Aksi Kapolres di Kaltim Ini Panen Pujian

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 10 Oktober 2016 08:16
Aksi Kapolres di Kaltim Ini Panen Pujian
Kapolres Malinau mengantarkan ibu dan anak ke sekolah, daripada harus berjalan kaki 2 km.

Dream - Mobil dinas sejatinya dibeli menggunakan uang rakyat. Maka sewajarnya rakyat bisa merasakan naik mobil dinas.

Hal ini tampaknya disadari betul oleh Kapolres Malinau, Kalimantan Timur, AKBP Wiwin Firta. Dia tertangkap kamera menawarkan tumpangan pada ibu dan anak yang berjalan kaki.

Saat melintas di jalan, Wiwin melihat ada ibu dan anak berseragam SD tengah berjalan kaki. Wiwin yang tengah mengendarai mobil dinas Kapolres mengentikan mereka.

Percakapan Wiwin dengan sang ibu diunggah oleh pemilik akun Rio Dwi Pamungkas.

" Pagi Ibu, mau ke mana, Ibu?" tanya Wiwin.

" Ini, Pak. Saya mau antar anak sekolah," jawab si ibu.

" Sekolah di mana anaknya, Bu?" tanya Wiwin lagi.

" SD 03, Pak. Kurang lebih 2 kilometer, Pak, dari rumah. Ini takut mau terlambat juga, Pak," kata si ibu.

" Sudah, Bu, biar ikut mobil saya, Bu," kata Wiwin. (Ism) 

(ism)

" Maaf, Pak. Saya tidak enak. Takut naik mobil polisi, Pak," kata si ibu.

" Kenapa harus takut, bu? Mobil dinas juga untuk rakyat karena dibeli dari uang rakyat. Silakan masyarakat yang membutuhkan bantuan polisi dapat menghubungi kepolisian terdekat dan kami sangat senang dapat membantu masyarakat, Bu," kata Wiwin.

1 dari 3 halaman

Tatkala Tukang Sapu Sederajat dengan Kapolda

Tatkala Tukang Sapu Sederajat dengan Kapolda © Dream

Dream - Senin, 29 Juni 2015 menjadi hari yang tidak biasa bagi seluruh jajaran anggota Polda NTB. Di hari itu, seorang tukang sapu bisa berdiri di hadapan ribuan anggota polisi, sejajar dengan Kapolda Nusa Tenggara Barat NTB pada apel pagi.

Kapolda NTB Brigjen Pol Umar Septono sengaja menghadirkan tukang sapu pada apel pagi itu. Dia ingin mengingatkan kepada seluruh anggotanya tentang pentingnya menghargai mereka yang berprofesi lebih rendah.

Umar ingin menunjukkan bagaimana kisah keteladan itu datang. Tidak melulu dari orang-orang besar, keteladanan bisa hadir dari orang-orang kecil.

" Di mana dunia, tukang sapu mungkin adalah strata terendah, tapi di mata Tuhan beliau ini lebih tinggi dari saya, bahan mungkin dari kalian semua," ujar Umar di hadapan seluruh anggotanya.

Ikuti : Berita Jatuhnya Pesawat Hercules

Umar mengatakan, tukang sapu tersebut sudah mengabdi sejak lama di lingkungan Mapolda NTB. Berpendapatan Rp500 ribu perbulan dan bekerja sejak pukul 04.30 WITA, tukang sapu tersebut begitu ikhlas meski banyak anggota polisi yang membuang sampah.

" Apa kita tidak malu seperti itu? Bahkan kita telah menzolimi beliau," kata dia.

Lebih lanjut, Umar mengingatkan tugas yang diemban oleh setiap polisi merupakan titipan Tuhan. Sejatinya, melalui tugas tersebut dia berpesan kepada anggotanya agar menjalankan pekerjaan sebagai bentuk ibadah.

