Jejak Dakwah Kiai Basith, Pejuang Quran di Kaki Gunung Ciremai

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Jumat, 29 Mei 2020 11:01
Jejak Dakwah Kiai Basith, Pejuang Quran di Kaki Gunung Ciremai
Rumah Tahfidz Al-Basityah yang baru berjalan tujuh bulan itu harus diliburkan karena dampak pandemi Covid-19.

Dream - Kiai Basith memang sudah tak muda lagi. Tetapi, semangatnya untuk berdakwah tak pernah padam. 

Di usianya yang setengah abad lebih, Kiai Basith tak pernah berhenti mendawamkan Alquran. Terutama kepada generasi muda yang akan menjadi penerus dakwah Islam. 

Kiai Basith yang saat ini berusia 56 tahun menjadikan rumahnya di Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat sebagai rumah tahfiz. Di rumah yang dinamai Rumah Tahfiz Al Basityah tersebut, Kiai Basith membimbing para santri segala usia untuk belajar dan menghapal Alquran. 

Rumah tahfiz yang terletak di kaki Gunung Ciremai itu sudah beraktivitas 7 bulan lamanya. Sayang, pandemi Covid-19 memaksa rumah tahfiz tersebut tutup untuk sementara waktu.

" Sudah tidak ada kegiatan santri menghafal sama sekali sejak dua pekan sebelum diberlakukannya PSBB di wilayah Kuningan," ujar Kiai Basith.

 

1 dari 5 halaman

Tak Semua Punya Gadget

Aktivitas menghapal Alquran di lingkungan tempat tinggalnya pun terhambat. Apalagi, banyak santri maupun walinya tidak memiliki gadget sehingga tidak bisa belajar secara online. 

" Wali santri ataupun santrinya tidak semuanya memiliki gadget, jadi kegiatan online juga tidak ada," ucap Kiai Basith.

Kyai Basith menjadi salah satu guru ngaji di wilayah pelosok yang telah mengajarkan Alquran. Atas semangat dakwah yang begitu tinggi, PPPA Daarul Quran memberikan apresiasi berupa bingkisan Ramadhan.

Kiai Basith© Daarul Quran

Kiai Basith menerima bingkisan Ramadhan dari Daarul Quran Cirebon (Istimewa)

Penyaluran bingkisan rupanya tidaklah mudah. Tim Daarul Quran Cirebon harus menempuh medan yang cukup sulit untuk sampai di rumah Kiai Basith. 

Ditambah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Kuningan menjadi kendala tersendiri. Banyak jalan ditutup sehingga tim harus mencari alternatif jalur.

" Beberapa kali memutar jalan melewati daerah yang jauh dikarenakan akses masuk desa ditutup warga guna menghindari penyebaran wabah," ujar salah seorang tim program PPPA Daarul Quran Cirebon, Syauqi Fahrizal.

 

2 dari 5 halaman

Daarul Quran Dampingi Guru Ngaji

Direktur Utama PPPA Daarul Quran, Abdul Ghofur, mengatakan selama Ramadhan dan masa pandemi Covid-19 pihaknya aktif mendampingi para guru ngaji di hampir seluruh pelosok nusantara.

Ini adalah upaya Daarul Quran untuk menjaga semangat para guru ngaji agar tetap istiqamah mendakwahkan Alquran.

" Inti gerak dari Laznas PPPA Daarul Quran adalah dakwah tahfizul Quran. Sehingga, kami berusaha membersamai para guru ngaji ini, seperti Kiai Basith, untuk melalui masa krisis Covid-19 dengan memberikan bantuan guna memenuhi kebutuhan pokok mereka," kata Ghofur.

Dia melanjutkan para guru ngaji ini telah banyak berjasa mengajarkan anak-anak bisa mengeja huruf hijaiyah. " kami ingin menjaga api semangat dakwah mereka tetap menyala meski kelas-kelas pengajian diliburkan," tutup dia.

3 dari 5 halaman

Doa Santri Tahfiz Quran untuk Kebaikan Negeri

Dream - Tak hanya Indonesia, kondisi dunia juga tengah mengalami situasi yang bergejolak. Seperti terjadinya ketegangan politik hingga bencana alam dan teror kesehatan seperti virus corona di Wuhan, Hubei, China.

