Muslim Masuk Rumah Ibadah Agama Lain, Bagaimana Hukumnya?

Reporter : Ahmad Baiquni
Sabtu, 21 September 2019 18:02
Muslim Masuk Rumah Ibadah Agama Lain, Bagaimana Hukumnya?
Setiap umat beragama butuh rumah ibadah untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan.

Dream - Setiap agama memiliki rumah ibadahnya masing-masing. Rumah ibadah tersebut tentu difungsikan untuk memuji nama Tuhan.

Tentunya, terdapat ketentuan yang berlaku di masing-masing rumah ibadah. Terutama berkaitan dengan prosesi ibadah masing-masing agama.

Ketika prosesi ibadah berlangsung, masing-masing umat membutuhkan suasana yang tenang. Ini agar prosesi ibadah bisa berjalan dengan khidmat.

Masing-masing rumah ibadah tentu bisa dimasuki setiap orang. Tetapi, terdapat pemahaman di sebagian Muslim bahwa masuk ke rumah ibadah agama lain terlarang.

Lantas, apakah pemahaman ini sepenuhnya benar?

Dikutip dari NU Online, ulama yang juga pengajar pada Universitas Cornell Australia, KH Nadirsyah Hosen, membuat artikel yang menguraikan masalah ini dengan cukup jelas.

Ulama yang akrab disapa Gus Nadir ini menerangkan tidak ada nash, baik dalam Alquran maupun Hadis, yang secara tegas memuat larangan masuk ke rumah ibadah agama lain.

 

1 dari 5 halaman

Wilayah Interpretasi Ulama

Perkara ini sebenarnya masuk wilayah interpretasi atau penafsiran para ulama. Sehingga, sangat wajar ditemukan adanya perbedaan antara ulama satu dengan lainnya.

Masalah ini dibahas dalam Mausu'ah Fiqh Kuwait. Kitab yang merupakan ensiklopedia fikih ini memuat pembahasan mengenai hukum seorang Muslim masuk ke rumah ibadah agama lain.

Dalam penjelasan pada kitab itu, sedikitnya ada empat pandangan berbeda dari ulama.

Pertama, diketengahkan Mazhab Hanafi, menyatakan makruh hukumnya bagi Muslim masuk rumah ibadah agama lain seperti sinagog dan gereja.

Kedua, pandangan yang dipegang Mazhab Syafi'i menyatakan tidak boleh seorang Muslim masuk rumah ibadah agama lain kecuali atas izin non-Muslim. Tetapi, sebagian ulama di mazhab ini juga menyatakan tidak haram masuk tempat ibadah non-Muslim, dengan atau tanpa izin dari mereka.

 

2 dari 5 halaman

Pandangan Mazhab Hambali serta Ibn Taimiyah dan Aqil

Ketiga, diketengahkan Mazhab Hambali, yang menyatakan boleh masuk sinagog dan gereja maupun rumah ibadah lainnya. Bahkan mazhab ini membolehkan sholat di dalam rumah ibadah itu, meski tanpa izin dari non-Muslim. Tetapi, sholat di tempat ibadah non-Muslim menjadi makruh jika terdapat gambar di dalamnya, menurut pendapat Imam Ahmad.

Pandangan keempat, yang disampaikan Ibnu Taimiyah menyatakan tidak mengapa masuk ke sinagog dan gereja maupun sholat jika tidak ada gambar di dalamnya. Tetapi, Ibn Aql menyatakan makruh karena ada gambar.

Masing-masing pendapat ini memiliki dasar. Yang menyatakan boleh, menggunakan riwayat Ibnu Umar dan Abu Musa seperti dikisahkan banyak ulama. Sedangkan yang memakruhkan menggunakan riwayat dari Ibn Abbas dan Malik, yang menyatakan sholat di dalam sinagog dan gereja makruh karena ada gambar.

Artinya, setiap pendapat bisa kita gunakan. Karena masing-masing memiliki dasar yang sama kuat sehingga bisa kita jadikan hujjah atau landasan bersikap.

(ism, Sumber: NU Online)

3 dari 5 halaman

Lafal Doa yang Dilarang Rasulullah, Jangan Pernah Terucap!

Dream - Doa adalah senjata bagi seorang mukmin. Mukmin yang tengah berdoa seperti mengetuk pintu langit agar semua harapan dapat terwujud.

Segala permohonan seorang hamba kepada Rabb-nya demi meraih karunia-Nya dipanjatkan lewat doa. Memohon rahmat dan kebaikan disertai sikap merendahkan diri atau tawadhu dan senantiasa mengagungkan Dzat Tuhan.

Tak hanya itu, doa juga perintah langsung dari Allah kepada semua hamba-Nya yang memiliki keinginan dan harapan. Allah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada hamba-Nya untuk memohon apapun.

Tetapi, Allah hanya membolehkan setiap doa tertuju pada-Nya, bukan pada lainnya. Karena hanya Allah yang memiliki kuasa untuk mewujudkan segala sesuatu.

Perintah tersebut merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Doa menjadi sarana seorang hamba berinteraksi langsung dengan Rabb-nya.

Dengan doa pula, seseorang dapat meraih ketenangan jiwa, kedamaian, maupun kesejahteraan hidup. Rasulullah Muhammad SAW bersabda demikian.

Doa adalah senjata orang yang beriman, pondasi agama, dan cahayanya langit dan bumi.

4 dari 5 halaman

Adab Doa

Rasulullah sudah mengajarkan banyak sekali doa bagi umat Islam. Misalkan, doa saat akan makan, memulai perjalanan, berlindung dari dosa dan kemaksiatan, terhindar dari bencana, hingga meraih rezeki berkah dan berlimpah.

Namun demikian, ada doa yang dilarang oleh Rasulullah. Doa ini tidak boleh diucapkan oleh semua orang.

Larangan ini terkait dengan adab dalam berdoa. Di antara sekian adab, beberapa di antaranya seseorang harus meyakini Allah akan mengabulkan doanya, selalu berprasangka baik kepada Allah saat berdoa, khusyu', memuji Allah, bershalawat kepada Rasulullah, menghadap kiblat, memohon ampun, dan lain sebagainya.

 

5 dari 5 halaman

Lafal Doa yang Dilarang

Sedangkan doa yang dilarang, yaitu doa yang isinya terkesan menghina Allah. Lafal doa yang dilarang itu adalah sebagai berikut.

 Lafal Doa Dilarang Rasulullah

Allahummagh firli in syikta, Allahummar hamni in syikta.

Artinya,

" Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau berkenan, Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau berkenan."

Lafal ini mengandung makna penghinaan kepada Allah. Dengan mengatakan 'jika Engkau berkenan" sama dengan menganggap Allah tidak akan mengampuni atau merahmati hamba-Nya.

Hal ini bertentangan dengan sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dalam hadis Qudsi, dijelaskan rasa sayang Allah kepada hamba-Nya mendahului murka-Nya, sehingga Allah lebih suka menyayangi dan mengampuni hamba-Nya.

Jadi, jangan pernah melafalkan doa seperti di atas. Yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan segala permintaan kita.

Sumber: Islami.co

Beri Komentar