Autopsi Jenazah dalam Tinjauan Syariat

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 9 Januari 2020 14:12
Autopsi Jenazah dalam Tinjauan Syariat
Autopsi merupakan metode untuk mengetahui penyebab kematian seseorang.

Dream - Kematian istri komedian Entis Sutisna atau Sule, Lina Jubaedah, menyedot perhatian publik. Kasus ini mengejutkan karena terjadi secara tiba-tiba.

Keluarga Sule merasa ada kejanggalan pada kematian Lina. Anak sulung Sule, Rizky Febian, melaporkan kecurigaan keluarga atas kematian sang ibu kepada polisi.

Dalam laporannya, Rizky meminta kepolisian untuk menjalankan autopsi terhadap jenazah Lina yang telah dimakamkan. Kepolisian menindaklanjuti laporan tersebut dan membuka kembali makam Lina.

Autopsi merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui penyebab kematian seseorang. Metode ini dijalankan dengan cara membedah mayat.

Lantas, bagaimana status praktik autopsi dalam tinjauan syariat?

 

1 dari 4 halaman

Sebab Dibolehkannya Penundaan Pemakaman

Dikutip dari NU Online, ulama membahas masalah ini dalam bab menunda pemakaman atau menggali kembali kuburan. Autopsi menjadi salah satu sebab tertundanya jenazah dimakamkan serta penggalian kuburan.

Penundaan pemakaman pada dasarnya tidak dibolehkan. Tetapi, larangan ini dikecualikan jika terdapat beberapa sebab yaitu untuk menyucikan jenazah berpenyakit menular, untuk dilakukan autopsi demi penegakan hukum atau keterangan lainnya, untuk menunggu kedatangan wali jenazah, atau menunggu berkumpulnya 40 orang jemaah sholat jenazah.

Hal ini dijelaskan oleh Syeikh Muhammad Khatib As Syarbini dalam Mughni Al Muhtaj ila Ma'rifah Al Fazh Al Minhaj.

" (Dan tidak tunda) pelaksanaan sholat jenazah (karena memperbanyak orang yang menyolatinya) berdasarkan hadis sahih, 'Bersegeralah kalian dengan urusan jenazah.' Dan boleh menanti walinya sebentar selama tidak dikhawatirkan perubahan kondisinya. Peringatan. Ungkapan al-Nawawi tersebut meliputi dua kasus. Pertama, ketika sebelum sholat jenazah telah hadir beberapa orang, maka yang belum hadir tidak perlu ditunggu. Meskipun demikian, al-Zarkasi dan ulama selainnya berpendapat: “ Bila mereka belum mencapai 40 orang, maka ditunggu sebentar agar mencapai jumlah tersebut. Sebab, jumlah jamaah 40 orang ini dianjurkan dalam menyolati jenazah. Dalam kitab Shahih Muslim, terdapat riwayat dari Ibn Abbas, bahwa sungguh beliau menunda shalat jenazah karena menanti jumlah jamaah 40 orang. Disebutkan hikmahnya adalah tiada berkumpul 40 orang jamaah melainkan salah seorangnya adalah wali Allah. Dan hukum 100 orang sama dengan 40 orang, seperti kesimpulan yang diambil dari hadis tadi."

 

2 dari 4 halaman

Soal Autopsi

Sedangkan terkait pembedahan jenazah, Syeikh Wahbah Az Zuhayli menerangkannya dalam Al Fiqhul Islami wa Adillatuh. Dalam kitab tersebut, Syeikh Az Zuhayli menjelaskan mazhab Syafi'i dan Maliki membolehkan pembedahan tubuh mayit dengan beberapa alasan.

Sebab dibolehkannya praktik tersebut yaitu keadaan darurat, untuk kepentingan pendidikan kedokteran, untuk mengetahui sebab kematian, menetapkan pidana (hukuman) atas tersangka pembunuhan.

Juga dibolehkan jika autopsi merupakan jalan satu-satunya untuk mengungkap kasus kejahatan berdasarkan dalil wajibnya penegakan hukum. Sehingga, tidak ada pihak yang terzalimi serta pelaku tidak bisa berkelit dari kejahatan yang sudah dilakukannya.

(ism, Sumber: NU Online)

3 dari 4 halaman

Menerima Hadiah Natal dari Non-Muslim, Bolehkah?

Dream - Umat Kristiani baru saja merayakan Natal. Perayaan tersebut dilakukan dengan berbagai aktivitas. Salah satu aktivitas tersebut yaitu membagikan hadiah.

Tidak hanya kepada sesamanya, ada jug aumat kristiani yang membagikan hadiah kepada tetangga meski berbeda agama.

Mungkin ada sebagian dari kita yang pernah mendapat hadiah Natal dari non-Muslim. Mereka bertujuan untuk membagi kebahagiaan bersama.

Bagi seorang Muslim, apakah boleh menerima hadiah Natal tersebut?

Dikutip dari NU Online, seorang Muslim tidak dilarang bergaul dengan non-Muslim. Tidak ada nash yang tegas memuat larangan tersebut, baik Al-Qur'an maupun Hadis.

Selain itu, seorang Muslim juga dibolehkan menerima hadiah dari non-Muslim. Hal ini tertuang dalam Surat Al Mumtahanah ayat 8.

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

 

4 dari 4 halaman

Ini Penjelasannya

Ibnu Bathal menjadikan ayat ini sebagai dasar dalam pembahasan bab penerimaan hadiah dari orang musyrik. Mengutip riwayat Ibnu Jarir At Thabari, Ibnu Bathal menjelaskan ayat ini turun berkaitan dengan keberadaan kaum musyrik Mekah yang tidak memerangi umat Islam.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah Muhammad SAW pernah menerima hadiah dari non-Muslim. Riwayat tersebut disampaikan oleh Anas bin Malik RA.

Said berkata, dari Qatadah dari Anas RA, sungguh Ukaidir Dumah pernah memberikan hadiah kepada Nabi SAW.

Ukaidir Dumah merupakan penduduk Mekah yang memeluk agama Nasrani. Dia pernah menghadiahi Rasulullah jubah sutra.

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga mengizinkan sahabatnya, Asma binti Abu Bakar, menerima hadiah dari ibunya yang non-Muslim. Hal ini termaktub dalam riwayat Imam Bukhari.

Dari Asma binti Abu Bakar RA, ia bercerita, " Ibuku memberiku sebuah hadiah. Sedangkan ia seorang wanita musyrik di masa Rasulullah. Lalu aku meminta fatwa Rasulullah. Kubilang, 'Ibuku ingin (menyambung silaturahmi.' Lain riwayat 'raghimah' yang berarti benci [kepada Islam]). Apakah aku harus menyambung silaturahmi dengannya?' Rasulullah menjawab, 'Ya, sambunglah tali dengan ibumu'."

Dari riwayat ini, ulama menyatakan kebolehan seorang Muslim menerima hadiah dari non-Muslim. Sehingga praktik tersebut tidaklah dipandang sebagai masalah.

Beri Komentar