Situasi ini sedikit banyak memberikan pengaruh kepada Indonesia. Meski belum ditemukan kasus infeksi corona, Indonesia tetap waspada dan melakukan sejumlah langkah penanggulangan.

Menyikapi hal itu, para santri tahfiz Alquran Rumah Tahfiz Center serta Pesantren Tahfiz Alquran Takhassus menggelar khataman akbar juga doa untuk negeri. Para santri melangitkan doa dan harapan agar Indonesia dijauhkan dari bencana, musibah maupun wabah penyakit.

Daarul Quran© istimewa

Direktur Utama PPPA Daarul Quran, Abdul Ghofur, mengatakan ada lebih dari 37 ribu santri mengikuti gelaran khataman Alquran serta buka puasa bersama yang dilaksanakan di 1.000 rumah tahfiz dan pesantren takhassus di seluruh Indonesia.

" Pada kesempatan ini, santri-santri kamu memanjatkan doa terbaik bagi negeri ini dan para donatur yang terus membersamai perjuangan dakwah tahfidzul Quran," ujar Ghofur, melalui keterangan tertulis diterima Dream.

Ghofur melanjutkan, para santri juga mempersembahkan doa istimewa kepada para donatur. Setiap harapan yang dititipkan para donatur dipegang para santri untuk dibacakan dan didoakan.

Daarul Quran© istimewa

Selain itu, para santri juga melaksanakan ibadah sunah puasa Senin-Kamis. Ghofur berharap doa-doa mereka diijabah oleh Allah SWT.

" Terima kasih kepada masyarakat yang terus membersamai PPPA Daarul Qur’an dalam perjuangan dakwah tahfidzul Quran. Semoga Allah mengabulkan segala hajat dan senantiasa memberikan keberkahan para donatur. Insya Allah setiap ayat yang dibacakan dan dihafal para santri, mengalir pula pahalanya untuk donatur," kata Ghofur.

4 dari 5 halaman

Usia Masih Belia, Gadis Ini Sudah Hafal 30 Juz Alquran

Dream - Usia Risa Sri Rizkiyah masih belia. Baru 16 tahun. Meski begitu, dia sudah punya prestasi membanggakan, hapal 30 juz Alquran.

Risa sudah dua tahun meninggalkan kampung halamannya di Garut, Jawa Barat, dan menjadi santriwati Pesantren Tahfiz Khusus Yatim Daarul Quran Takhassus Tegal, Jawa Tengah.

Keputusannya merantau karena ingin mewujudkan cita-cita menjadi seorang tahfizah, muslimah penghafal Alquran. Motivasi utamanya adalah orang tua.

" Biar bisa menolong orang tua karna belum tentu di dunia kita bisa membahagiakan mereka tapi dengan hafalan Quran kita bisa jadi penolong mereka di akhirat," ujar Risa dalam keterangan tertulis diterima Dream dari Daarul Quran.

Risa ingin mempersembahkan hadiah terbaik kepada orang tuanya, berupa hapalan Alquran. Dia juga mengharapkan ridho dan keberkahan dari Allah SWT.

5 dari 5 halaman

Pertahankan Hapalan

Sejak kecil Risa memang sudah dikenalkan dengan Alquran. Saat duduk di bangku kelas 3 SD, Risa meraih juara 3 lomba hafalan Juz 30.

Risa kini menjadi motivasi bagi kakak dan adiknya. Mereka ingin mengikuti jejak Risa menjadi hafizah.

Di keluarnya, Risa bukan anak pertama yang menghapal Alquran. Tetapi, dia jadi satu-satunya anak yang sudah hapal genap 30 juz.

" Yang sulit dari menghapal adalah menjaganya, insyaallah sekarang harus lebih banyak waktu lagi untuk murajaah," tutur Risa.

Hingga saat ini, terdapat 302 santri yang menghapal Al-Quran di Pesantren Tahfiz Daarul Quran Takhassus yang tersebar di seluruh Indonesia. Para santri tengah berjuang mewujudkan cita-cita meraih keberkahan dunia akhirat.

Beri Komentar