Riset: Media di Indonesia Hadapi Tantangan Terkait Inovasi dan Sosmed

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 30 Juli 2021 17:34
Riset: Media di Indonesia Hadapi Tantangan Terkait Inovasi dan Sosmed
Sebagian besar pengelola media meyakini industri ini masih memiliki harapan sepanjang terus melahirkan inovasi baru.

Dream – Kalangan pelaku media di Indonesia meyakini industri ini masih memiliki harapan dan masa depan yang cerah. Namun hal itu hanya bisa terwujud jika pelaku medua bisa terus menghadirkan inovasi dalam produknya. 

Temuan tersebut terungkap dari hasil riset Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bertajulk “ Lanskap Media Digital di Indonesia: Menyambut Tantangan dan Peluang Digital untuk Media Online Lokal”. Riset dilakukan kepada pengelola media di Jakarta dan luar Jakarta.

AMSI mendapat dukungan dari Internews dan USAID melalui program USAID MEDIA untuk menyelenggarakan riset ang melibatkan 100 media online anggota AMSI baik media online lokal sejumlah 82 persen dan online di Jakarta sejumlah 18 persen, sebagai responden utama.

 

“ Riset ini adalah riset komprehensif pertama yang memotret kondisi media digital Indonesia dan penting untuk merumuskan program-program peningkatan kapasitas pengelola media digital,” kata Sekretaris Jenderal AMSI, Wahyu Dhyatmika, dikutip dari keterangan tertulis AMSI.

Tim riset menyusun laporan ini dengan membagi hasil survei berdasarkan responden Jakarta dan luar Jakarta dan analisis komparasi dari dua area tersebut. Periset Utama Sekaligus Dosen Universitas Multimedia Nusantara, Ignatius Haryanto, menjelaskan pembagian tersebut dilakukan karena perbedaan kondisi antara media Jakarta dan luar Jakarta.

“ Terdapat perbedaan situasi yang signifikan antara media di Jakarta dan di luar Jakarta, terdapat disparitas terkait kapasitas dan pemanfaatan teknologi, yang masih cukup tinggi,” kata Ignatius.

Dari hasil temuannya diketahui bahwa 88,2 persen responden yang mengelola media di Jakarta merasa bahwa industri media masih memiliki harapan ke depan. Sementara 79,7 persen pengelola media siber di luar Jakarta merasa bahwa industri media masih memiliki harapan namun media harus melakukan inovasi. Hanya sebanyak 19 persen yang merasa bahwa industri media masih memiliki masa depan yang cerah.

Dalam upaya pengembangan inovasi, 24,1 persen pengelola media siber di Jakarta mengaku mengembangkan interaktivitas media lewat media sosial, 22,2 persen lewat teknologi baru untuk penyebarluasan berita, dan 20,4 persen responden membangun sistem berlangganan lewat dompet digital seperti GoPay, Ovo, dan DANA.

Angka yang lebih besar ditemukan di kalangan pengelola media luar Jakarta yang mengandalkan 28,3 persen pengembangan interaktivitas media lewat media sosial. Sementara 23 persen responden menyatakan bahwa inovasi bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi baru untuk penyebarluasan berita.

AMSI merilis riset lanskap media online Indonesia.© AMSI

 

1 dari 3 halaman

Tingkat Melek Teknologi dan Pemodal

Terkait tingkat penguasaan teknologi, riset ini menemukan sebanyak 25 persen responden menyebut persentase karyawan yang punya kemampuan teknologi hanya 50 persen dari total karyawan. Ada 25 persen responden lainnya yang mengaku persentase karyawan yang punya kemampuan teknologi dalam perusahaan sudah mencapai 100 persen. Sisanya, (16,7 persen responden) mengaku baru 40 persen saja dari total karyawan dalam redaksi yang melek teknologi.

Kondisi berbada dialami media di luar Jakarta dimana 20,8 persen responden mengaku bahwa 50 persen karyawannya melek dengan teknologi. Hanya 15,1 persen yang mengaku 80 persen karyawannya melek teknologi.

Temuan lain dari riset ini adalah 42,1 persen pengelola media siber di Jakarta mengaku pemodal mereka adalah pengusaha nasional, 26,3 persen berasal dari modal mandiri, dan 21,1 persen responden memiliki pemodal media siber dari pengusaha lokal. Sisanya sebanyak 10,5 persen mengaku pemodalnya berasal dari lembaga donor.

