Dream - Polisi menemukan bukti foto Afif Maulana sedang memegang pedang panjang dari hasil pemeriksaan ponselnya. Afif merupakan remaja yang ditemukan tewas di bawah Jembatan Kuranji, Padang pada Minggu, 9 Juni 2024.
Foto yang diberikan Kapolda Sumbar Irjen Suharyono itu memperlihatkan sosok Afif yang mengenakan jaket kuning dengan celana pendek hitam, sambil memegang pedang panjang hampir 1 meter.
" Biar ini terang benderang bahwa ini matinya Afif Maulana adalah benar-benar mau tawuran, dia masuk dalam kelompok grup tawuran, dicegah polisi dia terjadi seperti itu. Tapi di atas jembatan tidak pernah menangkap Afif Maulana, tidak pernah membawa ke Polsek Kuranji," kata Suharyono dikutip dari merdeka.com, Jumat 5 Juli 2024.
Ia menyebut, sejak awal pihaknya meyakini Afif sengaja melompat dari Jembatan Kuranji sesuai keterangan teman korban, Aditya.
“Dia diduga memang melompat dari atas jembatan itu karena memang detik-detik terakhir kan mengajak Aditya yang memboncengkannya itu kan memang mau melompat ke sungai, menyelamatkan diri,” ucapnya.
Suharyono menjelaskan, terkait kesesuaian fakta dalam hasil penyelidikan dengan temuan hasil pemeriksaan dari handphone Afif, yang mengarahkan kalau remaja itu pelaku tawuran.
" Afif memang pelaku tawuran, handphonenya sudah saya cloning, sudah saya buka, kemarin seminggu kita kesulitan membuka handphonenya Afif, karena apa? Karena password nggak tahu kita, begitu dicoba-coba ternyata tanggal lahir Afif itu lah yang akhirnya baru terbuka,” ucapnya
“Dan itu baru bikin kami kaget, wah ternyata Afif itu sudah ada percakapan dengan Aditya itu memang yang mengajak tawuran, itu malah Afif Maulana itu,” tambahnya.
Selain itu, Suharyono juga menemukan percakapan Afif dengan Aditya pada Sabtu, 8 Juni 2024 sekira pukul 22.00 WIB.
Dalam percakapan itu, Afif mengirim gambar sedang memegang pedang.
“Jam 10 itu menanyakan dulu ke Aditia, ‘Ada tawuran nggak malam ini?’ Kemudian percakapan kelihatan di HP dan sudah saya skrinsut juga, akhirnya di ‘jawablah kamu ke rumah dulu saja’,” ucapnya.
Suharyono menyebut, setelah Afif sampai Aditya pun menyempatkan membuat mie instan. Setelah itu, baru Minggu, 9 Juni sekira pukul 01.30 WIB dini hari, keduanya berangkat ke kelompoknya.
“Itu sudah jelas mau berangkat tawuran. Tapi, ada pihak tertentu menyampaikan seolah olah mereka akan berangkat pesta. Akan jalan jalan, itu aslinya disimpangkan. Wong itu di pengakuan Aditya itu kan Ketua kelompok gangster itu kan salah pergaulan si Afif maulana itu,” ungkapnya.
“Salah memilih teman, akhirnya apa? Berangkat menuju sasaran 25 motor dengan 50 kurang lebih pesertanya mau menghantam gangster lawan,” sambungnya.
Ia mengatakan, di lokasi yang ditentukan sedianya akan ada empat gangster yang saling tawuran sampai akhirnya dibubarkan sampai lari ke Jembatan Kuranji.
“Ini pelaku tawuran sudah kami deteksi. Itu kan dari rumah masing-masing akhirnya menuju ke titik kumpul yang ditentukan. Nah titik kumpul itu lah mereka baru bermaksud melakukan penyerangan, itulah yang diketahui polisi akhirnya dihambat dicegah polisi. begitu kira-kira kejadian aslinya,” bebernya.
Menurutnya, pada saat itulah, Afif mengajak Aditya untuk melompat dari jembatan.
Namun ajakan itu ditolak oleh Aditya, maka Afif pun melompat seorang diri.
“Justru dibawah sumpah (Aditya), itu menyatakan ‘maaf saya tidak pernah melihat Afif Maulana setelah saya terjatuh saya kemudian bercakap dengan Afif Maulana. Afif maulana mengajak melompat, saya menolak dan saya mengarahkan agar Afif menyerahkan diri kepada polisi,” ungkapnya.
“Begitu berbalik karena Adit mencari handphonenya yang hilang seketika ditangkap polisi. Afif sudah tidak ada disitu itulah detik-detik terakhir aditya melihat afif itu seketika mengajak meloncat itu,” lanjutnya.
Suharyono mengatakan, Aditya saat diamankan petugas di Jembatan Kuranji sempat mengatakan kalau temanya ada yang melompat. Namun petugas belum mengindahkan karena masih sibuk mengamankan pelaku tawuran.
terangnya.
Meski begitu, Suharyono menyatakan kasus meninggalnya Afif masih tetap dilanjutkan dengan proses penyelidikan. Dia pun siap bertanggung jawab apabila nantinya ada kekeliruan dalam proses penyelidikan yang dilakukan.
“Yakini itu kami akan tegak lurus demi institusi Polri. Saya juga akan sangat menghormati pimpinan polri karena saya adalah bagian dari polri apalagi saya kapolda paling bertanggung jawab, resiko apapun kami hadapi,” tukasnya.
Advertisement
Seru Abis! Komunitas Ini Sampaikan Kritikan dengan Main Karet Depan Gedung DPR
Potret Beda Pesta Pora 2025, Ada Jumatan Bareng Dipimpin Rhoma Irama
Psikolog Ungkap Pentingnya Pengawasan Orangtua Saat Anak Main Game
Inspiratif, Tiga Artis Cantik Ini Ternyata Founder Komunitas
Fakta-Fakta Ciamis Jadi Kota Kecil Terbersih se-ASEAN
Psikolog Ungkap Pentingnya Pengawasan Orangtua Saat Anak Main Game
Potret Beda Pesta Pora 2025, Ada Jumatan Bareng Dipimpin Rhoma Irama
Seru Abis! Komunitas Ini Sampaikan Kritikan dengan Main Karet Depan Gedung DPR
Tak Hanya di Indonesia, 7 Mitos Aneh di Berbagai Belahan Dunia
Kata Ahli Gizi Soal Pentingnya Vitamin C untuk Tumbuh Kembang Anak
Tak Hanya di Indonesia, 7 Mitos Aneh di Berbagai Belahan Dunia
Seru Abis! Komunitas Ini Sampaikan Kritikan dengan Main Karet Depan Gedung DPR