6 Manusia yang Diizinkan Tak Berpuasa

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 21 Juni 2016 03:41
6 Manusia yang Diizinkan Tak Berpuasa
Islam mengizinkan beberapa orang untuk tidak berpuasa dengan alasan tertentu.

Dream - Pada bulan Ramadan, umat Islam di seluruh dunia diwajibkan untuk berpuasa. Semua aktivitas seperti makan, minum, dan hubungan suami-istri pun harus diatur jadwalnya.

Dilansir dari situs NU Online, Selasa 8 Juni pengaturan ini berlaku untuk mereka yang secara agama (syara') wajib menjalankan puasa.

Mereka yang wajib menjalankan puasa adalah mereka yang baligh, berakal, sehat, dan mampu menjalankan puasa.

Orang-orang yang berada di luar ketentuan itu, tidak wajib untuk menjalankan puasa. Mereka termasuk orang yang dikecualikan.

Orang-orang ini disebutkan secara rinci oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam Kasyifatu Saja. Mereka ini diizinkan secara syara’ untuk membatalkan puasanya.

Selain wanita hamil dan menyusui, inilah golongan manusia yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Baca selengkapnya di sini. (Ism) 

 

Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi

1 dari 3 halaman

Hukum Puasa untuk Para Pekerja Berat

Dream - Bulan suci Ramadan telah tiba. Selama bulan ini, umat muslim menahan diri dari makan, minum, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa.

Meskipun demikian, puasa tidak bermaksud untuk menghalangi aktivitas harian umat muslim, termasuk aktivitas mencari nafkah. Hal ini disebabkan kegiatan memenuhi kebutuhan hidup, tak kalah wajib dengan puasa di bulan Ramadan.

Saat bekerja di bulan Ramadan, kondisi orang pun beragam. Ada yang segar bugar, ada yang sehat, dan ada yang sakit. Ada pula yang memerlukan tenaga ekstra untuk bekerja.

Lalu, bagaimana hukumnya berpuasa bagi para pekerja berat? Dilansir dari situs nu.or.id, Senin 6 Juni 2016, Syeikh Said Muhammad Ba'asyin, dalam Busyrol Karim, mengatakan pekerja berat, seperti buruh tani, tetap wajib berniat berpuasa di malam hari.

Apabila dia mengalami kesulitan dalam bekerjanya, dia.......Baca selengkapnya di sini.

Mulai Ramadan tahun ini, Dream membuka kesempatan bagi pembaca yang ingin bertanya seputar puasa dan Islam. Jika Anda punya pertanyaan, silakan klik di sini.

2 dari 3 halaman

Hukum Puasa Saat Lupa Mandi Junub, Sah atau Tidak?

Dream - Sebagian dari kita kadang bangun dalam kondisi junub saat subuh, lupa mandi besar setelah berhubungan intim dengan pasangan. Padahal hari itu sudah berniat puasa. Karena belum tahu hukumnya, tak jarang banyak yang membatalkan puasa.

Namun anggapan itu salah. Sebab, Rasulullah Muhammad telah memberi contoh. Dalam hadis, Nabi disebutkan tetap melanjutkan puasa meski bangun dalam kondisi junub.

© dream.co.id

Dan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, ‘Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bangun pagi dalam keadaan junub dari keluarganya, beliau mandi dan melanjutkan puasanya.” [Sahih Bukhari dan Muslim]

Yang dimaksud “ junub dari keluarganya” adalah junub karena melakukan hubungan badan dengan istri. Dalam Alquran, surat Al Baqarah ayat 187, Allah membolehkan suami-istri yang berniat puasa untuk berhubungan badan pada malam harinya.

Orang yang bangun pagi dalam kondisi junub, sementara ia telah berniat puasa pada hari itu, maka diperbolehkan untuk tetap melanjutkan puasanya. Sebab, junub dalam keadaan itu tidak membatalkan puasa.

*Disadur dari buku “ 165 Kebiasaan Nabi” karya Abduh Zulfidar Akaha

3 dari 3 halaman

Hukum Sunah Berbuka Puasa dengan Kurma Diganti Kolak

Dream - Berbuka puasa sangat dianjurkan memakan kurma atau minum air putih. Ini sesuai dengan hadits Rasulullah Muhammad SAW.

" Apabila kamu ingin berbuka, berbukalah dengan kurma. Jika tidak ada, minumlah air putih karena ia suci," (HR At Tirmidzi).

Tetapi, Muslim Indonesia kerap berbuka dengan menu yang telah menjadi kebiasaan turun menurun sesuai daerahnya. Salah satunya adalah kolak.

Jika merujuk pada hadis di atas, maka berbuka disunahkan dengan kurma. Tetapi, apakah sunah tersebut tidak terpenuhi jika kurma diganti dengan kolak atau makanan lain?

Dikutip dari nu.or.id, terdapat pendapat dari Al Mubarakfuri yang tercantum dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi.

" Disyariatkan buka puasa dengan kurma karena ia manis. Sesuatu yang manis dapat menguatkan penglihatan (mata) yang lemah karena puasa. Ini merupakan alasan ('illat) yang paling baik. Adapula yang berpendapat bahwa sesuatu yang manis ini sesuai dengan iman dan melembutkan hati. Apabila 'illat kesunahan buka puasa dengan kurma itu karena manisnya dan dapat memberikan dampak positif, maka hukum ini berlaku untuk semua (makanan dan minuman) yang manis. Demikian menurut pendapat As-Syaukani dan lainnya."

Dari pendapat tersebut, diketahui hadits Rasulullah tidak membatasi berbuka puasa hanya dengan kurma. Hadits di atas berlaku untuk semua jenis makanan yang menekankan pada sifat manis.

Sehingga, berbuka dengan kolak dan apapun makanan manis lainnya tetap termasuk dalam sunah.

Selengkapnya, pada tautan ini.

Beri Komentar