Berbeda dengan media di Jakarta, media siber di luar ibu kota masih didominasi modal mandiri (66,2%). Sementara 21,5 persen mengaku pemodalnya adalah pengusaha lokal, dan 10,8 persen adalah pengusaha nasional.

Sebanyak 62,5 persen pengelola media siber di Jakarta mengaku sebagai bagian dari grup media tertentu, kemudian ada 37,5 persen responden yang mengaku bukan bagian dari grup media tertentu. Sedangkan di media siber luar Jakarta kondisinya 80,3 persen mengaku bukan bagian dari grup media tertentu. Hanya 18 persen yang mengaku merupakan bagian dari grup media tertentu.

 

2 dari 3 halaman

Media Arus Utama Hadapi Tantangan dari Kehadiran Sosmed

Wahyu mengatakan hasil riset ini diperlukan sebagai data awal (baseline) untuk menyusun langkah strategis membangun ekosistem digital yang mendukung pengembangan media online di Indonesia.

Diakuinya, transisi pengelolaan media konvensional menuju media digital tidak dapat terelakkan lagi. Meski diakui realita di lapangan menunjukkan banyak problem yang dihadapi dalam pengelolaan media digital mulai dari kapasitas manajemen bisnis, pemahaman jurnalisme, hingga eksekusi menghasilkan produk berkualitas.

Intervensi program yang tepat diperlukan untuk mengatasi kesenjangan antara gagasan dan kenyataan. “ Langkah tersebut diperlukan sekaligus sebagai upaya untuk menyehatkan media digital, perbaikan kualitas jurnalisme dan penguatan civil society. Harapannya dengan media yang sehat percakapan di ruang publik akan lebih sehat, ” kata Wahyu.

Senior Rule of Law Government Relations Advisor USAID, Dondy Setya, menilai media memiliki peran penting untuk perbaikan kualitas demokrasi dan akuntabilitas di Indonesia. Namun, saat ini, media menghadapi kondisi yang cukup berat karena kehadiran media sosial mendominasi pendapatan iklan (revenue), kehadiran influencer individu di platform media sosial, maraknya mis-disinformasi dan rendahnya literasi publik, yang mengancam kepercayaan masyarakat terhadap media.

“ Peluncuran riset ini diharapkan dapat memberi wawasan terbaru untuk menjawab pertanyaan eksistensial peran kritikal media beberapa tahun ke depan, khususnya media di daerah. Ini bentuk Dukungan USAID agar media tetap dapat menjalankan peran pentingnya,” kata Dondy.

3 dari 3 halaman

Tantangan Media Online

Senior Director Media Business Internews, Jason Lambert, menyebut ada tantangan yang dihadapi media online yang disebabkan lingkungan yang kurang mendukung. Tantangan itu diantaranya kemampuan inovasi, COVID-19, dan turunnya tingkat kepercayaan publik.

Jason menilai turunnya kepercayaan masyarakat disebabkan oleh ada disinformasi dan misinformasi. “ Masyarakat tidak tahu di mana menemukan berita yang dapat dipercaya, khususnya berita Covid-19,” kata Jason.

Dia mengatakan ada blur informasi antara berita yang benar dan disinformasi yang beredar. “ Ini tantangan sendiri bagi media untuk mendapatkan kepercayaan publik,” kata Jason.

Ekosistem yang kurang mendukung lainnya bagi media muncul dari pendapatan iklan digital naik signifikan secara global, tapi hanya dinikmati perusahaan teknologi global. Dia mendorong media untuk terus berinovasi.

Ignatius menambahkan, riset tersebut, menggambarkan sikap optimism para pelaku media menjalankan bisnis media, tapi tidak ditunjang dengan kemampuan memadai untuk menghadapi perubahan bisnis media ke depan.

“ Banyak yang masih menggunakan modal mandiri yang tidak besar, perangkat analitik yang sederhana, pemasukan yang tidak optimal, dan ketergantungan yang tinggi pada dengan iklan pemerintah, sehingga memunculkan pertanyaan pada independensi media ke depan,” kata dia.

Beri Komentar