© Pexels.com/Tom Fisk
DREAM.CO.ID - Jika mendengar nama Tuban, kebanyakan orang mungkin langsung teringat sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Timur. Begitu pula Canggu yang kini identik dengan kawasan wisata di Kabupaten Badung, Bali. Namun, nama Canggu ternyata juga memiliki jejak sejarah di Jawa, sementara nama Tuban pun ditemukan di Bali. Kesamaan nama tersebut bukan sekadar kebetulan. Di baliknya terdapat sejarah perpindahan manusia, hubungan Jawa-Bali, kerajaan, perdagangan, hingga legenda yang diwariskan masyarakat.
Tuban merupakan wilayah yang memiliki sejarah panjang sebagai kawasan pesisir dan perdagangan. Sebelum dikenal dengan nama Tuban, wilayah tersebut dikenal sebagai Kambang Putih, sebuah kawasan pelabuhan yang berkembang antara sekitar abad ke-11 hingga ke-15. Prasasti Kambang Putih bertahun 1050 Masehi juga menyebut kawasan tersebut sebagai kota pelabuhan dan pusat perniagaan.
Nama Tuban sendiri memiliki beberapa versi asal-usul. Salah satu yang paling populer berasal dari istilah watu tiban, yang berarti batu yang jatuh. Menurut legenda yang berkembang di masyarakat, sebuah batu pusaka yang dibawa dari Majapahit menuju Demak jatuh di wilayah tersebut. Dari istilah watu tiban, nama kawasan itu kemudian dikaitkan dengan Tuban.
Ada pula versi yang menghubungkan Tuban dengan istilah Jawa metu banyu, atau “ keluar air”. Cerita ini berkaitan dengan Raden Dandang Wacana yang membuka Hutan Papringan. Ketika pembukaan hutan dilakukan, muncul sumber air yang deras sehingga tempat tersebut dikaitkan dengan istilah metu banyu. Selain itu, terdapat pula penjelasan yang menghubungkan Tuban dengan kata tuba, nama tumbuhan yang digunakan sebagai racun alami. Berbagai versi tersebut masih hidup sebagai bagian dari sejarah dan tradisi masyarakat Tuban.
Jejak Tuban ternyata tidak berhenti di Jawa. Di Bali terdapat Desa Adat Tuban, wilayah yang sekarang dikenal sebagai kawasan sekitar Bandara I Gusti Ngurah Rai, Kabupaten Badung. Asal-usul namanya juga memiliki beberapa versi.
Salah satu versi menyebut nama Tuban berasal dari kata Mataeb, yang berarti angker, kemudian berkembang menjadi Taeban dan akhirnya Tuban. Versi lain mengaitkannya dengan kedatangan pasukan Majapahit ke Bali. Konon, pasukan tersebut berangkat dari Tuban di Jawa Timur dan mendarat di kawasan yang kemudian disebut Tuban. Ada pula versi yang menghubungkan nama itu dengan tayuban, berkaitan dengan tradisi pembuatan minuman dari nira kelapa dan lontar. Namun, sumber tersebut menegaskan bahwa belum ada satu versi yang dapat dipastikan sebagai asal-usul tunggal nama Tuban di Bali.
Pola serupa juga dapat ditemukan pada nama Canggu. Di Jawa, Canggu memiliki jejak penting dalam sejarah Majapahit. Canggu dikenal sebagai nama sebuah pelabuhan di muara Sungai Brantas. Bahkan, Prasasti Canggu bertahun 1358 menjadi salah satu sumber penting mengenai keberadaan berbagai wilayah penyeberangan dan aktivitas transportasi air pada masa Majapahit. Di Kabupaten Tuban sendiri, pemerintah daerah pada 2026 meresmikan Prasasti Canggu sebagai bagian dari upaya mengingat sejarah Desa Ngadirejo yang dikaitkan dengan catatan dalam Prasasti Canggu.
Menariknya, nama Canggu juga digunakan sebagai nama desa di Badung, Bali. Pemerintah Desa Canggu menjelaskan bahwa asal-usul nama desa tersebut sulit dipastikan karena tidak ditemukan data tertulis berupa lontar atau prasasti yang secara langsung menjelaskan asal nama Canggu. Karena itu, sejarah desa mencoba membandingkannya dengan Canggu yang pernah menjadi pelabuhan Majapahit di muara Kali Brantas.
Dalam penjelasan sejarah Desa Canggu, terdapat hubungan dengan perjalanan tokoh Bali ke Majapahit pada masa Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Kisah tersebut juga berkaitan dengan keris pusaka yang konon terjatuh ketika dibawa pulang dari Majapahit melalui pelabuhan Canggu. Karena itu, hubungan antara nama Canggu di Bali dan Canggu di Jawa menjadi bagian dari narasi sejarah lokal, meskipun sumber resmi desa juga mengakui keterbatasan bukti tertulis mengenai asal-usul nama tersebut.
Kesamaan nama Tuban dan Canggu di Jawa dan Bali pada akhirnya memperlihatkan bagaimana hubungan kedua wilayah telah berlangsung lama. Perpindahan penduduk, perjalanan kerajaan, perdagangan, pelayaran, dan hubungan politik memungkinkan nama suatu tempat ikut berpindah atau digunakan kembali di wilayah lain.
Fenomena tersebut dikenal dalam kajian sejarah sebagai toponimi, yakni kajian mengenai asal-usul dan perkembangan nama tempat. Dalam kasus Tuban dan Canggu, nama yang sama tidak selalu berarti kedua tempat tersebut memiliki sejarah yang identik. Sebagian berasal dari hubungan historis yang kuat, sementara sebagian lainnya masih berupa tradisi lisan dan legenda yang belum dapat dipastikan.
Karena itu, ketika seseorang mengunjungi Canggu atau Tuban di Bali, nama tersebut sebenarnya membawa kemungkinan jejak hubungan yang jauh lebih tua dengan Jawa. Di balik nama yang terdengar sederhana, terdapat cerita tentang pelabuhan, kerajaan, perjalanan antarpulau, dan perpindahan manusia yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Advertisement
Refuse Derived Fuel (RDF), Saat Sampah Jadi Bahan Bakar Alternatif

Perusahaan Milik Orang Terkaya Indonesia Bakal Rekrut 1.000 Pegawai Baru

Sempat Terpeleset 20 Menit, IHSG Bergerak Menguat di Paruh Pertama Perdagangan

Sosok 2 Orang Terkaya Indonesia yang Masuk Wantimpres Presiden Prabowo

Sederet Alasan untuk Investasi Emas 'Hijau'


5 Cara Membantu Tubuh Mengeluarkan Mikroplastik, Bisa Dimulai dari Konsumsi Makanan Bergizi

Alkimia: Ilmu Kuno yang Dipelajari Berabad-Abad, Adakah Hubungannya dengan Kimia Modern?

Teh Panas atau Es, Mana yang Lebih Banyak Mengandung Antioksidan?

Benarkah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan? Studi Ungkap Jawabannya Tak Sesederhana Itu

Ingin Meningkatkan Rasa Mencitai Diri Sendiri? Coba Ubah Cara Mengingat Masa Lalu

7 Makanan yang Sering Dianggap Tidak Sehat, Padahal Kaya Nutrisi

Berapa Lama Harus Bisa Plank Sesuai Usia? Ini Patokan untuk Usia 18 hingga 60 Tahun ke Atas