Kisah Menegangkan Anak Tentara Jadi Saksi Kekejaman PKI

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Jumat, 1 Oktober 2021 12:00
Kisah Menegangkan Anak Tentara Jadi Saksi Kekejaman PKI
Kekejaman kaum komunis dan suasana yang mencekam tahun 1965, turut dialami saksi hidup asal Kota Solo, Heri Isranto.

Dream - Menjelang pecahnya Gerakan 30 September 1965, banyak peristiwa mengerikan terjadi di Tanah Air. Salah satunya di Kota Solo. Hingga hari ini, kota tersebut kerap mendapat julukan 'daerah merah'.

Kota Solo sejak zaman revolusi identik dengan basis kelompok atau partai kiri, khusunya Partai Komunis Indonesia (PKI). Di saat yang bersamaan, kekejaman PKI juga terjadi di Jakarta dan Yogyakarta.

Kekejaman kaum komunis dan suasana yang mencekam itu, turut dialami saksi hidup asal Kota Solo, Heri Isranto, 66 tahun. Kala itu, warga Jalan Honggowongso, Kelurahan Panularan, Laweyan, Solo, ini masih duduk di bangku sekolah dasar.

 

1 dari 6 halaman

Setiap Hari Ada Insiden Kekerasan di Markas PKI

Tempat tinggal pria yang akrab disapa Gogor itu memang bersebarangan dengan salah satu markas partai berlambang palu arit tersebut. Sehingga hampir tiap peristiwa terjadi, selalu dilihatnya.

" Sampai sekarang masih terekam jelas dalam ingatan saya. Hampir setiap hari di seberang rumah saya itu terjadi insiden pas mau meletusnya (G30S/PKI)," ujar Gogor, dikutip dari Merdeka.com, Jumat 1 Oktober 2021.

Gogor yang saat ini aktif menjadi pengurus NPC (National Paralympic Committee) Indonesia itu mengaku sempat menerima ancaman kekejaman PKI, akibat keusilannya.

 

 

2 dari 6 halaman

Sempat Mendapat Ancaman

Kisah bermula saat peristiwa pembantaian di Jakarta dan Yogyakarta telah terjadi, secara tiba-tiba segerombolan orang berbadan besar dengan tato di seluruh wajah datang ke depan rumahnya.

Melihat kedatangan orang-orang tersebut, ia penasaran dan ingin mengetahui asal-usul mereka. Apalagi wilayah tersebut merupakan halaman depan rumah kakek dan orangtuanya.

" Setelah saya melihat orang-orang itu, salah satu orang memegang ketiaknya dan dioleskan ke hidung saya. Sambil berkata 'hai masuk, minggat kamu'," katanya.

" Naluri saya sebagai anak kolong (anak tentara), spontan orang itu saya tendang. Dia marah dan mengejar saya," katanya lagi.

3 dari 6 halaman

Miliki 3 Kakek Aktivis Keagamaan

Beruntungnya, Gogor kecil diselamatkan oleh tetanggannya dan langsung masuk ke rumah. Seorang tetangga menyampaikan kepada anggota PKI itu agar tidak mengganggunya, karena Heri Gogor merupakan cucu 'ndoro' (ningrat).

Seperti angin lewat, peringatan tersebut tak digubris oleh gerombolan PKI itu. Mereka justru makin marah dan melayangkan ancaman.

" Ndoro-ndoro apa, enggak ada ndoro. Kamu saya sate, tak panggang kamu," ucap Heri menirukan orang tersebut.

Gogor sejak kecil memang tinggal bersama tiga kakeknya. Yakni Mangku Suwiryo, Mangku Sunarto (partisipan PNI) serta Sudiyono (aktivis Muhammadiyah).

" Markas mereka itu kalau sekarang istilahnya seperti DPC (Dewan Pimpinan Cabang) PKI di Solo. Banyak sekali orangnya. Saya masih ingat DN Aidit (pemimpin senior PKI) sering datang ke sana," katanya.

 

4 dari 6 halaman

Anggota PKI dari Luar Solo

Tak hanya dirinya dan keluarga yang kerap mendapat ancaman dari PKI, Gogor juga sering melihat banyak orang yang dibawa ke markas PKI dan mendapat siksaan.

" Sering saya melihat orang dibawa masuk lalu terdengar suara dipukuli. Pokoknya benar-benar biadab," kecamnya.

Selain melakukan penyiksaan, para antek komunis tersebut juga sering membuat bom molotov.

" Saya masih ingat itu, mereka itu tanpa izin, bergerombol bikin molotov. Batu besar itu dinam (dianyam), kemudian botol dikasih minyak dengan sumbu panjang," bebernya.

Dikatakannya, orang-orang yang sering berkumpul di markas PKI bukan warga sekitar. Namun yang pasti mereka anggota PKI dan berasal dari luar daerah.

 

5 dari 6 halaman

Bisa Bernapas Lega

Setelah pecah G30S, Gogor bersama keluarga pun bisa bernapas lega setelah pasukan Komandan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) yang sekarang menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) menyerbu markas PKI di Honggowongso, di awal Oktober 1965.

" Jadi pagi harinya markas PKI di depan rumah saya itu diobrak-abrik sama RPKAD. Dan di situ sudah ada satu truk. Ada dua tetangga saya anggota PKI yang diminta senjatanya dan dibawa," katanya lagi.

Menurut dia, saat itu operasi yang dilakukan RPKAD menumpas antek-antek komunis berlangsung sangat cepat.

" Setelah itu pagi harinya serangan balik ke markas DPC PKI itu. Seingat saya semua dimasukkan ke truk sampai habis, cepat sekali. Setelah itu semua sudah bersih," jelasnya.

6 dari 6 halaman

Dokumen Mengerikan PKI di Solo

Usai peristiwa tersebut, terungkap juga dokumen-dokumen PKI di Solo. Salah satunya dokumen dimana keluarga Heri masuk dalam rencana eksekusi PKI Solo.

" Setelah itu beberapa hari, terbongkar dokumen-dokumen PKI. Mereka akan mengeksekusi keluarga saya, H Sangidoe dan H Asngat, itu ada semua. Untung RPKAD cepat datang ke Solo," tuturnya.

Dalam dokumen tersebut, lanjut Gogor, keluarganya sudah disiapkan lubang di Makam Bergola, Tipes.

" Sudah dibuatkan semacam lubang besar untuk keluarga saya. Kalau saat itu sudah dewasa mungkin saya takut. Sampai hari ini saya merinding kalau ingat," katanya lagi.

" Terbukti dokumennya PKI bahwa keluarga saya, (ayah dari pendiri Ormas Mega Bintang, Mudrick M Sangidoe) masuk dalam daftar eksekusi mereka dan dibuatkan lubang untuk mengubur semua," ujar dia.

Keluarganya menjadi sasaran pembunuhan PKI karena ketiga kakeknya merupakan tokoh agama saat itu. Gogor menyebut pengalaman pahit itu menjadi cerita yang tidak bisa dilupakan, dan bersyukur ia bersama keluarga masih dilindungi Allah SWT.

" Harapan saya jangan sampai komunis itu tumbuh lagi di Indonesia. Itu sangat membahayakan, karena saya sudah ikut mengalami sendiri," tutup Heri.

Sumber: merdeka.com

Beri Komentar