Baca Juga : Menantang AllahDewi Sandra Temukan Mukjizat

Sumber: facebook.com/Divisi Humas Mabes Polri

2 dari 3 halaman

AKBP Ulung, Kapolres yang Ingin Jadi Marbut Masjid

AKBP Ulung, Kapolres yang Ingin Jadi Marbut Masjid © Dream

Dream - Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ulung Sampurna Jaya. Inilah polisi yang bercita-cita mengabdi pada agama saat pensiun nanti. Kapolres Cilacap, Jawa Tengah, ini ingin menghabiskan masa tua di masjid, mendekatkan diri kepada Allah.

" Kelak, saya ingin lebih banyak menghabiskan waktu di masjid," tutur Ulung sebagaimana dikutip Dream dari Fanspage Facebook Divisi Humas Polri, Rabu 10 Fabruari 2016.

" Mungkin, setelah nanti saya pensiun akan menyenangkan jika saya bisa mengabdikan diri, semisal menjadi pembersih masjid, hal ini saya pandang mulia," tambah dia.

Saat ini, Ulung masih berkutat dengan tugasnya di korps kepolisian. Dia tengah memerangi peredaran minuman keras dan perjudian yang meresahkan masyarakat. Dia bertekad menciptakan Cilacap sebagai wilayah "  zero judi" dan "  zero miras" .

" Perjudian dan miras merupakan penyakit masyarakat yang mesti diperangi sebelum kekacauan dan keambrukan masyarakat semakin meraja rela," ucap dia.

Ulung tak main-main dengan janjinya. Pengungkapan kasus perjudian tak pernah berhenti. Pemberantasan peredaran minuman keras terus dilakukan. Dia sadar, kondusifitas tak dimulai dari titik nol.

Oleh karena itu, Ulung tidak hanya mengingatkan masyarakat, tapi juga kepada anggotanya. Dia tidak akan memberi toleransi kepada jajarannya yang terlibat kasus judi dan peredaran minuman keras.

" Bagi oknum anggota yang tertangkap tangan ikut main judi, terbukti menjadi backing perjudian, ataupun peredaran miras, mesti berhadapan dengan hukum," tegas Ulung. 

3 dari 3 halaman

Kapolres Dihukum Push Up di Depan Ratusan Anak Buah

Kapolres Dihukum Push Up di Depan Ratusan Anak Buah © Dream

Dream - Pemandangan unik terlihat saat apel pagi di Mapolres Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Kamis 9 Juni yang lalu. Sang Kapolres, AKBP Arya Perdana, dihukum push up di hadapan ratusan anak buahnya. Lho kok?

Hukuman itu karena apel pagi itu terlambat tujuh menit dari jadwal seharusnya. Dan Arya Perdana merasa bertanggung jawab atas keterlambatan apel yang disebabkan oleh para personelnya, dia menghukum dirinya sendiri.

“ Tidak ada anak yang salah, yang salah adalah orang tuanya. Tidak ada anggota yang salah, yang salah adalah komandannya,” kata Arya, dikutip Dream dari laman Tribrata News Minahasa Selatan, Senin 13 Juni 2016.

Sebagai pimpinan, Arya mengaku bertanggung jawab atas semua hal yang menyangkut tindakan setiap personel. Menurut dia, untuk menjadi polisi yang baik, harus dimulai dengan mengubah perilaku diri sendiri.

“ Sungguh hal yang mustahil kita bekerja melayani masyarakat, sementara kita tidak datang tepat waktu, kita harus mengakui bahwa apa yang kita lakukan saat ini merupakan wujud pengingkaran terhadap jati diri kita, polisi yang adalah pelopor ketertiban di ruang publik,” tegas dia.

Setelah arahan itulah, Arya melepas topi. Dia langsung mengambil sikap push up. Melihat pimpinannya melakukan push up, seluruh personel Polres Minahasa Selatan pun langsung mengikutinya sebagai wujud kebersamaan dan bukti soliditas.

“ Saya sangat mengharapkan, keterlambatan pelaksanaan apel pagi ini adalah yang pertama dan yang terakhir terjadi di lingkungan kita,” ujar Arya.

“ Buktikan bahwa kita mampu berubah, tunjukan bahwa kita bisa menjadi polisi-polisi yang memiliki nilai, memiliki harga diri dan memiliki tanggungjawab yang tinggi untuk melayani, melindungi dan mengayomi masyarakat,” tambah dia.

Beri Komentar