
Juga telah menjalani beberapa tes pada tikus yang terinfeksi dengan SARS-CoV. Tetapi, senyawa tersebut belum pernah diujikan untuk Covid-19.
" Itu memang membutuhkan uji coba pada manusia untuk menentukan apakah itu efektif, dan saya kira itu juga membutuhkan uji coba pada hewan pra-klinis dengan SARS-CoV-2 secara khusus sebelum uji coba pada manusia bisa dijalankan," kata Rasmussen.
" Jika telah terbukti aman untuk penggunaan klinis di negara lain, itu mungkin bisa didaftarkan untuk mendapat persetujuan FDA," ucap dia melanjutkan.