Sepiring Nasi Kakek Tukang Sampah Getarkan Hati

Reporter : Sandy Mahaputra
Jumat, 24 April 2015 16:31
Sepiring Nasi Kakek Tukang Sampah Getarkan Hati
Si kakek tukang sampah tidak banyak bicara, namun perilakunya sungguh menusuk hati kita semua.

Dream - Ini adalah kisah mengharukan tentang kehidupan seorang tukang sampah di Jakarta, yang diceritakan seorang kaskuser yang berprofesi pegawai kantor.

Si tukang sampah tidak banyak bicara, namun perilakunya sungguh menusuk hati kita semua. Berawal dari obrolan singkat. Si pemuda berkali-kali mendengar perut sang kakek berbunyi kruuuuukk.

Ia pun berinisiatif membelikan si kakek nasi. Tapi sang kakek menolaknya dengan halus; " Waduh mas, saya ga punya uang buat bayarnya," ujarnya lirih.

Si pemuda berusaha membujuk sang kakek menerima nasi tersebut.  " Ga papa pak, makan aja. Saya bayarin dah, saya lagi ulang tahun hari ini," kata pemuda itu berbohong.

Sang kakek terus mengucap syukur berkali-kali dan berterima kasih.

" Makasih sudah dibelikan makanan. Saya belum makan dari kemarin sebetulnya. Cuma saya malu mas, saya inginnya beli makan sama uang sendiri karena saya bukan pengemis. Saya sebetulnya lapar sekali mas, tapi saya belum dapet uang hasil nyari sampah," kata si kakek.

Pemuda itu tertegun. Secara tak sadar ia hampir meneteskan airmata. Sambil makan bareng, si kakek menceritakan jika ia punya dua anak, yang satu sudah meninggal karena kecelakaan. Satu lagi sudah pergi dari rumah dan tidak pulang hingga tiga tahun.

Sedangkan istrinya sudah meninggal kena kanker. Parahnya lagi, rumahnya diambil orang karena tidak bisa melunasi uang pinjaman untuk mengobati istrinya.

Miris betul. Tapi si kakek menolak menyerah. Ia pantang menengadahkan tangan, meminta-minta. Merasa iba, si pemuda dengan sedikit memaksa memberikan uang ke si kakek.

Dan ada satu hal lagi yang bikin si pemuda tercengang, waktu hendak meninggalkan tempat ia bertemu tadi, sambil jalan menoleh ke belakang, ia melihat si kakek sudah depan kotak amal masjid, memasukkan uang ke dalam kotak amal. Subhanallah.

Seperti apa kisah lengkapnya? klik di sini. 

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi

Ayo berbagi traffic di sini! 

1 dari 3 halaman

Kakek Misterius Getarkan Hati Penumpang Kereta

Kakek Misterius Getarkan Hati Penumpang Kereta

 

Dream - Ini kisah tentang pasangan tua yang menumpang kereta dari Stasiun Jakarta Kota. Pasangan ini duduk di bangku, berbagi dengan penumpang lain dalam gerbong yang melaju ke arah Depok itu.

Namun, ada yang sangat mengganggu. Kakek dan nenek yang tak diketahui namanya ini sungguh berbau. Sehingga, menilik dari pakaian yang kumal dan bau yang menyengat itu, penumpang lain mengira pasangan ini adalah pengemis.

Saking baunya, banyak penumpang tak tahan duduk di dekatnya. Bahkan ada perempuan yang semula duduk di samping mereka keluar gerbong dan muntah sejadi-jadinya.

Lantas, masuklah pemuda berdandan necis. Pemuda itu duduk di sebelah pasangan lanjut usia itu. Seolah tak terganggu dengan bau, pemuda itu terlibat obrolan panjang dengan sang kakek. Sementara kereta perlahan bergerak meninggalkan Stasiun Kota.

Dari percakapan itu, pemuda ini tahu bahwa kakek dan nenek ini akan turun di Stasiun Gondangdia. Sehingga, saat dekat stasiun itu, pemuda itu merogoh saku. Mengeluarkan selembar uang Rp 100 ribu dan mengulurkannya ke kakek itu.

“ Pak, saya punya sedikit rezeki buat Bapak dan Ibu, mungkin bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup Bapak dan Ibu beberapa hari ke depan,” demikian kata pemuda itu.

Kakek itu hanya terdiam. Sesaat kemudian, bibir keriputnya mengeluarkan penolakan halus. Sebuah jawaban yang menggetarkan hati penumpang di gerbong itu.

“ Sungguh agamaku melarangku menjadi seorang pengemis yang menengadahkan tangan menunggu bantuan uang dari si tuan kaya raya, kuyakin Tuhanku Maha Kaya, sangat kaya,” kata kakek itu.

“ Saya tahu niat Ananda adalah untuk membantu kami, dan sungguh saya yakin bahwa Allah lah yang telah mengirimmu kepada kami. Namun mohon maaf.......”

Jawaban itu membuat orang-orang di sampingnya terperangah. Kemudian bapak itu pun melangkahkan kakinya turun ke Stasiun Gondangdia bersama istrinya.

Baca kisah selengkapnya di tautan ini.

2 dari 3 halaman

Kelelahan, Kakek Meninggal di Kursi Kemudi Becak

Kelelahan, Kakek Meninggal di Kursi Kemudi Becak

 

Dream - Meski tubuhnya sudah renta, saban hari Opa selalu semangat menarik becak. Tujuannya cuma satu; demi dapur tetap mengepul.

Namun perjuangan kakek (72) tahun itu harus terhenti, Kamis pagi kemarin, pukul 06.00 WIB. Opa harus istirahat selamanya di jok sadel becak yang selalu menemani kesehariannya mencari nafkah.

Opa tak sadarkan diri setelah mengayuh dan masih berada di atas jok becaknya di Jalan Sudirman tepatnya depan ruko nomor 131, Kec Astana Anyar, Kota Bandung.

Saat itu ia memang tampak lelah untuk kemudian menghentikan laju roda tiganya dan menepi di kawasan ruko jalan Sudirman.

Menurut keterangan Kanitlantas Polsek Astana Anyar, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Asep Surahman, tidak ditemukan ada tanda- tanda kekerasan di tubuh Opa yang merupakan warga asal Cihampelas, Cililin, KBB.

" Tim dari Inafis sudah periksa. Diduga karena kelelahan dan mengalami sakit yang dideritanya."

Dari keterangan warga, Opa masih menarik becak sekitar pukul 05.00 pagi.

Salah satu kerabatnya, Yayan mengatakan Opa sudah kurang pas lagi menarik becak kayuh mengingat kondisi tubuh yang tak lagi prima. " Pada saat menarik becak sudah kelihatan sesak nafas," ujar AKP Asep menuturkan keterangan dari Yayan.

Jenazah langsung dibawa ke RS Sartika Asih. Polisi sudah menghubungi keluarga Opa.

(Ism, Sumber: prfmnews.com)

3 dari 3 halaman

Kakek Renta Tukang Foto Keliling Bikin Haru Sosmed

Kakek Renta Tukang Foto Keliling Bikin Haru Sosmed

Dream - Nasrul, kakek berusia 74 tahun menjadi topik hangat di jejaring sosial. Ini karena dia masih bekerja keras menjajakan jasa foto meski sudah renta.

Kakek renta ini masih menjual jasanya di kawasan Ambassador, Kuningan, Jakarta Selatan.

Di usianya yang senja, si kakek Nasrul masih terus membanting tulang, demi sesuap nasi. FOTO: Kakek Renta Tukang Foto Keliling di Jantung Jakarta. (Sumber: Merdeka.com)

Beri Komentar